bisa gak?

559 23 0
                                        

Kedua manik mata hitam itu berbinar kala aku memasuki mobil pick up nya dengan membawa dua cup es kelapa muda yang di pintanya tadi.

Sudah seminggu ini sejak kami memutuskan untuk menjadi teman senyum Jingga bahkan tak pernah luntur, wajahnya berseri bak seperti orang yang tengah jatuh cinta. Beda denganku yang semakin hari malah semakin kusut gak karuan karena memaksakan bersikap untuk lebih perhatian padanya sebagai balas budi.

"Makasih kang," ujarnya saat aku memberikan satu cup es kelapa muda itu padanya.

Aku mengangguk lalu kembali keluar untuk memastikan semua belanjaan sudah berada di mobil tanpa kelewat satu pun.

"Oke, aman" gumamku setelah memastikannya dan kembali lagi memasuki kemudi mobil pick up tersebut.

"Kang, habis ini kita mampir dulu ya ke tukang bakso langgananku"

Aku menghela nafas dalam saat suara Jingga kembali terdengar menyambut kedatanganku.

"Dimana?" tanyaku agak ketus. Bukan apa, takutnya cibiran yang keluar dari mulut karyawan mini market tadi kembali terulang di kedai bakso soalnya sekarang tubuh kami sudah lengket di telinga, dan ku cium aroma tubuhnya juga agak menyengat, untungnya aku memakai masker jadi agak sedikit terselamatkan sih.

"Di dekat rumahnya a Ujang, kang. Baksonya disana enak, Jingga suka" jawabnya antusias.

Aku mengangguk, emang bakso dekat rumahnya si Ujang paling the best, bukan hanya langganan Jingga saja itu mah tapi juga aku kalau lagi main kerumah si ujang.

"Di bungkus ya, gak usah makan disana" pintaku dengan mencoba untuk fokus menatap jalanan.

"Kenapa? Padahal enak makan ditempat loh,"

Aku menghela napas pelan, mencoba menenangkan diri. Suara Jingga yang ceria tiba-tiba terasa begitu mengganggu. Entah kenapa, rasanya segala hal yang biasa menyenangkan kini seperti membawa beban yang berat. Aku menatap jalanan, melirik sejenak ke arah kanan. Ada sebuah toko roti yang sering aku lewati, dan itu mengingatkanku pada kenangan yang mulai memudar.

"Ya, gitu deh," jawabku sambil sedikit menghindar, "Pokoknya aku lebih nyaman kalau bungkus aja. Biar tenang makannya," alibiku. Padahal aslinya aku ingin menyemalatkannya dari cibiran orang-orang tentang ke kurangannya.

Jingga terdiam sejenak. Aku bisa merasakan matanya yang tertuju padaku, seolah ingin mengatakan sesuatu, mungkin ia ingin menolak. Tapi nyatanya ia hanya mengangguk pelan, sepertinya mengerti. Aku mencoba kembali fokus pada jalanan.

Mobil pick up melaju dengan pelan, memasuki jalanan yang agak sempit menuju kawasan tempat dimana si Ujang tinggal.  Ku perhatikan sedari perjalanan tadi, Jingga agak banyak diam. Tak ada obrolan lagi diantara kami setelah permintaan bakso tadi, kulihat Jingga duduk dengan tenang di sampingku, memandang ke luar jendela. Tapi sesekali, aku bisa melihat dia mengernyitkan dahi, seperti sedang berpikir keras, Entah apa.

"Jingga," aku akhirnya memulai percakapan, merasa canggung dengan hening yang semakin lama semakin menekan.

Jingga menoleh, senyum tipis kembali menghiasi wajahnya. "Iya kang, kenapa?"

"Kamu nggak masalah kan kalau kita makan di rumah aja? Aku lagi nggak mood makan di luar."

Enggak apa-apa kok, Kang. Aku ngerti." Suaranya tetap lembut, meski ada nada kecewa yang samar.

"Maaf ya, emang biasanya kamu kalau beli bakso disana suka makan di tempatnya?" tanyaku berusaha mencairkan suasana.

Jingga mengangguk, "iya, selalu."

"Kebetulan saya juga suka bakso disana, enak. kuahnya khas," jujurku memberitahunya, walau info itu tidak penting untuknya.

"Jingga tau kok kang, emak kan sering cerita tentang akang"

Aku mendengus kesal, kembali fokus pada jalanan. Lupa kalau emak itu seorang informan yang paling penting untuknya untuk mengetahui apa pun termasuk aku, anaknya emak yang dulu pernah di promosikan padanya sebagai calon suami. Gila sih, tapi ya gimana namanya juga orang tua ya pasti selalu saja ingin memuji kelebihan anak-anaknya pada orang lain.

"Akang sukanya kuah bakso yang asam manis pedas kan?" tanyanya.

Aku berdecak malas, jadi tak berselera untuk membahasnya. Niat hati biar gak terlalu canggung malah dibuat kesal dengan kenyataan bahwa Jingga tau semuanya tentangku.

"Emak dulu sering cerita apa saja sama kamu?" Tanyaku penuh intimidasi.

Dengan polosnya, ia merubah posisi duduknya jadi mengahadap kearahku. Kedua kakinya bahkan sudah duduk bersila di atas kursi.

"Banyak, Jingga bahkan ampe bosan loh dengarnya tapi jingga beruntung sih. Jika bersyukur, rupanya itu cara allah untuk mendekatkan jingga pada jodoh jingga sendiri. Jadi gak kaget sih kalau ada tingkah random akang yang nyeleneh, soalnya emak tiap hari cerita kalau pagi ini akang lagi gak mood lah, lagi ngerayu bapak lah, sampai akang nangisin sahabat akang aja Jingga tau" jelasnya antusias.

"Kapan, nangisin yang mana? Emak ngaco itu," aku terkekeh berusaha untuk berbohong.

"Itu loh tetangga, kata emak abang cinta mati banget ya sama dia?"

Aku hampir terbatuk mendengar pertanyaan itu. "Hah? Cinta mati? Ngaco banget!" jawabku, mencoba menyembunyikan perasaan yang mulai bergejolak di dalam dada. Jingga hanya tertawa kecil, seolah bisa merasakan ketegangan di udara, namun wajahnya tetap cerah seperti biasa.

"Emak kan sering cerita kalau akang itu gampang banget cemburuan," lanjut Jingga dengan nada bergurau, "terus katanya seringkali nggak bisa jauh-jauh dari dia. Tapi alhamdulillah ya kang, sekarang ada kemajuan abang gak galau lagi"

Aku menatap lurus ke depan, mencoba fokus pada jalan, meski pikiranku mulai kacau. "Aduh, jangan percaya aja sama omongan emak. Kadang dia suka lebay. Apalagi kalau udah ngomongin soal cinta," jawabku sambil tersenyum kecut. Aku berusaha mengendalikan diri agar tidak terlalu terlihat gugup. Semua ini terasa semakin absurd.

Jingga terdiam sejenak, tangannya terulur mengusap pahaku. "Kang, sedikit saja lah ada gak cinta untuk Jingga? Atau cinta akang habis untuk perempuan itu ya?

Aku menoleh cepat ke arahnya, dan matanya yang penuh tanya itu langsung membuatku terdiam. "Kamu ngemis ini?" candaku berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

Dengan seriusnya Jingga menggeleng. "Bisa gak kang, cintai Jingga seperti emak menyayangi Jingga"

Kira-kira kang ahmad bisa gak ya mencintai juragan jingga?

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang