Sebuah pengakuan

686 45 12
                                        

jingga pov

Sudah seminggu sejak aku memutuskan untuk tidur terpisah, sejak itu pula aku berusaha merubah diriku sebisa mungkin dengan didukung oleh emak yang rupanya benar-benar memegang ucapannya.

Hari itu, emak begitu gencar membuatkan ramuan anti bau badan untuk ku. Bukan hanya itu, emak juga yang membawaku konsultasi ke dokter kulit untuk mengatasi bau badan ini yang kupikir akan sembuh sendiri, tapi nyatanya malah semakin bau. Ieuhhh, pantesan aja kang ahmad enggan menyentuhku bahkan aku sendiri pun sekarang merasa jijik.

"Tapi tidak ada penyakit yang serius kan dok?" Emak bertanya dengan teliti saat kami tengah duduk menghadap dokter spesialis kulit tersebut.

Dokter dihadapan kami tersenyum ramah. Ia menggeleng. "Kasus bu Jingga ini banyak mak, penyebab bau badannya cuma keringat berlebih dan kurang menjaga kebersihan aja. Ini sudah lama ya pola hidupnya kurang bersih?" tanya dokter tersebut di akhir pembicaraan.

Aku menunduk malu. Rasanya ingin menguap dan masuk ke dalamnya. Emak hanya menghela napas pelan lalu menepuk punggung tanganku.

"Ah, namanya juga orang super sibuk dok, menantu saya ini seorang juragan terkenal di kampung. Sibuk ngurus ternak sama ladang dari sejak keluar smp, pas orang tuanya udah gak ada jadi maklumlah kalau dia kurang memperhatikan kebersihan" ungkapnya, mencoba menyelamatkan mukaku yang sudah semerah tomat. Tapi alih-alih membuatku tenang, malah semakin dilanda rasa malu. Emak ini orangnya terlalu terbuka dan jujur sama orang lain. Tolong ... Selamatkan aku dari sini.

Dokter itu tertawa kecil. "Wah rupanya seorang pekerja keras ya, pantes aja. Nggak apa-apa, yang penting sekarang sudah mau berubah. Nanti saya kasih salep, sabun khusus, dan deodorant medis ya. Jangan lupa pola makan juga dijaga. Kurangi makanan berlemak dan perbanyak sayur."

Aku mengangguk cepat. Dalam hati, aku bersumpah untuk benar-benar merawat diri bukan cuma demi Kang Ahmad, tapi demi diriku sendiri. Aku capek merasa rendah diri. Capek merasa tidak layak.

Beberapa hari setelah itu, kamar mandi jadi tempat favoritku. Mandi dua kali sehari yang dulu terasa merepotkan, kini jadi momen menyenangkan. Emak bahkan membelikanku handuk baru warna pink muda dan sabun wangi yang katanya "bikin kamu serasa habis keluar dari salon."

Aku juga mulai belajar pakai make up tipis-tipis, sisiran rapi, dan mengganti daster lusuhku dengan baju rumahan yang lebih pantas dilihat manusia. Pokoknya semenjak hari itu, aku tidak lagi menggunakan baju-bajuku yang lama, ku biarkan saja menggantung di lemari kang ahmad.

Hampir dua minggu aku mengacuhkan kang ahmad, tak pernah menyapanya bahkan menyiapkan kebutuhannya. Aku acuh, dan jarang bertemu dengannya. Hari-hariku lebih ku habiskan di pondok bersama para pekerja sampe larut malam seperti hari ini ditemani Yudi dan adikku.

Malam ini aku masih berdiri di samping kandang sapi, memeriksa catatan kesehatan hewan sambil sesekali melirik ke arah Yudi yang tengah memeriksa suhu tubuh si Doli, sapi jantan yang sudah tua umurnya. Bau khas kandang, rumput segar, dan suara gemericik air dari saluran pipa memenuhi suasana.

"Gimana Yud?" Aku bertanya dengan khawatir, tak biasanya Doli terlihat lemas seperti ini sejak pagi.

Yudi menatapku sejenak sebelum kembali fokus menempelkan termometer ke tubuh Doli. "Suhu tubuhnya naik, Juragan. Bisa jadi masuk angin atau stres. Kemarin sempat lihat dia keganggu sama suara gaduh pas sapi baru datang."

Aku mengangguk, menghela napas panjang. "Kasihan si Doli... dia paling tua di sini. Aku gak mau dia sakit sampai parah."

Yudi berdiri dan menepuk bahu Doli perlahan. "Besok pagi kita kasih jamu sama tambah pakan yang hangat, ya. Kalau gak membaik juga, baru kita panggil mantri hewan."

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang