Ck.
Aku terus berdecak kesal, ketika si Ujang dengan puasnya mengejek keadaanku yang begitu kacau pagi ini.
Bagaimana tidak, aku lupa. Aku pikir semua baju seragamku sudah Jingga setrika nyatanya belum dan sudah dua minggu ini Jingga mengabaikan ku. Bukan penampilanku aja yang kusut rupanya, tapi perasaanku. Jujur sajalah, aku sudah kalah kali ini.
Minggu lalu, kondisiku masih lumayan baik. Hanya telur yang gosong, tapi minggu ini? Bahkan untuk sekadar menyuap nasi ke mulut pun rasanya berat. Sungguh aku tidak ada semangat sama sekali. Jingga benar-benar begitu gencar mengabaikan ku, begitu pun emak. Rupanya, mereka telah bersekongkol. Sial.
"Aduh, Mad! Celana kok kayak serbet digulung? Seragam kusut kayak belum ketemu setrika sejak zaman Belanda! Mau ngajar atau ngamen nih?” ejek Ujang sambil ngakak lepas di ruang guru.
Aku mendengus, menarik kursi dan menjatuhkan diri dengan letih. Satu-satunya hal yang membuatku tidak marah besar adalah... karena parkataan si Ujang ada benarnya juga.
Penampilanku pagi ini benar-benar menyedihkan. Dasi miring, kemeja lecek, celana hampir sobek di ujung, dan—sialnya—aku baru sadar sepatu sebelah kiri masih kotor karena terinjak lumpur kemarin.
"Lu belum nikah kan, Jang? Nah, makanya diem."
Mendengar ucapanku, tawa si ujang malah semakin tergelak. "Lu kenapa dah? Cerita sama gue," titahnya.
Aku menggeleng lesu, bercerita padanya bukan memberi solusi malah yang ada semakin menambah emosi.
"Itulah makannya jangan kebanyakan gengsi, kalau udah cinta ya bilang aja woy bukannya malah so soan gengsian. Ngediamin anak orang kaya gak punya hati!"
Kedua bola mataku menatapnya malas, ini si ujang tau aja apa yang sedang aku permasalahkan.
"Kenapa tuh si Juragan? Udah nyerah ya? Mampus, rasain!" Sambungnya dengan puas.
"Lu tuh teman gue apa si Jingga sih?" tanyaku dengan kesal.
Si ujang terkikik, kedua tangannya bersidekap dada. "Tergantung, ya kalau lu baik berarti lu teman gue. Tapi kalau lu berani nyakitin dia, sory to say gue ada dipihaknya"
"Dipihaknya karena ngincar hartanya doang mah buat apa" sindirku tajam.
Gelak tawa kembali memenuhi ruangan guru yang tersisa hanya aku dan dia. "Terus lu maunya gue gimana? Ngincar hatinya juga?"
Aku mendengus. "Gak boleh, sebesar apa pun kekurangan dia. Gue tetap suaminya!"
"Ialah walapun bau, tapi hartanya banyak mah ya gak papalah gue dukung. Hahaha"
Aku menatap si Ujang tajam, rasanya ingin sekali marah. Tapi dalam hati—aku tahu dia gak sepenuhnya salah. Arghhh sial, perasaan macam apa ini.
"Apa lu mau marah? Udah sih, kan itu kenyataannya. Gue ngajar dulu ya, nanti pulangnya nebeng. Motor gue abis bensin" ujarnya segera beranjak. Aku tidak menggubris, masih diam dengan segala pemikiranku.
Sorenya, sesuai perkataan si Ujang. laki-laki itu benar-benar nebeng di motorku, dan sebagai gantinya aku menyuruh ia untuk membonceng ku saja.
Chit...
Ditengah perjalanan, aku berdecak kesal saat si Ujang mengerem mendadak motor ini membuat kepalaku terbentur helm yang ia pakai.
"Lo apaan sih, kebiasaan banget. Jidat gue sakit nih!" Protesku dengan menggeplak punggungnya. Si Ujang masih diam tak merespon, entah kenapa dan ada apa sebenarnya.
"Kenapa diam? Perjalanan kita masih jauh, ayo buruan jalan. Gue mau buru-buru rebahan capek" tegurku saat tak ada pergerakan lagi darinya.
Tiba-tiba saja si Ujang mengangkat tangannya. "Mad, apa gue gak salah lihat?" tanyanya.
Aku mengerenyitkan dahi heran. "Maksudnya?" Gumamku.
Si Ujang menggeleng, ia buru-buru melepaskan helmnya. "Cantik banget woy, bening" ujarnya dengan diiringi decakan kagum.
Giliran yang bening aja, sigap.
"Gak penting. Ayo cepat jalan, gue cape pengen buru-buru istirahat"
Si Ujang masih diam di atas motor, tidak juga menyalakan mesin. Matanya terpaku pada sesuatu—atau seseorang—yang berdiri di depan gedung Koperasi unit desa atau KUD. Aku kesal setengah mati. Mau rebahan pun jadi urusan yang pelik. Hadehhhh
"Eh, Mad... sumpah, itu bukan si Juragan kan?" bisiknya pelan, nyaris tak terdengar tapi cukup menusuk.
Aku spontan ikut menoleh.
Dan seketika... waktu berhenti.
Langkah perempuan itu pelan. Pakaiannya simpel—celana kain putih gading dan blus biru muda dengan motif bunga-bunga kecil. Rambutnya digelung manis dengan beberapa helai terurai di sisi pipi. Di tangannya ada tas rotan mungil, dan... sepatu sandal yang biasanya hanya kupikirkan dipakai model di iklan sabun.
Aku menelan saliva susah payah, tak percaya dengan apa yang kulihat bersama si Ujang hari ini.
"Gila, cantik bener. Eh tunggu, itu cowok siapa tuh Mad?"
Aku tercekat. Tidak bisa bersuara.
"Mad, fix. Lo kalah." Suara Ujang memecah lamunanku. "Bini lo naik level, bro. Gila sih. Ini mah kayak liat adegan sinetron... bini jelek yang dijahatin terus jadi cantik pas balik."
Aku tidak menjawab. Tenggorokanku tercekat. Mataku masih terpaku pada Jingga bersama lelaki ... Sialan, kenapa tangannya begitu lancang menggandengnya masuk ke ruangan koperasi tersebut.
“Udah, lu mending ngaca, Mad. Kadang-kadang, kita baru sadar punya berlian pas dia udah dilap sama orang lain,” ujar Ujang tiba-tiba dengan nada serius, beda dari biasanya.
Aku terdiam, kedua tanganku mengepal. Sialan si Ujang, bisa-bisanya bikin emosiku meluap-luap.
"Gila sih ini, cuma butuh dua minggu tuh si juragan udah berubah aja kaya kupu-kupu yang baru menetas dari kepongpong. Ini apalagi satu bulan? Satu tahun? Wah mungkin gue juga bakalan rebut dia dari lo mad"
Daun telingaku panas, bukannya meneruskan perjalanan ini malah asik mengoceh. Dasar mulut lemes.
"Jalan jang, gue capek!" peringatku dengan tegas.
"Gak mau samperin?" tanyanya.
Aku menggeleng lemah. "Ayo pulang," ajakku lesu.
Si Ujang mengedikkan kedua bahunya. "Kalau dia selingkuh gimana? Lo yakin rela?" tanyanya.
Aku terdiam sesaat. Rela? Rela katanya?
"PULANG ATAU LU GUE TINGGAL DISINI!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
