pernyataan cinta

563 27 3
                                        

"apa yang kamu lakukan, Sin?"

Aku nyaris saja menjatuhkan kotak makan yang diberikan Sinta, saat suara Jingga mengintrupsi dengan setengah berteriak. Sontak saja aku memutarkan tubuh menghadapnya.

Dengan wajah yang memerah, Jingga berjalan mendekati kami. "Kang?" Jingga bertanya, matanya menuntut sebuah penjelasan.

Emak mendekat, dengan satu rantang di tangannya. "Emak tidak mau ikut campur, kalian selesaikanlah dulu maksudnya apa. Sin, tolong jaga sikap sekarang kalian sudah dewasa. Sudah memiliki pasangan masing-masing, kalian bukan anak kecil lagi" seru Emak.

Aku menghela napas, mencoba menenangkan diri meskipun perasaan kesal mulai meruak. Jingga terus menatapku, seolah menunggu jawaban.

"Kang, kalian sebenarnya ada hubungan apa?" tanyanya Jingga.

Aku menggeleng, sebagai jawaban atas pertanyaan Jingga.

"Sin, kamu udah punya suami loh. Kenapa cium kang ahmad?" tanyanya Jingga semakin mendekat.

Uhuk ...uhuk ...
Teh Ayu yang sedari tadi memperhatikan kini terbatuk-batuk, aku menoleh saat ia berdiri keluar dari meja makan kami.

"Yaelah cuma cium doang itu, kagak usah baper lah. Lagian mereka sahabatan dari kecil maklumlah,"

Semua mata beralih ke Teh Ayu yang tiba-tiba memberikan komentar santainya. Ia tersenyum lebar, mencoba meredakan ketegangan yang tiba-tiba menggantung di udara. Namun, sebaliknya, perkataannya justru semakin membuat suasana menjadi lebih rumit.

Jingga menatap Teh Ayu dengan pandangan tajam, ekspresinya masih dipenuhi kebingungan. "pantaskah begitu teh? Sinta itu orang berpendidikan loh, dia pasti tau batasan mahram, halal dan haramnya!" Jingga berbicara dengan nada yang lebih tegas, namun matanya tetap berkaca-kaca, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.

"Susah banget sih diajak bercanda, ciuman itu cuma... ya, kebiasaan mereka aja dari dulu, bukan apa-apa. Mereka kan sahabatan, dari kecil banget, jadi wajar kalau ada gesture gitu. Nggak usah dibesar-besarinlah" kembali teh Ayu berbicara dengan begitu kesalnya, sementara emak kini sudah menatapku dengan tajam.

Jingga menggeleng, "gak bisa gitu teh. Teteh mending diam aja, Jingga mau minta penjelasan keduanya bukan dari teteh"

Suasana semakin memanas. Aku bisa merasakan ketegangan yang hampir tak tertahankan, seolah setiap kata yang diucapkan semakin menambah beban yang berat. Semua mata kini tertuju padaku, dan aku merasa seolah dunia ini begitu sempit, tak ada jalan keluar selain menghadapi kenyataan yang ada.

Emak, yang sejak tadi hanya diam, akhirnya menghela napas panjang dan meletakkan rantang di meja."Ini masih pagi, jangan bertengkar didepan anak-anak." tegurnya.

Jingga terdiam, ia menunduk begitu dalam. Suasana di ruang makan semakin membeku. Suara perut yang tadinya meronta minta diisi seolah tak terdengar lagi, digantikan oleh ketegangan yang menggantung di udara.Aku bisa melihat bahunya yang bergetar, entah apakah karena marah atau karena perasaan lain yang lebih dalam.

Aku menghela napas panjang, ku tarik lengannya lalu kubawa dia keluar rumah.

"Kang, bekalnya!" teriak Sinta yang ku abaikan kali ini. Kotak bekal yang seharusnya kuterima tadi, kini terabaikan begitu saja, tertinggal di meja. Mungkin, itu adalah hal yang paling tidak penting saat ini. Apa yang lebih penting adalah menenangkan Jingga, yang kini tampak seperti bom waktu yang siap meledak. Gak enak dong ya, sepagi ini sudah ada suara ribut di rumah, apa kata tetangga nanti?

Kami berhenti di gazebo, tepat dibawah pohon rambutan yang cabangnya sudah mulai merunduk ke tanah. Udara pagi terasa panas meski belum terlalu terik, dan aku bisa merasakan keringat mulai menetes di pelipisku. Jingga berdiri dengan punggung membelakangiku, masih menunduk. Matanya tidak menangis, tapi aku tahu, perasaan terluka itu terasa begitu dalam. Entahlah, aku tak tau, apakah dia cemburu?

"Jingga," aku memanggil pelan, berusaha menyentuh bahunya. "Kenapa kamu semarah ini? Gak usah baperlah, lagi pula akang juga gak tau kalau Sinta mau cium akang"

Jingga membalikkan tubuhnya menatapku, kini air matanya sudah menggenang di pelupuk. "Gampang banget ya akang ngomong gak usah baper, Jingga loh ini. Istri akang, Sinta siapa? Cuma sahabat masa kecil tapi kok mudah banget ya buat cium akang. Sementara Jingga? Sebagai istri belum pernah tuh cium-cium akang. Bahkan untuk peluk akang aja, Jingga harus turutin apa kata akang. Harus mandi dulu lah, ini itu dulu lah. Banyak alasan, Jingga gak papa kang digituin tapi ..."

Aku menghela napas, mengacak rambutku kasar. Mengapa hati ini terasa nyelekit ya saat Jingga mengeluarkan segala keresahan dalam hatinya?

"Sudah saya bilang Jingga, saya tidak tau kalau Sinta mau cium saya tadi!" ucapku tegas.

Jingga menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan air mata yang hampir tumpah. "Apa bedanya kang?"suara Jingga akhirnya pecah, terdengar begitu lemah, tapi juga penuh amarah yang terpendam.

"Akang tahu nggak sih, betapa sakitnya merasa nggak dihargai?Kamu tahu nggak kalau selama ini aku sering mikir, kenapa ya aku nggak pernah bisa dekat sama kamu? Kenapa setiap kali aku coba dekat, ada aja alasan yang bikin aku merasa jauh? Cium, peluk, sentuhan, semuanya jadi seperti barang langka buat aku." ucapnya meluap-luap.

"Kang, hubungan kita baru ada kedekatan akhir-akhir ini. Plis, Jingga mohon kasih Jingga kesempatan buat akang jatuh cinta sama Jingga" sambungnya. Kedua telapak tangannya ia lipat di depan dada, seolah meminta agar aku melihat dirinya, memahaminya, dan yang lebih penting, memberi kesempatan untuk membangun hubungan antara kami.

"Cemburunya gak usah keterlaluan sih, lagian kita sepakat buat anggap hubungan ini sebagai teman."

Jingga berdecak kesal. "tapi kita suami istri kang."

"Tanpa ada perasaan?" tanyaku menatapnya dalam.

"Siapa bilang, mungkin akang yang gak ada rasa sama Jingga. Tapi Jingga? Jingga cinta sama akang, jingga selalu ngegoda akang. Turunin harga diri jingga buat akang sampai menawarkan diri ini ke akang. Apa itu bukan cinta kang? Jingga rela loh, semua yang jingga miliki di berikan ke akang. Apa itu belum cukup?"

Aku terdiam, mencoba memahami pernyataan Jingga saat ini. Apakah itu benar? Jingga mencintaiku? Tunggu dulu, sejak kapan? Bukankah ia menerima pinanganku hanya karena sudah lelah akan cibiran para tetangga yang menyebutnya sebagai perawan tua. Itukan maksudnya?

"Ma ... Maksud kamu?" Aku kembali bertanya, memastikan jika pernyataannya tidak salah ku dengar.

Jingga mendekat, genggaman tangannya ia lepaskan lalu dengan tidak sopannya ia memelukku.

"Jingga mencintai akang, sangat" jujurnya.

Aku terdiam, terkejut dengan pelukan Jingga yang tiba-tiba. Tubuhku kaku, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Perasaan yang bercampur aduk memenuhi dadaku, antara bingung, cemas, dan entah apa lagi. Haruskan aku senang dengan pernyataan ini? Ah, ini justru semakin membuatku rumit saja.

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang