kebiasaan

653 18 0
                                        

Aku memperhatikan Jingga yang kini tengah asik bermain dengan anak-anak panti sekaligus kedua keponakanku di taman selepas acara tahlil mengenang kepergian kedua orang tuanya berakhir. Sementara emak masih asik mengobrol dengan pemilik panti.

Semakin di perhatikan, semakin membuatku merasa heran sendiri. Mengapa anak-anak panti bisa sedekat itu dengan Jingga, padahal bau ditubuhnya pasti cukup mengganggu indra penciumannya dan jelas hal tersebut bisa membuat siapa pun yang dekat dengannya tidak akan pernah tahan, kecuali emak, aku, mail dan keluarganya yang sudah terbiasa dengan bau tersebut. Entahlah, tapi kenyataannya anak-anak pada senang dekat dengannya.

Aku menatap Jingga lebih lama. Wajahnya tampak serius, saat ia tengah menceritakan kisah salah satu tokoh pahlawan dalam islam, yaitu tentang Usamah bin Zaid yang merupakan komandan perang di zaman Rasulullah SAW yang paling muda. Beliau diangkat menjadi komandan perang oleh Rasulullah SAW di saat usianya 18 tahun. 

Jingga berbicara dengan penuh semangat, meskipun terkadang suaranya terdengar sedikit terputus-putus, dan tangannya bergerak-gerak untuk menggambarkan detail cerita. Aku dapat melihat betapa seriusnya ia dalam menjelaskan tentang Usamah bin Zaid, seolah dia benar-benar memahami betul kisah heroik tersebut. Anak-anak panti, yang awalnya hanya terkesan polos dan tak terlalu banyak bicara, kini tampak sangat antusias mendengarkan Jingga.

"Jadi, Usamah bin Zaid itu, diangkat jadi komandan perang oleh Rasulullah SAW di usia yang sangat muda, 18 tahun. Meskipun banyak sahabat senior yang lebih tua dan berpengalaman, Rasul memilih Usamah karena keberanian dan kepemimpinannya," ujar Jingga, dengan suara yang penuh keyakinan, mengalirkan penjelasan seperti seorang guru sejarah.

Aku terdiam, masih tak bisa mencerna sepenuhnya apa yang baru saja dikatakan Jingga. Sebagai suaminya, aku tentu sudah mengenal Jingga dengan cukup baik, atau setidaknya aku pikir begitu. Tapi, mendengar dia berbicara begitu lancar dan penuh pemahaman tentang Usamah bin Zaid, seorang tokoh besar dalam sejarah Islam, membuatku terkejut. Jingga, yang biasanya lebih suka duduk di kandang ternak, mengurus kambing, sapi, dan kelincinya itu, kini tampak begitu berbeda, seperti seorang ahli sejarah yang sudah bertahun-tahun mempelajari kisah-kisah kepahlawanan.

Tunggu dulu, aku masih tidak percaya dan merasa perlu mengonfirmasi lebih lanjut. Aku harus mengetes pengetahuannya. Jangan-jangan ini cuma kebetulan atau informasi yang dia dapatkan dari ceramah atau buku yang sedang dia baca belakangan ini. Bukankah dia, si "gadis bau peternakan" itu, lebih sering terjebak dalam rutinitasnya yang jauh dari dunia akademis atau percakapan intelektual?

Aku menyandarkan punggungku pada pohon, berpura-pura tidak begitu tertarik pada pembicaraan mereka, padahal aku justru menyimak dengan seksama. Anak-anak panti yang duduk di sekitar Jingga terlihat sangat menikmati cerita yang ia sampaikan. Jingga melanjutkan ceritanya dengan penuh semangat, gestur tangannya makin hidup seiring ia menggambarkan bagaimana Usamah memimpin pasukannya dalam pertempuran, bagaimana meskipun usianya muda, ia sudah menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa.

Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian memutuskan untuk bertanya, berharap bisa menggali lebih jauh pengetahuannya.

"Kalau begitu, kamu tahu nggak, apa alasan Rasulullah memilih Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan, meskipun banyak sahabat senior yang lebih berpengalaman?" tanyaku bersidekap dada dengan sombongnya seolah percaya diri jika apa yang ku tanyakan tidak akan mampu ia menjawabnya.

Jingga berhenti sejenak, lalu menatapku dengan senyum yang lebih dalam dari biasanya. Seolah dia tahu pertanyaan ini datang karena aku masih ragu dengan apa yang dia katakan.

"Ah, tentu," jawabnya, suara tenangnya terdengar begitu mengalir. "Rasulullah memilih Usamah karena beliau melihat kepemimpinan dan keberanian yang luar biasa dalam diri Usamah, meskipun usianya sangat muda. Bahkan, Rasulullah ingin mengajarkan kepada umat Islam bahwa kepemimpinan bukan ditentukan oleh usia atau pengalaman, tapi oleh keberanian, kebijaksanaan, dan niat yang tulus. Beliau juga melihat bahwa Usamah memiliki hati yang bersih dan mampu menjaga amanah, itulah yang lebih penting."

Aku terdiam sejenak, senyumku seketika luntur. Jawabannya cukup lugas dan meyakinkan, seolah dia benar-benar tahu apa yang dia bicarakan. Apa ini benar-benar Jingga, yang biasanya lebih banyak diam dan menghabiskan waktunya di ladang atau di peternakan? Aku mencoba untuk menyaring kata-katanya, tapi semakin aku mendengarkan, semakin aku yakin bahwa dia tidak sedang mengada-ada.

"Maksudnya, kamu beneran tahu semua itu dari mana?" tanyaku, sedikit tidak percaya, namun ingin memastikan. "Kamu nggak biasanya kan, baca buku sejarah atau…"

Jingga mengangguk sembari tersenyum lembut, seolah sudah menunggu pertanyaanku. "Aku sih nggak sering baca buku sejarah seperti yang kamu kira, Kang," jawabnya sambil menyentuh rambutnya yang sedikit acak-acakan. "Tapi aku suka mendengarkan cerita-cerita dari orang-orang yang tahu, termasuk dari emak dan beberapa ustaz di youtube. Mereka sering cerita tentang para pahlawan Islam, terutama yang muda seperti Usamah. Aku pikir, kisah mereka itu bisa jadi pelajaran buat kita semua."

Aku terkesiap. "Apa kamu sudah memastikan kebenarannya? Hati-hati loh takutnya cerita yang kamu dengar itu palsu. Namanya juga manusia, kalau ngomong bisa di lebih-lebihkan"

Jingga mengangguk dengan cengiran khasnya, "ceritanya sudah dipastikan akurat, soalnya ini sumbernya langsung dari guru sejarah kesayangannya emak. Dan jingga yakin, dia menceritakan hal itu pada emak dengan fakta dan pemahaman yang benar, bukan sekadar cerita belaka. Jadi, aku merasa nggak perlu khawatir soal kebenaran cerita itu."

"Saya islmannya ktp, kamu masih percaya dengan kisah itu" bisikku.

Jingga mengangguk mantap. "Nanti islamnya di perbaiki menjadi agama yang akang pegang teguh sampai akhir hayat ya. Jingga percaya sama akang, kapan-kapan akang ceritakan juga ya sejarah apa pun pada Jingga, biar kaya emak yang udah tua tapi pemahamannya semakin bertambah" bisiknya.

Aku mendelik sebal mendengar jawaban yang Jingga utarakan. "Yakin? Emang kamu bakalan suka sama sejarah? Nanti malah tidur lagi," jawabku setengah berbisik.

"Yakin atuh kang, kalau bisa jangan sejarah aja ya kang. Ilmu-ilmu umum lainnya juga ceritain ya. Jingga butuh pengetahuan yang luas"

"Buat apa? udahlah dunia mu itu peternakan, gak penting itu"

"Eh si akang, ya penting atuh kang. Kan Jingga nanti bakalan jadi ibu dari anak-anak kita, seorang ibu itu madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jingga ingin menjadi ibu hebat,"

"Yaudah, sekolah lagi aja!"

Jingga menggeleng lemah. "Gak bisa atuh kang, jingga malu sama umur. Kalau belajar sama akang mah kan enak bisa kapan saja" tolaknya dengan mengemukakan pendapatnya.

"Akang mau kan bantu bidadarinya akang ini buat merubah hidupnya sebelum menjadi ibu?" lanjutnya.

Aku bergidik ngeri saat Jingga menyebutnya bidadari. Bidadari darimana? Hongkong?

"Kepedean banget kamu panggil diri sendiri dengan sebutan bidadari?"

"Ya enggak kepedean juga sih, kan kamu yang mulai tadi pas dekat kolam renang haha"

Aku tersenyum merekah. "Tergantung, kalau kamu mampu memberikan upah yang cukup tinggi ya mau"

Jingga mendelik sebal. "Kebiasaan!"

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang