Deklarasi perang

303 22 0
                                        

"Mau berendam air hangat gak kang? Sore-sore kaya gini sepertinya enak deh buat tubuh akang" tawar Jingga. Tangannya begitu cekatan melepaskan ikatan dasi dilipatan kerah kemejaku. Ia juga yang membuka kancing-kancing bajuku.

"Sama kamu?" tanyaku dengan mengangkat sebelah alisku.

Mata Jingga terbelalak. "Gak jadi mandi nanti, lagi pula aku belum selesai masak"

Aku mengangguk. "Kirain, oh iya itu akang bawa oleh-oleh belum kamu buka."

"Hehehe, akang sih pake bahas bi Rani segala jadi lupa kan kalau aku minta oleh-oleh" ujarnya cengengesan.

Aku terkekeh. Mencubit gemas kedua pipinya. Ah sudah lama tidak melihat senyuman manisnya yang seperti ini.

"Akang beli apaan aja?" tanyanya yang kini sudah menggenggam dua paper bag ditangannya.

"Buka aja, itu spesial buat kamu" jawabku mulai menarik handuk dari capstok.

Jingga menurut. Tangannya membuka paper bag itu. Begitu sudah terbuka, kedua matanya menatapku tajam.

"Akang ... Sejak kapan?" tanyanya menuntut jawaban.

Aku tersenyum, duduk disampingnya. "Sejak akang tergila-gila sama kamu," jawabku dengan gombalan membuat ia mendengus kesal.

"Emang akang gak malu apa masuk ke toko lingerie? Akang kan ke kota juga gak sendiri, sama si Ujang lagi" protesnya Jingga. Kepalanya menggeleng-geleng, tak habis pikir.

"Enggak dong, ngelihat kamu aja yang pakai akang gak malu. Masa iya ketimbang beli aja malu, nanti malam dipake ya gaun cantiknya" titahku dengan mengerlingkan mata kearahnya dengan genit.

Jingga berdecak. "Jangankan nanti malam, detik ini juga ayo"

Kedua mataku berbinar mendengar penuturannya, buru-buru aku mencondongkan tubunku kepadanya.

"Seriusan sayang?" tanyaku.

"Eh," ujarnya gelagapan namun segera ku beranjak dengan menggendong tubuhnya, membawanya masuk ke kamar mandi bersamaku. "Temani akang berendam air hangat dulu ya,"

"Kang, aku udah mandi" tolaknya meronta-ronta.

Aku tertawa, tak mengindahkan tolaknnya. Siapa suruh berani menantangku.

Aku benar-benar tersenyum puas. Rasa rinduku sepertinya terbayar tuntas. Bahkan aku benar-benar tak membiarkan Jingga untuk keluar kamar hingga malam hari.

"Kang, aku lapar. Emang akang gak lapar apa?" tanyanya dengan rengekan dipelukanku.

"Enggak, akang kangen sama kamu" jawabku dengan mengecup beberapa kali keningnya.

Jingga merenggut sebal. "Kangen sih kangen kang, tapi ya gak begini juga. Dari sore loh, ini udah jam berapa?" tanyanya memberenggut kesal.

Aku mendongak, "baru jam sepuluh malam" jawabku tanpa merasa bersalah.

"Kan ... Awas ah, Jingga lapar pengen makan. Kalau bi Rani tau masakanku tadi gak beres, pasti nanti ngomel"

Aku berdecak. "Kamu mandi aja sana, biar akang yang ambil makanan"

Jingga mengangguk lega dan melangkah ke kamar mandi.

Sementara aku keluar kamar dengan senyum yang masih melekat, langkahku ringan ketika keluar kamar, tapi semakin menuruni tangga, perasaan itu makin aneh, seperti ada hawa dingin yang menyusup. Suara jam dinding terdengar lebih nyaring, dentingannya menambah rasa tak nyaman.

Begitu melewati ruang tamu, aku mendengar suara berisik dari arah dapur. Bukan suara piring atau sendok, melainkan nada bicara seseorang. Samar, namun cukup jelas.

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang