Terbiasa

735 24 0
                                        

Setelah kesepakatan malam itu, Jingga benar-benar menenuhi permintaanku. Surat tanah yang begitu luasnya atas nama dirinya sendiri kini beralih nama menjadi atas nama diriku, Ahmad.

Entah harus senang atau sedih, yang jelas aku bingung saat melihat namaku tercetak di kertas tersebut.

"Akang jangan bengong aja, ayo kang tandatangani" ujar Jingga memperingatkan dengan menyinggunkan sikutnya ke tanganku.

Sementar Ujang yang ku suruh untuk menamaniku bertemu Jingga di kantor pengacaranya nampak senyam senyum dengan mata yang menggoda. "Ayo Mad, ente udah benar itu. Lo teman gue ini mah asli, nurut banget sih saran gue" bisiknya yang duduk di sebelah kiriku.

"Tapi gue gak niat morotin dia, sumpah jang" aku membalas berbisik lirih padanya berusaha agar tidak terdengar oleh Jingga yang tengah duduk di sebelah kananku sembari berbicara pada pengacaranya yang duduk berhadapan dengan kami.

"Bodo amad dah gue mah, itu udah benar sih. Toh nanti kalau emang lo gak niat, kagak bakalan di jual juga. Ini hanya validasi, supaya lo itu gak di remehin lagi sama orang-orang" bisiknya.

Jingga menatapku dengan mata yang penuh harap, seolah ingin memastikan bahwa aku akan melanjutkan rencananya. Aku menghela napas, merasakan beratnya keputusan ini. Di satu sisi, aku merasa terjebak dalam permainan yang tidak sepenuhnya aku pahami. Namun, di sisi lain, ada rasa bangga tersendiri melihat namaku tertera di surat tanah yang begitu luas.

"Kang, ayo. Itu gak dadakan kok, itu udah Jingga siapkan dari awal pernikahan kita." jujurnya dengan wajah memerah, menahan malu entah apa.

Ku tarik napas dalam, lalu ku hembuskan perlahan. "Bismillah," gumamku dengan tangan bergerak lincah menandatangi surat tersebut di atas materai.

Seketika senyum si Ujang mengembang sempurna, tangannya menepuk pundakku beberapa kali. "Mantap bro, habis ini ente minta rumah terus mobil. Tipis-tipis aja, yang penting lu punya properti buat jaminan masa depan lu"

Gila. Satu kata itu memang harus tersemat di si Ujang sih, benar-benar sahabat laknat. Bisa-bisanya mempengaruhi yang gak baik.

"Gak usah ngomporin, dosa!" Bisikku dengan keras menginjak kakinya hingga ia mengaduh kesakitan membuat kedua manusia yang tengah asik berbincang menoleh kearah kami.

"Kalian kenapa?" tanya Jingga kebingungang.

Aku segera menggeleng, menghadap kearahnya menutupi tubuh si Ujang yang meringis kesakitan. "Gak kenapa-napa. Makasih ya," ungkapku.

Jingga mengangguk polos, ia kemudian tersenyum mengulurkan tangannya padaku. "Selamat ya kang, habis ini akang bebas mau diapakan tanahnya yang penting jangan di jual ya kang. Mending di manfaatin buat menghasilkan uang"

Aku meringis, merasakan ada tekanan di dada saat menerima uluran tangannya. Mindset orang kaya emang beda ya, selalu berpikir bagaimana caranya sesuatu yang dimiliki itu bisa menghasilkan uang, gak kaya aku yang pemikirannya kalau udah punya sesuatu pengennya ya menjadi uang untuk di belanjakan bukan di investasikan.

"Iya, terimakasih ya" gumamku.

***
Hari-hari berlalu, entah mengapa sejak kejadian itu aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Jingga dibandingkan dengan si Ujang. Kita bak sedang menjadi dua orang yang tengah saling memenuhi kesepakatan yang telah di buat.

Setelah surat tanah itu berpindah nama, kehidupan sehari-hariku mulai berubah. Jingga dan aku sering sekali menghabiskan banyak waktu untuk membicarakan hal apa pun, dari yang sangat penting hingga hal sepele. Bahkan hidungku ini sudah terbiasa dengan aroma tubuhnya, yang tadinya selalu berusaha menahan napas kini sudah perlahan mulai menerim tapi tetap saja aku selalu menyempatkan waktu menyemprotkan pewangi apa pun yang ku suka padanya secara diam-diam. Tak apalah, demi kenyamanan toh.

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang