Seusai acara tahlil dan bermain dengan anak panti, kami memutuskan untuk pulang ke rumah emak. Malam ini, emak memaksa aku dan Jingga untuk pulang ke rumahnya, katanya emak kangen sama menantu juragannya ini. Padahal setiap hari juga ketemu, cuma gak di rumahnya. Maklum, menghindari teh Ayu biar gak kena penyakit lagi, soalnya indra penciuman teh Ayu terlalu sensitif.
Tapi malam ini, mumpung teh Ayu tengah menginap di rumah Sinta, sahabat kecilku sekaligus sodara jauh kami yang kebetulan pulang ke kampung untuk sekedar mengisi hari libur mungkin.
Kami pun berangkat, dengan Jingga yang terlihat sibuk memastikan kedua keponakan ku yang tengah asik tertidur lelap di pangkuanku dan pangkuannya. Sementara emak dan mail begitu asik bercerita di dengan duduk berdampingan di kursi kemudi.
"Jang, kamu juga nginep atuh sesekali di rumah emak. Gak papa rumah kecil juga, yang penting bisa tidur" aku mendengar di depan kursi yang aku duduki, emak meminta agar Mail juga ikut bermalam bersama kami di rumahnya.
"Jangan panggil Jang atuh emak, dia punya nama. Namanya Ismail Marjuki, panggilannya Mail" tegurku, dengan kekehan.
Aku melihat Mail mendelik tak suka di atas kaca mobil.
"Jang itu panggilan cukup sopan buat adik iparmu Mad, masa emak harus panggil anak secakep ini dengan sebutan Juki"
Mendengar penuturan emak, aku hampir saja menyemburkan tawa namun melihat ekspresi tak suka di balik kemudi itu membuatku urung. Akhir-akhir ini entah kenapa Mail memperlihatkan rasa tidak sukanya padaku, apalagi setelah tadi ia memergoki kami yang hampir berciuman, rasa tak sukanya mungkin semakin menjadi.
Tapi anehnya, adik iparku itu malah akrab sekali dengan emak. Obrolan mereka bahkan begitu asik ku dengar, klop sekali kurasa.
"Panggil aja Mail mak, jangan Juki. Takutnya kesaing sama merk mobil," ujar Mail.
"Tapi Juki jugaa keren il, kaya kebarat-baratan" tambah Jingga dengan terkikik geli.
Ku dengar Mail berdecak, "teteh jangan mulai atuh. Itu panggilan Mail juga keren buatku teh, kalau terkesan agak kolot. Kek zaman dulu," protesnya sebal.
Emak menepuk pundak Mail yang fokus menatap jalanan sembari mengemudi. "Yaudah emak panggil kamu Mail, dulu waktu kamu orok, emak sering banget main ke rumah kamu. Gendong kamu, tapi sejak kalian pindah ke desa sebelah, emak gak pernah lagi main. Udah malu, kalian udah kaya takutnya gak level gitu,"
"Padahal ibu gak bakalan mikirin gitu loh mak, dulu ibu juga sering cerita tentang emak tapi ibu sama bapak orangnya super sibuk. Jadi gak ada waktu buat main, sibuk merintis usaha." ucap Jingga, matanya berkaca-kaca seolah tengah mengingat momen saat bersama kedua orangatuanya.
"Iya, Mail juga sering dengar ibu bercerita sama teteh tentang emak,, sahabatnya yang super baik ini. Dulu ibu berpesan kalau ibu gak ada, ibu suruh kami buat sering kunjungin emak eh taunya emak malah jadi mertuanya teteh. Plot twist banget sih" sambung Mail.
"Tunggu dulu, ini maksudnnya apa? Emak gak pernah cerita loh sama Ahmad tentang ini. Ahmad taunya bapak sahabatan sama mamangnya kalian aja. Mak, maksudnya apa mak?"
Emak terdiam sejenak, matanya beralih dari jalan ke arahku yang tiba-tiba bertanya dengan serius. Ada sedikit keterkejutan di wajahnya, tapi dia segera mengalihkan pandangannya kembali ke jalan, seolah tak ingin terlalu banyak bercerita di tengah perjalanan.
"Mak, jangan bikin ahmad penasaran. Jadi kalian dekat dari kapan? Ahmad kok taunya kalian dekat beberapa tahun ini, itu pun karna kenal diladang. Jingga tolong jelasin"
Jingga yang sedari tadi hanya diam, kini mengalihkan pandangannya ke arahku. Wajahnya tampak serius, seolah sedang memikirkan cara terbaik untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Aku bisa merasakan ketegangan di udara, dan entah kenapa aku merasa seperti sedang mengorek sesuatu yang seharusnya tidak perlu dibahas di sini, di mobil ini, dalam perjalanan pulang yang
Emak menghela napas panjang, menoleh kearahku. "Maaf Mad, emak gak pernah cerita tentang mertua kamu. Sebenarnya emak sama mertua kamu itu pernah sahabatan sama kaya kamu dan sinta, cuma bedanya emak sama mertua kamu lebih akrab saat di bangku smp. Maklum, kita dulunya juga tetanggaan"
Aku mendengus kesal, oh pantesan saja emak dan bapak dulu menyuruhku untuk langsung menikah saja. Rupanya keduanya sudah mengenal baik keluarga Jingga tanpa aku ketahui sebelumnya. Pantas dulu agak janggal, kok bisa emak segampang itu merestui nadzarku, rupanya oh rupanya.
"Kenapa baru cerita sama Ahmad, itu pun pas kalian ngobrol disini. Kalau enggak, mungkin mak gak bakalan cerita itu sama ahmad," kesalku tak terima.
Emak mendengus sebal, menatapku tajam. "Buat apa atuh Mad, itu kan masa lalu emak sama mertuamu. Gak penting juga, kamunya juga gak pernah mau kan dengerin emak cerita."
"Tapi mak, ini penting. Jangan bilang ini salah satu alasan emak kenapa emak seasik itu ngobrolin aku pada Jingga. Bahkan emak bercerita apa pun tentang aku ke dia. Sampai Jingga tau segalanya tentang aku?"
Emak terdiam sejenak, suasana di dalam mobil tiba-tiba menjadi sangat hening. Hanya suara mesin mobil yang terdengar, sedangkan Mail dan Jingga memilih diam, seolah memberi ruang bagi percakapan yang semakin memanas. Aku bisa merasakan ketegangan yang muncul di antara kami. Tidak biasanya aku berbicara seperti ini, apalagi dengan emak yang selalu terlihat bijak dan penuh pertimbangan. Tapi kali ini, aku merasa ada yang harus dijelaskan. Entah itu apa, serasa ada yang janggal aja gitu.
"Iya, emak selalu cerita tentang kamu karena misi emak ingin menantu emak ini jatuh cinta sama kamu. Tadinya emak mau melanjutkan perjodohan yang dulu waktu kalian masih bayi, tapi qodarullah. Rupanya Allah merestui keinginan emak dan mertuamu untuk mempersatukan kalian. Sebelum emak membicarakan perjodohan ke kamu, rupanya malah keduluan sama niat baik kamu".
Ya salaam, fakta baru apa ini? Jadi tanpa nadzar itu pun aku bakalan emak nikahkan sama perempuan bau yang duduk di sampingku saat ini?
"Tapi mak dulu kaya gak ngerestui deh pas aku nyebut nadzar itu,"
"Nadzar apa kang?" sela jingg begitu penasaran.
Mata emak menatapku tajam, seolah memberi pesan isyarat agar aku tak melanjutkan pembicaraanku.
"Itu neng, suamimu dulu nadzar kalau emak gak ngerestui dia nikah sama kamu, dia bakalan kabur."
Aku melotot tajam, begitu kaget dengan pengakuan emak yang hanya omong kosong itu.
"Oalah, akang secinta itu ya sama jingga?" tanyanya dengan wajah berserii-seri.
"Banget neng, dia sampai sakit mikirin kamu." Jawab emak dengan santainya beralibi.
Aku hanya bisa mengelus dada, ingin membantah tapi rasanya Jingga tak akan percaya padaku. Ia taunya aku pria gengsi akan pengakuan perasaan.
Tapi ah, fakta baru itu sungguh membuatku syok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
