perbaikan dimulai

677 45 4
                                        

Aku membodo amatkan diri sendiri saat memutuskan tetap tinggal di rumah gedongan ini, meskipun Jingga tak pernah merespon setiap kali aku memohon kesempatan kedua.

Dia bahkan tak mengizinkan aku tidur di kamarnya. Satu kata baik pun tak keluar dari mulutnya. Dingin. Hambar. Tak ada kehangatan saat kami saling bertatap. Tapi aku cukup yakin, sikap dinginnya itu hanyalah benteng pertahanan. Dia tak ingin terlalu cepat luluh melihat upayaku yang mulai serius.

Aku percaya-seribu persen percaya-bahwa cinta Jingga padaku belum sepenuhnya mati. Hanya saja, akulah yang harus menumbuhkannya kembali.

Dan aku akan melakukannya.

Aku akan mencintainya dengan benar kali ini. Bukan cuma suami di atas kertas, tapi laki-laki yang hadir, yang mengusahakan rumah tangga ini agar benar-benar bisa disebut "rumah".

Aku tahu diri. Aku sadar betul, banyak hal yang kulakukan-atau justru tidak kulakukan-telah melukainya. Tapi memilih pergi? Menyerah? Tidak. Aku tak sebodoh itu meninggalkan satu-satunya perempuan yang dulu kuabaikan, tapi kini justru tak bisa kulepaskan.

Karena itu, aku tetap tinggal.

Meski harus tidur di kamar Mail, kamar gelap dan hitam tanpa warna, penuh poster bola. Kamar laki-laki pada umumnya, mungkin. Tapi aku pengecualian.

Aku tahu, tinggal di rumah besar keluarga Jingga ibarat masuk ke sarang singa. Mamangnya licik, bibinya matre, dan seluruh keluarga sibuk menghitung harta warisan. Tapi aku tak gentar. Aku di sini bukan hanya sebagai tamu. Aku di sini sebagai bodyguard pribadi Jingga-plus suami kece yang tak akan lelah melindunginya.

Dan pagi ini, aku sengaja bangun lebih awal.

Rumah masih lengang. Hanya suara langkah pelan para pelayan yang terdengar. Aku menyelinap ke dapur, membuatkan secangkir kopi favorit Jingga. Dia tak meminta, tapi aku tahu ini caraku menunjukkan perhatian.

Kepulan asap dari kopi yang hangat menari pelan di udara. Harum. Menenangkan.

"Semoga dia suka," gumamku pelan, meletakkannya di meja makan.

"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan, terburu-buru saat melihatku membuka kulkas. Aku ingin sekalian membuat sarapan.

Aku menggeleng. "Biasanya, kalau di sini, dia suka sarapan apa, Bi?" tanyaku.

Pelayan itu tersenyum kaku, lalu menggeleng. "Biasanya tidak sarapan, Den. Juragan muda langsung ke pondok."

Aku mengangguk pelan. Kecewa, tapi tidak patah semangat. Aku tahu, membangun kembali kepercayaan Jingga bukan hal yang mudah. Apalagi setelah semua luka yang kuberi.

Kutinggalkan dapur, membawa kopi itu ke lantai atas. Menuju kamar Jingga.

Langkahku berat, penuh harap. Di depan pintu, aku sempat ragu. Haruskah aku mengetuk? Atau masuk saja?

Akhirnya, aku mengetuk. Aku ingin menunjukkan rasa hormat, sekecil apa pun itu.

"Sayang, Akang udah buatkan kopi nih. Buka ya pintunya," panggilku, suaraku sedikit bergetar.

Diam.

Tak ada jawaban.

Aku mengetuk sekali lagi, kali ini sedikit lebih keras. "Sayang, tolong... beri Akang kesempatan. Biar Akang bisa buktiin kalau Akang bisa berubah."

Perlahan, pintu terbuka.

Jingga berdiri di ambang, wajahnya kusut, matanya merah. Dia menangis semalam.

"Jingga gak butuh kopi. Apalagi pagi-pagi. Bikin asam lambung naik aja," ucapnya ketus.

Aku terdiam sejenak. Tersengat, tapi kutelan perihnya. Aku tahu, kata-kata itu bukan untuk menyakitiku, tapi untuk melindungi dirinya dari rasa sakit yang belum sembuh.

"Baiklah. Akang ganti teh manis ya? Atau... mau Akang buatkan sarapan sekalian?"

Jingga mengalihkan pandangan. Matanya masih berkabut. "Tidak usah. Akang mending pulang. Jingga gak mau lihat Akang."

Aku menarik napas dalam. "Akang tetap di sini, sayang. Biar Akang buatkan sarapan ya. Kamu belum makan dari kemarin."

Jingga memejamkan mata sejenak. Napasnya berat. Bahunya turun perlahan. Ia tidak menjawab.

"Akang tahu, mungkin kehadiran Akang sekarang malah bikin kamu makin sesak," lanjutku pelan. "Tapi kali ini... Akang gak akan kabur. Gak akan ngilang. Gak akan ulangin semua kesalahan yang dulu."

"Terserah," ujarnya singkat. Tapi nadanya tak sekeras biasa. Kali ini, ada lelah di sana.

Aku tetap berdiri. Menatapnya yang hendak berbalik. Pintu belum ditutup. Bagiku, itu tanda. Itu harapan kecil yang berarti besar.

"Oke, Akang buatkan sarapan, ya. Kamu makan, ya. Jangan kosong perut terus."

"Aku mau ke pondok," ucapnya pelan, menepis tawaranku.

Aku mengangguk, menahan kecewa. "Baik... kalau begitu, Akang antar, ya? Sekalian angin pagi bantu redain pusing kamu."

"Enggak usah," tolaknya cepat, tanpa menatapku. Ia berjalan ke lemari, mengambil jaket.

"Jangan keras kepala. Kamu lagi gak baik-baik aja. Harusnya istirahat. Maaf udah bikin kamu begini..."

Kata-kata itu meluncur begitu saja. Mungkin karena aku panik. Mungkin karena aku gak tahan lihat raut wajahnya yang penuh luka-luka yang sebagian besar kubuat sendiri.

Jingga terdiam. Tangannya menggenggam resleting jaket, tapi belum menariknya.

"Aku gak keras kepala," bisiknya. Lebih tenang, tapi sorot matanya tajam.

"Yaudah, Akang antar ya. Sekalian Akang ke sekolah juga. Pulangnya Akang jemput. Kerjanya jangan berat-berat, jangan diporsir. Kamu lagi gak enak badan... dan Akang khawatir. Siapa tahu kamu hamil... setelah malam itu."

Jingga menoleh cepat. Tatapannya berubah. Tajam, terkejut, marah... dan mungkin takut?

"Apa?" bisiknya nyaris tak terdengar. Tapi aku tahu dia mendengar.

"A-Akang cuma khawatir," ucapku gugup. "Malam itu kamu lagi subur, kan? Akang lihat kalender kecil di kamar tamu, yang kamu simpan di balik lemari... itu punyamu, kan?"

"Kamu ngintip?" suaranya naik. Tapi bukan hanya marah. Ada rasa dilanggar. Seperti kepercayaannya kembali disayat.

"A-Akang gak ngintip. Akang cuma nemu pas lagi beresin barang. Lalu... lihat tanggal-tanggal kamu tandain. Akang cuma... khawatir."

"Khawatir?" Ia menatapku seperti aku manusia paling tak tahu diri di dunia. "Kamu gak punya hak buat ngurusin aku sampai segitunya, Kang. Apalagi... isi rahimku."

Aku diam. Kata-katanya menusuk. Tapi aku mengerti.

Ia menarik napas, panjang dan berat. "Ini bukan soal subur atau nggak, Kang. Ini soal rasa yang udah kamu kubur hidup-hidup... dan sekarang kamu panik sama hasilnya, sementara aku masih sibuk mengubur lukanya."

Jingga merapatkan jaket, lalu melangkah cepat melewatiku.

Aku masih berdiri di depan pintu. Diam. Pahit. Sial, niat hati memperbaiki, malah mulutku meluncur terlalu jauh.

Padahal, kejadian malam itu... bahkan belum tiga hari yang lalu. Mana mungkin langsung hamil?

Tapi kalau pun iya... aku rela. Asal aku tetap bisa jadi bagian dari hidupnya.

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang