Back to Kang ahmad pov
Aku masih terdiam lelah diambang pintu sembari memperhatikan keadaan kamar yang masih kacau, biasanya sepulang kerja ... Aku disambut dengan senyum jingga yang ceria menunggu kepulanganku, kamar yang sudah rapi dengan lilin aroma terapi kesukaanku yang telah menyala. Namun, sudah beberapa hari ini aku tak dapati itu semua.
Aku pikir, saat aku menjauhinya Jingga akan semakin gencar mengejar ku namun nyatanya? Apa ini? Sungguh diluar ekspektasi! Jingga bahkan malah ikut menjauhiku, ia benar-benar serius dengan perkataannya malam itu. Bahkan emak? Orang yang tak tau apa pun tentang rumah tanggaku ikut-ikutan menjauhiku. Kedua wanita itu bahkan ku perhatikan akhir-akhir ini semakin dekat dan kompak setelah kepulangan teh Ayu ke kota.
Aku menghembuskan napas lelah, memungut beberapa sampah kertas karton, dus yang berserakan sisa semalam membuat beberapa alat peraga untuk bahan ajar. Lalu setelah itu, ku sapu seluruh lantai kamar ini bahkan seprai kasur yang sudah seminggu tak diganti pun sekarang aku ganti demi kenyamanan.
Rasanya begitu sepi. Aneh. Padahal sebelum aku menikahinya, aku sudah terbiasa dengan keadaan yang seperti ini namun kali ini rasanya benar-benar kehilangan.
Dihari pertama, aku maklumi saat Jingga menjauhiku. Mungkin ia masih kesal karena cintanya yang tak kunjung terbalas. Toh, sekesal-kesalnya dia pasti akhirnya nyerah juga dengan alasan kalau pelet aku ini bikin dia gila. Padahal boro-boro melet, yang ada pengen muntah dan kalau bisa gak pernah menikah dengannya.
Di hari kedua, entah kenapa aku malah menunggunya dikamar berharap kekesalan Jingga terhadapku sudah hilang. Namun nyatanya sampai aku ketiduran pun jingga tak kunjung kembali ke kamarku.
Dan ini sudah hari ketujuh Jingga membiarkan aku untuk tidur sendirian, membereskan kamar sendiri bak seperti kembali membujang.
Seminggu sudah Jingga tak pernah menampakan hidungnya padaku, bahkan untuk sekedar mengambil pakaiannya saja di kamar ini Jingga tidak pernah. Mungkin ia memakai pakaian yang sebelum-sebelumnya toh sehabis mandi pun dia tak pernah ganti baju lagi selama baju itu dinilai masih bersih dan nyaman seperti kebiasaannya. Entahlah, dia emang sejorok itu.
Sehabis membereskan kamar, aku memutuskan membersihkan badan lalu setelahnya aku pergi ke dapur untuk mengisi perut yang terasa lapar ini.
Lagi, aku harus mengelus dada. Berusaha bersabar saat tak ku dapati satu pun makanan yang tersaji di meja makan. Biasanya, aku hanya tinggal makan dengan lahap saja karena semua sudah jingga siapkan meski pun emak yang masak. Ah, jingga benar-benar nih.
"Mak, aku lapar" ujarku ketika mata ini menemukan emak yang baru saja tiba dari belakang rumah.
Emak mengerutkan kening, "ya tinggal makan" ujarnya heran.
Aku mendengus. "Tak ada lauk pauk sedikit pun, emak gak masak? Nasi juga kaya yang sisa tadi pagi, kalian gak makan?" tanyaku melihat isi wadah nasi yang masih sama kaya tadi pagi.
Emak menggeleng, meletakan sayuran yang baru ia petik dari belakang rumah ini. "Enggak, emak sama bapak makan diluar tadi." Jawabnya sembari mencuci tangan di wastafel.
Aku mendengus. "Terus gak ada niatan buat masak gitu?" tanyaku.
Emak berbalik menatapku. "Enggak, kami sudah kenyang. Emak kira kamu sudah makan diluar, lagi pula istrimu hari ini gak akan pulang"
Aku menggeleng lesu. "Gimana mau makan diluar mak, gaji ku itu pas-pasan. Ngiritlah aku,"
Emak mengedikkan bahu. "Yaudah makan yang ada aja, emak capek. Bentar lagi maghrib, gak akan keburu masak lagi pula emak mau ke mesjid sama bapak sekalian mau ikut pengajian bulanan dirumah bude Asih" ujarnya.
"Tapi mak, masa iya aku makan nasi sisa tadi pagi? Mana mau basi lagi," protesku.
Bukannya kasihan sama anak bungsunya, ini malah acuh meninggalkanku sendirian. Rasanya seminggu ini, semua orang rumah memusuhiku termasuk bapak.
"Mak!" teriakku memanggilnya.
Emak menoleh sebentar. "Kalau mau makan enak, sana minta sama istrimu bukan sama emak!" tegurnya.
Ck. Sial.
Aku mendengus pelan, menggertakkan gigi sembari menatap punggung emak yang mulai menjauh dari dapur. Tak ada lagi kelembutan yang biasa aku terima selama seminggu ini.
Ku putuskan untuk duduk di kursi makan, menatap kosong ke arah meja yang tak lagi menyambutku dengan aroma masakan hangat. Semuanya terasa dingin. Datar. Bahkan sepotong kerupuk pun tak ada. Yang terdengar hanya suara kipas angin tua yang berderit lelah di sudut ruang.
"Jingga…" gumamku lirih. Entah kenapa, namanya kini terasa begitu berat di lidah. Padahal dulu, setiap kali aku menyebutnya, aku seringkali melakukannya dengan nada tinggi, kadang diselingi keluhan atau perintah.
Tapi sekarang, bahkan untuk mengucapkannya pun ada sesak di dada. Kututup wajahku dengan kedua tangan. Sial, aku bahkan merindukan suara cerewetnya yang dulu kupikir mengganggu. Merindukan bau badannya yang walau pun tercium begitu asam tak karuan yang entah kenapa tetap melekat di kamarku, dan... aku benci mengakuinya, tapi aku merindukan dia.
Jingga.
Kupikir aku bisa menaklukkannya dengan menjauh, membiarkannya merasa kecil. Tapi nyatanya? Dialah yang perlahan menaklukkan aku, tanpa satu pun kata atau teriakan. Dia hanya diam… dan diamnya itu lebih nyaring daripada seribu protes.
Aku berdiri, membuka kulkas dan menemukan telur satu butir dan seonggok cabai rawit yang sudah hampir layu. Tak ada pilihan lain. Kuambil penggorengan, memecahkan telur itu ke dalam wajan panas, berharap bau telur goreng bisa sedikit mengobati luka yang anehnya tak mau pergi dari dadaku.
Satu per satu bayangannya menari dalam ingatanku—cara ia melipat bajuku meski asal-asalan, suaranya yang cerewet saat memintaku makan teratur, wajahnya yang sembab setiap kali menangis diam-diam lalu pura-pura tegar di pagi harinya.
Sialan. Ini bukan rasa bersalah biasa. Ini… kehilangan.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat?
Apakah Jingga benar-benar tak akan kembali lagi ke kamar kami?
Ah, tidak ... Tidak. Ini baru seminggu ahmad, tenangkan dirimu. Kendalikan pikiranmu. Pernikahan ini akan tetap baik-baik saja sampai kapan pun, meski tidak berlandaskan dengan saling mencintai tapi aku sebagai kepala keluarga tidak akan membiarkan rumah tangga ini bercerai berai.
Tiba-tiba terdengar suara pintu depan diketuk dari luar. Aku refleks menoleh, jantungku berdegup lebih cepat—harapanku terbangun seketika.
"Jingga?" gumamku pelan, nyaris berbisik.
Namun langkah kaki yang masuk ternyata suara bapak. Raut wajahnya datar, menatapku sekilas lalu berjalan ke kamarnya tanpa sepatah kata. Tidak. Bukan Jingga.
"Ahmad, kamu masak apa? Sampe bau gosong begini?!" teriakan nyaring dari dalam kamar orangtuaku.
Aku tersentak.
“Anjir!” seruku pelan. Aku segera mematikan kompor, mengangkat wajan dan menatap nanar telur gosong yang kini terlihat seperti serpihan batu bara di atas penggorengan. Bau hangus itu menusuk hidung, menyebar ke seluruh dapur, membuatku merasa lebih tolol dari sebelumnya.
“Udah lapar, masak gosong, bisa-bisanya,” gumamku kesal pada diri sendiri.
Aku mengambil piring, mencoba menyelamatkan bagian pinggiran telur yang masih agak kuning. Tak banyak. Hanya sepotong kecil yang bisa dimakan, itu pun kalau aku tutup hidung. Aku duduk kembali, menatap ‘makan malam’ tragis yang ada di depanku.
Kupaksakan suapan pertama masuk ke mulut. Teksturnya keras, rasa pahitnya menyelip. Tapi aku tetap mengunyah, menelan perlahan. Mungkin karena yang lebih pahit bukan rasa telur ini… tapi rasa kehilangan. Ah, benarkah ini rasa kehilangan? Tidak ... Kuharap tidak seperti itu. Masa iya aku kalah? Kalah? Sekali lagi KALAH. Tidak! Itu tidak ada dalam kamus hidupku!
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
