kena pelet?

780 22 0
                                        

Saat aku baru saja menginjakan kaki di ruang makan, nampak Sinta dan teh Ayu tengah asik membantu emak memasak di dapur, sementara Jingga aku tinggalkan tadi di kamar dengan sengaja. Berharap dia mengerti akan permintaanku, agar ia tak pergi ke pondok peternakannya hari ini. 

"Selamat pagi," sapaku ramah kepada tiga wanita yang berharga dihidupku. 

Ketiganya kompak menoleh, menjawab bersamaan sapaanku yang membuat aku merasa geli dan terkekeh. 

"Masak apa nih, pagi-pagi sekali. Wanginya bikin cacing di perut Ahmad meronta-ronta" kekehku dengan menarik satu kursi di meja pantri menghadap kearah dapur. 

"Masak rendang kesukaan kamu kang," jawab Sinta, wajah berbinar-binar menatapku. 

Aku tersenyum mendengar jawabannya. Sinta memang tahu betul apa yang membuat hatiku senang. Rendang selalu jadi hidangan favoritku, apalagi Sinta yang memasaknya. 

"Ah, dari dulu kamu memang tau caranya membuatku terharu ya Sin. Bisa aja deh," kataku sambil duduk, menatap piring kosong di meja yang seakan sudah menunggu untuk diisi dengan hidangan lezat itu.

Sinta mengangguk mantap, ia pun duduk berhadapan denganku dengan sepiring rendang buatannya, ia hidangkan padaku. "Iyalah, Sinta gitu."

Aku mengangguk-angguk kepala dengan tersenyum geli. "Iya deh iya,"

"Sinta juga buatin sambal ijo sama udah siapkan bekal buat makan siang di sekolah nanti. Akang bawa ya," ujarnya dengan menunjukan sekotak bekal berwarna biru muda yang sudah terisi dengan menu makan siang disana. 

"Ah, gak usah repot-repot Sin. Lagipula aku jarang banget bawa bekal, udah biasa makan di kantin" ucapku menolak secara halus. 

Sinta menyipitkan mata, tampaknya tidak terima dengan jawabanku yang seakan mengabaikan perhatiannya. "Gak repot kok kang, lagian sinta senang buatin ini semua. Pokonya akang harus bawa bekal ini, supaya akang bisa makan siang gratis+enak dan bergizi. Titik"

"Apa sih yang enggak buat orang tersayang, iya gak sin?" Teh Ayu yang duduk di sudut meja sambil menikmati teh hangatnya, akhirnya ikut berbicara. Namun, pembicaraannya terdengar aneh, seolah sedang meledek sahabat kecilku itu. 

Nampak, wajah Sinta kini merona seolah menahan malu. Entah apa. Ia pun kini menunduk, tampak sedikit canggung, sementara teh Ayu terus saja menatap kami dengan senyum nakal yang sulit disembunyikan.

"Istri idaman banget ya Mad, Sinta ini. Udah cantik, wangi, jago masak, wanita karir lagi" ujar teh Ayu memuji perempuan yang kini tengah malu-malu dihadapanku itu. 

Aku mengangguk pelan, membenarkan pujian teh Ayu. Ku akui, Sinta itu memang perempuan yang sempurna dimataku dibanding dengan Jingga.

"Aduh, Teh, jangan berlebihan gitu dong," Sinta akhirnya bersuara, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Aku cuma pengen kang Ahmad bisa makan dengan baik aja. Nggak ada maksud lain kok."

Sinta mencoba untuk mengalihkan perhatian, namun teh Ayu tampaknya tak mau melewatkan kesempatan untuk menggoda lebih jauh. "Oh, jadi cuma pengen Ahmad makan dengan baik, ya? Tapi kalau udah kayak gini, pasti banyak yang iri sama dia," katanya sambil terkekeh, menatapku dan Sinta secara bergantian.

Aku hanya tersenyum mendengar candaan teh Ayu, meskipun dalam hati, aku merasa sedikit canggung.

Sinta tampak makin malu, wajahnya semakin memerah. "Teh, beneran deh, aku cuma mau supaya kang Ahmad nggak lupa makan. Aku senang kok kalau bisa buat yang terbaik buat dia," ujarnya dengan suara pelan, seolah takut kalau perkataannya tadi berlebihan.

"Iya iya, seperhatian itu ya sama orang yang di sayang. Kalian itu cocok sih sebenarnya, teteh juga tadinya pikir kalian akan berjodoh eh taunya..."

"Hus, yo jadi perempuan jangan kaya gitu atuh Yu. Sinta ini sudah punya suami, dan adek mu juga udah punya istri," sela emak menghampiri kami dengan membawa setoples kerupuk yang baru selesai ia goreng. 

"Kan cuma mikir tadinya mak, lagian emak juga pengenkan punya menantu cantik, modis dan wanita karir kaya Sinta?" tanya teh Ayu dengan kedua mata sipitnya memicing, penuh curiga. 

Emak sontak menggeleng. "Mau seperti apa pun menantu perempuan emak, emak terima dia apa adanya."

"Meskipun dia bau?" tanya teh Ayu dengan tatapan sinisnya.

Aku tersentak kaget, tak menyangka dengan apa yang teh Ayu tanyakan. Sejak kapan mulutnya jadi tidak sopan seperti itu? 

"Jaga bicaramu Ayu, kamu itu lagi hamil gak baik ngata-ngatain adik iparmu" emak menegur dengan pelan. Sementara Sinta, ku lihat ia terkekeh pelan seolah senang dengan apa yang teh Ayu ucapkan.

Aku merasa canggung dengan suasana yang tiba-tiba berubah kaku. Emak yang biasanya selalu tenang dan penuh pengertian, kini terlihat sedikit kesal dengan ucapan teh Ayu yang entah kenapa bisa begitu menusuk. Aku menatap wajah Sinta yang sepertinya mencoba menahan tawa, sementara teh Ayu hanya mendengus dan mengusap perutnya yang mulai membesar.

"Sudah, sudah, jangan dibahas lagi," ujar emak dengan nada tegas, menatap teh Ayu yang kini hanya bisa diam. "Ayu, kamu itu harus hati-hati bicara, apalagi sekarang lagi hamil, jangan gampang mengkritik orang."

Aku mengangguk setuju,"teteh jangan seperti itu lagi. Mau gimana pun Jingga itu istri Ahmad. Ahmad janji akan merubah Jingga menjadi lebih baik lagi, wangi dan cantik"

"Halah, tumben sekali kamu dek bicara seperti itu. Kena pelet apa kamu sampai bela-belain dia segala."

Aku tersentak kaget mendengar apa yang teh Ayu ucapkan. 

"Ayu, emak sudah bilang jaga bicara kamu. Hargai adikmu!" Suara emak terdengar begitu tegas saat aku masih saja terdiam memikirkan omongan teh Ayu. 

"Tapi mak, lelaki mana yang mau menikahi wanita bau seperti dia?"

Aku merasa darahku mendidih mendengar ucapan teh Ayu yang sangat menusuk. Seolah-olah kata-kata itu mengoyak-ngoyak perasaan yang selama ini aku coba untuk pertahankan. Aku menatap teh Ayu dengan pandangan tajam, berusaha menahan diri agar tidak meledak. Tapi kata-kata itu benar-benar membuatku bingung. Sejak kapan dia bisa begitu kejam, dan kenapa ia harus melibatkan Jingga dalam pembicaraan ini? Di depan Sinta pula, wanita yang selama ini aku cintai dalam diam. 

Emak yang biasanya sabar, kini tampak geram. Wajahnya yang lembut dan penuh kasih sayang kini berubah keras. "Ayu!" suaranya melengking tegas, "Jaga bicaramu! Kamu nggak bisa begitu sama orang lain, apalagi adik iparmu!"

Dengan tenang teh Ayu mengangguk, ia memegang tangan emak dengan lembut. "Mak, coba deh emak pikir. Selama ini mantan pacar Ahmad itu pada cantik dan wangi, pandai merawat diri. Sama seperti Sinta, apa emak gak curiga apa tiba-tiba saja Ahmad nikah sama juragan Jingga yang bahkan dia tau sendiri rumornya gimana. Apa emak gak kasihan dengan nasib Ahmad saat ini? Kita loh yang menanggung baunya, ayu bahkan masuk rumah sakit gara-gara dia. Apa emak gak kepikiran kalau Ahmad itu kena peletnya? Atau jangan-jangan selama ini harta kekayaan yang dia miliki hasil pesugihan lagi, jadi gak menutup kemungkinan kalau Ahmad itu di pelet"

Suasana di ruang makan tiba-tiba menjadi sangat mencekam. Ucapan teh Ayu itu seperti petir yang menyambar tanpa ampun. Aku merasa seluruh tubuhku kaku, seakan kata-kata itu menembus lebih dalam dari yang bisa aku bayangkan. Apa maksudnya dengan mengatakan aku mungkin terkena pelet? Apa iya? Tapi, tidak ada yang aneh selama aku hidup dengannya. Aku bahkan tidak sampai tergila-gila padanya. Tapi akhir-akhir ini entah mengapa aku memang agak peduli padanya. Apa mungkin?



✨✨✨
Gaes, mohon maaf kalau ceritanya gak nyambung🙏 soalnya ada beberapa part yang gak aku publish disini🤧 jangan lupa mampir ke goodnovel dan karyakarsa yaaaaa🙏

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang