"Akang emang benar-benar menyebalkan. Sikapnya berubah-ubah kaya bunglon. Perkataannya selalu nyakitin, bisa gak sih kang kalau ngomong itu di saring dulu. Aku udah sakit gini, malah tambah sakit. Niat memperbaiki gak sih? Menyebalkan!"
Aku menghembuskan napas lelah ketika mendengar pernyataan Jingga yang cukup menusuk. Nadanya tinggi, matanya berkaca-kaca, tapi tetap menatapku dengan sorot tajam. Aku tahu, aku salah. Tapi saat itu, alih-alih meminta maaf, aku malah menarik sudut bibir lalu melajurkan kendaraan roda dua ini secepat mungkin.
Angin pagi menyapu wajahku kencang. Jalanan lengang, tapi pikiranku ramai. Kata-kata Jingga berulang di kepalaku, seperti lagu rusak yang tak bisa ku matikan. "Niat memperbaiki gak sih?" Suara itu menggema, lebih nyaring dari deru mesin motor tuaku yang kupacu.
Oke, aku tau dimana letak kesalahanku yang lain. Dan aku menyadari satu hal, ucapanku yang selalu blak-blakan selalu menyakiti hatinya tanpa ku sadari. Maaf, aku emang tipikal orang yang kalau ngomong gak dipikir lebih dulu.
Tapi apakah itu cukup jadi alasan?
Apakah kebiasaan buruk harus dimaklumi hanya karena "emang udah sifatnya begitu"?
Tidak, ahmad! Makannya Jingga sebebal ini cuek sama kamu!
Sepanjang perjalanan kami saling diam dengan pemikiran masing-masing, aku dengan pikiran ruwet mikirin segala cara agar Jingga mau menerimaku kembali dan Jingga entah memikirkan hal apa lagi dia.
Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah deru motor dan sesekali napas beratku sendiri. Udara dingin pagi menusuk, tapi yang lebih mengigit adalah hening yang Jingga ciptakan. Dia duduk di belakangku, tapi rasanya sejauh ratusan kilometer.
Tangannya tak lagi melingkar di pinggangku seperti biasa. Ia duduk kaku, seperti penumpang tak diundang yang hanya ingin cepat sampai, lalu turun dan tak pernah naik lagi.
"Sayang ..." panggilku lembut, hampir tak terdengar oleh angin yang mengiringi kami.
Jingga tak merespon, perjalanan kami sampai di gerbang rumah utama. Disambut oleh mang Damin, satpam rumahnya.
"Ya allah, ini juragan muda kenapa tuan?" tanya Mang Damin dengan paniknya ketika aku menghentikan motorku setelah memasuki halaman rumah.
"Pingsan katanya tadi, ayo sayang akang bantu. Atau akang gendong aja?"
Jingga menatapku sekilas, lalu buru-buru menunduk. Mungkin tak ingin aku melihat matanya yang mulai berkaca-kaca lagi.
“Gak usah. Aku bisa jalan sendiri,” gumamnya pelan, tapi suaranya lemah.
Aku menahan diri untuk tidak langsung meraih tangannya. Bukan karena enggan, tapi karena aku tahu, yang ia butuhkan sekarang bukan pelukan penuh sesal, melainkan kehadiran yang tenang dan tulus. Aku hanya berjalan setengah langkah di belakangnya, bersiap kalau-kalau ia limbung.
Langkahnya memang tampak tegar, tapi aku bisa melihat betapa ringkih tubuhnya. Jemari tangannya sedikit bergetar, napasnya terengah, dan wajahnya pucat meski mencoba menyembunyikannya di balik rambut yang tergerai. Aku tahu, kapan pun dia bisa ambruk. Dan benar saja.
Belum sempat ia mencapai tangga rumah, tubuhnya oleng, lututnya goyah seperti kehilangan tumpuan. Refleks, aku menangkapnya.
“Jingga!” seruku panik.
Tubuhnya mendarat di pelukanku. Dingin. Ringan. Rapuh. Seolah seluruh dunia menghentikan putarannya, menyisakan hanya detak jantungku yang menghentak keras di dada.
Aku menatap wajahnya yang terpejam, napasnya berderak pelan, sementara tanganku gemetar memeluknya. Wajah kami hanya beberapa senti, dan ketika matanya perlahan terbuka, sorot matanya menabrak sorotku. Mata itu... yang dulu selalu bercahaya saat memanggil namaku, kini redup tapi masih punya nyala yang menolak padam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
