Pagi itu udara desa terasa berbeda. Burung-burung masih berkicau, tapi bagiku suara mereka seakan tertutup oleh gema percakapan semalam. Kata-kata Mamang dan Bi Rani terus menggema di kepalaku, menorehkan garis tegas: aku tidak lagi dianggap bagian dari mereka, melainkan lawan.
Jingga turun dari rumah dengan rambut yang masih basah. Wajahnya cemas melihatku sudah duduk di gazebo halaman rumah sejak subuh tadi.
“Kang… kamu nggak tidur?” tanyanya lirih.
Aku menoleh, tersenyum tipis. “Tidur, tapi cuma sebentar. Pikiran akang terlalu penuh.”
Ia duduk di sampingku, menggenggam tanganku. “Aku dengar semua semalam. Bi Rani… Mamang… mereka benar-benar sudah kelewatan.”
Nada suaranya bergetar, ada ketakutan yang disembunyikan di balik tatapannya.
Aku mengusap punggung tangannya lembut. “Justru ini waktunya akang buktikan kalau kita bisa berdiri sendiri, sayang. Kalau akang mundur sekarang, bisa-bisa mereka menindas kamu lebih dari sebelumnya”
Jingga mengangguk pelan, meski matanya masih menyimpan resah.
“Tapi mereka bukan orang biasa, Kang. Mamang punya pengaruh, Bi Rani licik. Apa akang yakin bisa lawan mereka?”
Aku menarik napas panjang, menatap lurus ke arah halaman depan. “Melawan mereka bukan dengan emosi, tapi dengan hasil nyata. Mulai hari ini, akang akan fokus bangun usaha itu. Biar mereka lihat, tanah yang katanya hanya mainan itu bisa jadi sumber rezeki yang besar.”
Jingga terdiam, lalu akhirnya tersenyum tipis. “Kalau begitu aku akan ikut. Aku nggak mau akang jalan sendiri.”
Hatiku sedikit lebih ringan mendengar ucapannya. Tapi aku tahu, jalan di depan tidak akan mudah.
"Teh, A..." Sontak kami menoleh cepat saat suara Mail menganggu percakapan kita.
Mail datang, mendekat lalu duduk disampingku. Wajahnya sedikit muram, tangannya meremas ujung celana, tak berani menatap langsung ke arahku.
"Kenapa il?" tanyaku heran. Tak biasanya Mail bersikap seperti itu terhadapku, biasanya wajahnya petantang petenteng seolah gengah mengibarkan bendera permusuhan. Tapi pagi ini? Sungguh diluar dugaan.
"Mail dengar semuanya,"
Mail masih menunduk, seolah ada beban berat yang menekannya. Aku dan Jingga saling pandang, mencoba menebak arah pembicaraan.
“Dengar apa, Mail?” tanyaku pelan.
Ia menelan ludah, lalu akhirnya berani mengangkat wajah. Sorot matanya tak lagi penuh ejekan seperti dulu, melainkan resah. “Dengar semalam… suara ribut akang sama Bi Rani." jujurnya.
Sontak aku dan Jingga saling beradu pandang.
"Oh soal itu, jangan dipikirin. Hiduplah seperti biasanya," ujar Jingga pada akhirnya.
Mail menggeleng pelan, wajahnya masih berat. “Gak bisa begitu teh. Mail… juga gak mau kaya gini terus. Mamang sama bi Rani itu udah diluar batas. Selama ini kita menderita teh, Mail gak mau terus-terusan ditindas kaya gini"
Jingga menghela napas pelan. "Maafin teteh il, teteh lemah jadinya kamu menderita juga" ucapnya lirih dengan raut wajah yang begitu merasa bersalah.
Buru-buru aku merangkul tubuhnya. "Jangan kaya gitu sayang, kan sekarang udah ada akang. Kita hadapin ini sama-sama" bisikku menenangkannya.
Mail mengangguk setuju. "Mail juga mau bantu kalian. Mulai hari ini juga Mail akan berhenti membantu dipondok. Mail juga mau jujur sama kalian, ada beberapa hal yang harus kalian tahu soal Bi Rani.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
