Sejak hari dimana Jingga menyatakan perasaan cintanya, sejak itu aku kembali perlahan menjauhinya padahal hubungan kami baru saja hendak membaik tapi apalah daya, aku tidak ingin jingga terjebak dalam perasaan cintanya terlalu dalam tanpa kepastian.
Seperti beberapa ini, aku sengaja pulang terlambat ke rumah padahal kerjaanku tidak terlalu sibuk tetapi aku habiskan untuk berleha-leha di rumahnya si ujang untuk menghindarinya.
Entahlah, rasanya malas sekali bertemu dengannya.
"Udah jam sepuluh malam, pulang gak lu?" Aku memutar bola mata malas saat suara si Ujang yang baru masuk kamar, tiba-tiba mengusikku yang tengah asik menonton anime kesayangan. Siapa lagi kalau bukan naruto.
"Heh, ini kamar ane kenapa lu berantakin sih. Aelah," laki-laki itu kembali bersuara dengan memunguti beberapa plastik bekas makanan ringan yang ku makan.
Aku masih tak menanggapi, fokus pada layar televisi.
"Bini lu dari tadi neleponin gue. Chat gue, nanyain lu ada disini apa kagak" ia kembali bersuara namun kali ini dengan nada biasa, duduk di sampingku.
Aku mengedikkan bahu, enggan menjawab.
"Kalau dipikir-pikir, kesian juga istri lu" ujarnya dengan memindahkan siaran televisi tanpa izin membuat aku menoleh kesal.
"Padahal lagi seru-serunya," decakku kesal.
Ujang mendengus, "Mad, itu si naruto udah hatam berapa kali masih aja lu tonton"
"Ya biarin, ngehibur diri" sewotku.
Ujang terkekeh, tanpa belas kasih ia memukul kepalaku dengan remote tv ditangannya. "Jangan so soan tersakiti, aneh. Harusnya lu senang dicintai sama bini lu, bukan malah galau gini kaya ABG lu"
"Apa sih, enggak juga. Gue bukan galau, tapi kesal aja. Kok bisa tu cewe suka sama gue," heranku tak habis pikir.
Terdengar decakan kesal keluar dari mulut si ujang. "Bego, ya bisa lah. Cinta datang karena terbiasa, apa lagi kalian selalu bersama"
"Kalau kaya gitu, kenapa si Sinta gak cinta sama gue dulu. Padahal kita sering bersama dulu" keluhku menghembuskan napas lelah.
"Buset, lu masih ngarepin dia? Udah jadi bini orang bro, lagian salah lu sendiri gak pernah berani ungkapin perasaan lu sama dia"
"Bukan gak pernah, pernah tapi dia maunya sama orang kota" keluhku dengan nada kecewa. Masih teringat jelas penolakannya waktu dulu yang membuat luka ini kembali terbuka.
"Yaudahlah, lo mending fokus sama istri lu. Kasihan tuh dia nungguin lu, udah malam sana pulang"
"Gue belum selesai cerita malah lu potong dengan seenak jidat usir gue," kesalku.
"Udah malam, gue mau istirahat." Jawabnya.
"Kok gitu sih Jang, lu-"
"Pulang sana, kasihan si juragan" potongnya dengan membantu tubuhku untuk bangkit dan mendorongnya sampai keluar kamar.
"Jang, gue belum selesai bicara tentang si Sinta. Ah elah,"
"Gue muak banget kalau lu udah bahas dia. Kalau mau porotin hartanya si juragan gue ladenin sampai subuh!" Ujarnya lalu membanting pintu kamar membuat aku mengelus dada. Si ujang benar-benar gak berprikesahabatan emang. Padahal dulu, dia senang banget kalau gue curhat masalah si Sinta. Ini kok beda, aneh bener dah.
Dengan mengusap wajah kasar, aku bergegas pulang menggunakan sepeda motor butut kesayanganku. Langit malam tampak gelap tanpa bintang, seperti suasana hatiku yang muram. Jalanan sepi, hanya lampu jalan dan deru mesin motorku yang menemani perjalanan pulang. Setibanya di depan rumah, lampu teras masih menyala. Aku tahu Jingga belum tidur, mungkin masih menungguku seperti malam-malam sebelumnya.
Aku menarik napas panjang, mencoba menyiapkan mental. Rasanya setiap kali harus bertemu dengannya, aku merasa seperti pengecut-tak tahu harus bersikap bagaimana.
Saat aku membuka pintu, aroma khas bau tubuh Jingga menguar membuat aku terbatuk-batuk hampir tersedak. Langkah kaki ku terhenti, ketika netra ini menangkap siluet tubuhnya yang tengah asik membuat sesuatu di dapur.
"Akhirnya akang pulang juga," ucapnya pelan dengan menoleh kearahku masih dengan daster dan rambut yang digelung seadanya. Wajahnya tampak letih, namun matanya langsung berbinar menatapku.
"Mau jingga buatkan kopi atau teh, kang?"
Aku diam sejenak. Tawaran sederhana itu, dengan suara lembutnya, justru seperti tamparan telak di hatiku. Bagaimana bisa seseorang yang kusakiti dengan sikap dingin dan menghindar seperti ini, masih menyambutku dengan senyum dan perhatian hangat?
"Tidak usah, saya capek. Langsung ke kamar saja," jawabku ketus, langsung saja aku bergegas menaiki tangga, menuju kamar.
Jingga tak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali mengaduk-aduk sesuatu di atas kompor. Aku melangkah melewatinya, tapi sebelum benar-benar masuk kamar, aku sempat menoleh sejenak. Bahunya tampak sedikit berguncang. Entah karena lelah, atau mungkin karena ia menahan tangis. Tapi aku kembali memilih untuk diam dan berlalu meninggalkannya.
Begitu masuk kamar, aku terduduk di ujung ranjang. Tatapanku kosong, menembus dinding. Kata-kata Ujang tadi kini kembali terngiang di kepala.
“Jangan so soan tersakiti… Harusnya lu senang dicintai.”
Kenapa aku justru menjauhi perempuan yang dengan tulus mencintaiku? Apa karena aku masih belum berdamai dengan masa lalu? Atau karena aku takut tak bisa membalas perasaannya?
Aku tertunduk. Suara sendok yang beradu dengan gelas terdengar dari luar kamarku. Tak lama, pintu kamar diketuk pelan.
"Kang, Jingga sudah buatkan teh manis sama makan malam. Jingga simpan di meja ruang tv ya. Biasanya akang suka makan sambil nonton" ucap Jingga setengah berteriak dari luar.
Aku tak menjawab, hanya menatap pintu dalam diam. Tapi di saat itulah, aku sadar sesuatu. Bahkan dalam penolakan yang tak terucap pun, Jingga tetap memberikan perhatian. Tidak menuntut, tidak memaksa. Hanya ada kebaikan yang diam-diam ia berikan. Arhhhg sial, kenapa bisa sebaik itu sih?
Segera aku bangkit, melangkah pelan membuka pintu kamar. Di meja kecil, secangkir teh hangat mengepulkan aroma harum. Tapi yang membuat langkahku terhenti ialah saat melihat punggung Jingga yang menjauh memasuki kamar tamu.
"Kenapa masuk sana?!" tanyaku setengah berteriak membuat ia terperanjat kaget.
Aku menghembuskan napas, melihat keadaan sekitar. Untungnya kamar emak sama bapak berada di lantai bawah, jadi aku agak leluasa berbicara agak keras disini.
Jingga menoleh, "malam ini Jingga mau tidur di kamar tamu aja," jawabnya.
Aku menukikan kedua alis dalam. "Maksudnya?"
"Beberapa hari ini akang jarang pulang ke rumah, Jingga rasa ... Jingga penyebabnya. Mulai malam ini jingga tidur di kamar tamu aja kang, sekalian mau merenungkan kesalahan-kesalahan Jingga sama akang. Maaf ya kang,"Ucapannya begitu tenang, tapi ada luka yang tak ia sembunyikan. Seperti nada suaranya yang sengaja dijaga agar tetap datar, padahal matanya mulai basah. Aku menelan ludah, mendadak sesak melihatnya begitu. Kenapa hatiku malah nyeri saat ia mundur, hendak menjauh?
"Gak usah lebay deh!"kataku mencoba terdengar tegas, padahal hati ini ragu. "Enggak usah ngambil kesimpulan sendiri. Kamu gak tau apa-apa tentang saya!"
Jingga menunduk, lalu tersenyum tipis. “Maaf ya, kalau selama ini aku terlalu berharap. Mungkin aku memang terlalu berani dan murahan, bilang perasaanku ke akang. Tapi sekarang aku tahu… akang belum siap. Atau... mungkin memang enggak akan pernah siap.”
Mendengar pernyataannya aku terdiam, lidahku kelu. Netra ini menatapnya lama. Ada bagian dari diriku yang ingin menahan, ingin bicara jujur. Tapi lidahku kelu. Yang keluar justru kalimat bodoh lagi.
“Ya udah, terserah kamu. Kalau kamu pikir itu yang terbaik.”
Seketika, aku ingin meninju diri sendiri. Bodoh kamu, Ahmad!.
Jingga mengangguk. Tanpa kata lagi, ia masuk ke kamar tamu dan menutup pintunya pelan. Tidak dibanting, tidak keras, hanya perlahan... tapi bunyinya terdengar lebih menyakitkan daripada bentakan.
Aku berdiri mematung. Dada ini semakin sesak. Semua terasa salah. Sialan, apakah mulai malam ini bukan aku yang akan menjauh darinya, justru dialah yang akan menjauh dariku?
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
