menyebalkan

743 45 6
                                        

Pov Jingga

"Kamu kenapa, kok pucat gitu? Kenapa maksain ke sini?"

Itu suara Yudi, muncul dari balik tumpukan jerami kandang kelinci. Suaranya terdengar khawatir, tapi matanya masih sempat melirikku curiga seolah mencari tahu ada apa sebenarnya dengan rautku yang tak biasa pagi ini.

Aku menunduk, menyembunyikan wajah yang mungkin sudah kehilangan warna sejak tadi.

"Gak apa-apa," jawabku pelan, berusaha terdengar meyakinkan. Tapi tubuhku tak bisa diajak kompromi. Telapak tanganku dingin. Perutku sedikit mual. Dan sejak tadi, aku merasa seperti melayang.

Yudi mendekat, berdiri tepat di sampingku, lalu dengan seenaknya meletakkan punggung tangannya di dahiku. Aku refleks menepis.

"Jangan, Yud." Cegahku.

"Bukan mau ngapa-ngapain. Kamu panas. Sakit?"

Aku menggeleng. "Cuma kecapean, mamang dimana?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Yudi berdecak, lalu menghela napas panjang seperti sedang menahan kesal yang nyaris tumpah.

"Yaudah istirahat aja sana, gak usah maksain buat kerja. Lagi pula disini bos nya kamu, bebas juga kan"

Aku menggeleng. "Formalitas doang, buktinya-"

"Jingga, tolong layani semua pembeli. Mamang mau lihat dulu domba yang akan tanding buat besok!"

Aku menghembuskan nafas lelah ketika tiba-tiba saja mamang berteriak memotong pembicaraanku dengan Yudi.

Yudi melirikku, jelas tak rela, tapi dia juga tahu percuma membantah Mamang saat urusan domba sudah mulai serius.

"Aku bantuin deh, tapi kalau kamu pingsan, jangan salahin siapa-siapa ya," katanya sambil berdiri dan menyambut dua pembeli yang baru masuk dari ujung kandang.

Aku tersenyum samar, walau bibirku terasa berat. "Makasih," ucapku pelan.

Langkahku menyeret. Setiap kali menunduk untuk menyambut pembeli, kepala terasa berat seperti diisi kapas basah. Bau kandang yang biasanya sudah terbiasa di hidung, pagi ini terasa menyengat, menusuk, dan membuat perutku makin mual.

"Jangan dipaksain napa, sana rebahan aja gih. Biar mamang urusan aku nanti," ucap Yudi pelan, tapi nada suaranya tegas. Kali ini dia menatapku dengan sorot yang lain-bukan cuma khawatir, tapi juga sedikit marah. Marah karena aku terlalu sering menyangkal rasa sakitku sendiri.

Aku menggeleng. Lagi.

"Aku gak bisa ninggalin gitu aja, Yud. Tanggung jawab aku, ini semua..."

"Kalau kamu ambruk, yang lain juga bakal kerepotan, tau gak?" potongnya cepat.

Aku terdiam. Kalimat itu seperti tamparan yang gak perlu keras untuk membuat mataku panas. Aku menggigit bibir bawahku. Ada rasa sesak di dada, tapi bukan cuma karena fisik yang lemah. Lebih dari itu aku lelah menyembunyikan semuanya sendirian.

Aku menggeleng kuat. Tidak, aku bisa. Aku gak boleh lemah. Aku kuat.

Dengan berusaha tersenyum ramah, aku menghampiri beberapa orang yang tengah asik memilih kelinci.
Seorang ibu muda menyodorkan uang dan menunjuk dua ekor kelinci putih gemuk di sudut kandang. Aku mencoba tersenyum sambil mengambil uang itu, tapi tangan kananku gemetar begitu hebat hingga uangnya hampir jatuh.

Yudi segera sigap mengambil alih. "Saya bantu ya, Bu," katanya ramah, lalu melirik ke arahku yang sudah tak bisa menyembunyikan pucat dan lemasku lagi.

Aku mundur beberapa langkah, mencari tempat untuk duduk sebentar. Rasanya, aku memang perlu istirahat hari ini.

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang