Hari-hari berikutnya semakin terasa berat. Pagi itu, aku baru saja selesai mengecek gudang ketika Ujang datang dengan napas ngos-ngosan.
“Mad, gawat… kabar buruk. Tadi ane denger di pasar, Mamang sama Bi Rani udah main ke pemasok. Katanya mereka mau putus kontrak sama kita,” ucapnya cepat, keringatnya masih membasahi pelipisnya.
Aku terdiam sejenak. Bapak yang kebetulan ikut mendengar langsung mendekat, wajahnya terlihat begitu kaku. “Kalau itu bener, kita bisa repot ini Mad. Stok bahan kita masih cukup buat dua minggu ke depan. Setelah itu…”
“Setelah itu kita macet, bangunan yang sedang dibangun bukan cuma satu kan” potong Mail, suaranya lirih.
Jingga yang baru saja keluar membawa minuman langsung menaruh nampan di meja dengan keras. “Gila! Mereka tega banget. Apa harus segitunya ngincer kita?” kesalnya
Aku menarik napas dalam, berusaha untuk tenang. “Tenang dulu. Kita gak bisa panik. Justru mereka nunggu kita goyah. Kalau stok dari pemasok putus, kita cari jalur lain. Dunia ini gak sempit, pasti ada orang yang mau kerja sama sama kita.”
Bapak mengangguk setuju. “Betul, Mad. Masalahnya cuma waktu. Kalau telat dikit, proyek bisa kehabisan bahan dan akan mandeg lama.”
Mail yang biasanya tenang mulai terlihat cemas. “A, gimana kalau aku coba hubungi temenku yang bapaknya kerja di luar kota? Dia pernah cerita bapaknya kenal sama orang di distributor besar bahan bangunan.”
Aku menoleh cepat, mataku berbinar. “Itu ide bagus, Il. Segera hubungi dia, siapa tahu bisa jadi jalan keluar.”
Ujang menepuk paha, wajahnya terlihat bersemangat lagi. “Kalau gitu ane siap bantu ngurusin pengiriman. Biar sekaligus ane jaga barang sampai sini, takut ada yang coba main kotor lagi.”
Jingga terduduk di sampingku, wajahnya masih dipenuh dengan amarah. “Kang, kalau ini berhasil, Aku ingin merebut pondok dan rumah warisan orangtua ku dari mereka.”
Aku menatapnya, lalu menoleh ke semua yang ada. “Iya, itu tujuan akang dulu sayang, mm. Bukan cuma soal usaha dan harga diri akang saja tapi ini soal hak kamu dan Mail yang dirampas oleh mereka selama ini.”
.
.
.
Sementara itu di pondok, Mamang terlihat begitu gusar. Ia mondar-mandir sambil merokok, sementara Bi Rani duduk dengan wajah dinginnya.
“Gimana? Pemasok sudah pasti mutusin kontrak sama si Ahmad?” tanya Mamang.
Bi Rani menyeringai tipis. “Sudah. Mereka gak berani melawan kita. Tapi…” ia menatap suaminya dalam, “aku dengar Mail lagi cari jalur lain. Kalau itu berhasil, rencana kita bisa gagal.”
Mamang menghentikan langkahnya, wajahnya terlihat semakin tegang. “Kalau begitu, jangan kasih mereka kesempatan. Kita harus pastikan gak ada satu pun orang yang berani kerja sama sama si Ahmad.”
Bi Rani mengangguk pelan, senyum liciknya semakin lebar. “Tenang, Mas. Aku sudah siapkan cara. Kali ini, mereka pasti tersungkur.”
.
.
.
Di rumah, malam itu aku duduk di beranda bersama Bapak. Angin berhembus pelan, tapi pikiran terasa begitu berat.
“Mad,” suara Bapak memecah hening, “kamu harus kuat. Lawan orang licik itu gak mudah. Tapi ingat, mereka cuma bisa berkuasa kalau kita takut. Selama kita berani berdiri, mereka akan capek sendiri.”
Aku menatap langit malam, bintang-bintang bertaburan. Dalam hati, aku bersumpah, apapun rencana Bi Rani dan Mamang, aku tak akan mundur.
Keesokan harinya, saat kamu sarapan Mail tersenyum begitu cerah. Wajahnya penuh dengan semangat.
"Kenapa kamu teh Il? Teteh perhatikan wajahmu bahagia sekali, sedang kasmaran gitu?" tanya Jingga dengan kening yang mengernyit dalam, penuh kebingungan.
Mail menggeleng cepat. "Bukan teh, tapi ini Mail punya kabar baik buat kalian" katanya dengan senyum yang tak memudar dari wajah tampannya.
Aku, Bapak, dan emak yang tengah asik menikmati sarapan sontak menoleh. “Temenku beneran bisa bantu! Dia kenal sama distributor besar di kota. Mereka mau kirim bahan langsung ke kita, tanpa lewat pemasok biasa. Jadi, kalaupun Mamang sama Bi Rani mutusin jalur lama, kita masih aman!”
Dengan bahagia Jingga langsung beranjak, menepuk bahu Mail dengan keras. “Mantap, Il! Teteh suka semangat begini. Gak percuma juga kamu cabut dari rumah mamang dan ikut teteh!”
Bapak ikut tersenyum, meski wajahnya tetap serius. “Bagus, Il. Itu langkah berani. Tapi pastikan benar-benar aman. Jangan sampai mereka tahu duluan.”
Aku menepuk bahu Mail dengan bangga. “Kamu hebat, Il. Ini langkah pertama buat nunjukin kita bisa berdiri sendiri.”
"Mail gitu loh," pujinya menyombongkan diri.
Aku tersenyum, tapi dalam hati aku sadar, Mamang dan Bi Rani pasti gak akan diam kalau tahu ini.
Sementara itu, keadaan pondok begitu kacau. Mamang menggebrak meja ketika mendapat kabar dari anak buahnya.
“Apa?! Ahmad dapet jalur baru?!” suaranya meledak, membuat beberapa pekerja kaget.
Bi Rani menyipitkan mata, wajahnya penuh amarah. “Sial. Aku sudah peringatkan. Mereka gak boleh dapat kesempatan sekecil apapun. Kalau jalur baru itu jalan habislah kita mas"
Mamang menghela napas kasar, wajahnya merah padam. “Kalau begitu, kita gak punya pilihan lain. Kita harus tekan orang kota itu. Biar mereka juga takut kerja sama sama Ahmad.”
Bi Rani menyeringai, kali ini lebih kejam dari sebelumnya. “Serahkan padaku. Aku tahu caranya.”
💫💫💫
Mohon maaf gaes, aku percepat alur permusuhan ini😭 udah muak bacanya, males revisi, mau langsung up ke momen romatis aja. Gak papa kan?🤧🙏
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
