Bubur perdamaian

633 41 2
                                        

Cahaya pagi menyelinap malu-malu lewat celah tirai. Kamar masih remang, tapi cukup terang untuk melihat wajahnya yang tampak lebih tenang. Aku belum tidur semalaman. Tak berani. Tak mau. Rasanya kalau aku memejamkan mata, semua ini bisa menghilang seolah ia hanya mimpi yang akan sirna saat aku bangun.

Aku tersenyum cerah mendapati Jingga yang masih terlelap dipelukanku. Ku hirup aroma tubuhnya yang biasanya bau, kini rasanya tercium begitu wangi. Entah kenapa, padahal seharian kemarin aku tau Jingga tidak mandi.

Tanganku terangkat, menyingkap beberapa anak rambut yang menghalangi wajahnya.

Baru kusadari, ternyata Jingga cantik banget kalau tidur. Manis juga, masyaAllah. Kenapa aku sebuta itu sih dulu?

Aku menatapnya lama. Jantungku pelan-pelan jatuh lagi. Kali ini tanpa perlawanan.

Malam tadi, Jingga menangis di pelukanku. Bukan karena aku hebat menguatkan, tapi karena akhirnya dia gak harus kuat sendirian. Rasanya seperti diizinkan masuk kembali ke ruang terdalam hatinya, meski mungkin baru di ambang pintu.

Aku menarik napas pelan. Masih ada sisa asin dari air matanya di baju yang kupakai semalam. Tapi anehnya, itu membuatku merasa benar-benar hidup. Terhubung.

Mataku menyapu wajahnya pelan. Hidung kecilnya, alis yang agak berantakan, bibir yang sesekali bergeming seperti sedang bicara dalam mimpi. Bahkan matanya yang bengkak pun terlihat... damai.

Ya tuhan, maka nikmat mana lagi yang harus aku dustakan?

Seketika tenggorokanku tercekat. Ada yang menyesak di dada, campuran bahagia, haru, dan takut kehilangan. Rasanya seperti menemukan rumah yang sempat hilang dari peta. Rumah yang dulu kuabaikan karena kebodohan, dan kini, entah kenapa, Tuhan masih memberiku kunci untuk mengetuk kembali pintunya.

Tiba-tiba, tubuh Jingga bergeming. Ia menggeliat pelan, lalu mengerjap, mencoba menyesuaikan mata dengan cahaya samar yang mulai masuk. Tatapan pertama yang dia berikan adalah ke arahku. Dan anehnya, dia tidak langsung menghindar.

"Selamat pagi ..." bisikku nyaris seperti rahasia.

Ia terperanjat, buru-buru menjauhkan tubuhnya dariku. Ia menarik selimutnya kembali, menutupi seluruh tubuhnya.

Aku tersenyum geli memperhatikan. "Hei, sayang. Sini, tidur lagi di pelukan akang" pintaku lembut dengan tangan terulur menyentuh pundaknya.

Jingga menoleh perlahan dari balik selimut. Matanya masih menyisakan bekas tangis semalam,"Jangan manggil aku 'sayang' tiba-tiba gitu, Kang," gumamnya pelan, suaranya serak. "Aneh."

Aku tertawa kecil, tapi tidak mendesak. Tanganku masih terulur, tidak memaksa, hanya menunggu. Seperti aku menunggunya selama ini. Oh ternyata gini perasaan Jingga dulu ketika mengejarku, ya tuhan berdosa sekali aku.

"Aneh karena kamu belum biasa, atau aneh karena kamu takut suka lagi?" tanyaku sambil tersenyum, setengah menggoda, setengah serius.

Jingga berdecak. "Dua-duanya, sana ah. Aku mau lanjut tidur lagi,"

"Gak shalat subuh dulu sayang? Ini udan jam lima lebih" peringatku.

Jingga menggerutu, ia berbalik memunggungiku dengan selimut yang masih menggulung ditubuhnya.

"Udah mendingan kan sakitnya? Kalau mau shalat, biar akang bantu kamu ke kamar mandi ambil wudhu" tawarku pelan.

"Gak usah, aku bisa sendiri!" Ia menjawab dengan nada ketus, berusaha beranjak dengan memegang kepalanya yang mungkin masih terasa nyut-nyutan.

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang