Tanpa terasa dua minggu sudah sejak kami baikan, Jingga semakin bucin padaku begitu pun aku. Entah kenapa, rasanya Jingga adalah duniaku. Segalanya hanya tentangnya saja, tidak ada yang lain.
Namun aku bahagia, sungguh. Jingga menjalankan perannya sebagai istri sesungguhnya dan aku masih belajar menjadi suami yang baik untuknya.
Selama ini kami masih tinggal dirumah gedongan milik Jingga yang dihuni beberapa keluarga yang menyesakkan bahkan menyebalkan terlebih bibi Rani, ia semakin kentara saja memperlihatkan sikap tak sukanya padaku. Anak-anaknya? Sama, mereka juga tak suka ada aku dan Jingga disini.
Seperti pagi ini, aku tengah membuatkan secangkir teh manis lengkap dengan kudapannya. Tiba-tiba saja bibi Rani datang dengan tampang judesnya.
"Enak ya bangun pagi, udah nyeduh teh manis sama biskuit," ucapnya sambil melirik sinis ke arahku. Tangannya terlipat di dada, dan langkahnya menghentak lantai seolah ingin menunjukkan bahwa keberadaanku mengganggu.
"Iya dong, gini ya ternyata tinggal di rumah gedongan dengan banyak pembantu. Apa-apa dilayani, mantap kali bi. Pantesan betah" ucapku sambil tersenyum manis, sengaja kubalas sindirannya dengan gaya santai agar tak terlihat rapuh. Tapi tentu saja, dalam hati aku ngedumel habis-habisan. Sialan tuh emak-emak rempong, masih pagi udah merusak mood.
Ia mendengus. "Kau pikir enak numpang hidup sama istri? Laki-laki kok enggak punya harga diri."
Kalimat itu cukup keras untuk membuat jemariku yang memegang cangkir teh bergetar. Tapi aku tetap tersenyum menanggapinya. "Tenang, Bi. Harga diri saya masih utuh, kok. Belum dijual."
Bibi Rani mendelik kesal. "Harga diri orang miskin kaya kamu itu gak laku,"
Aku tersentak mendengarnya, namun beberapa detik kemudian aku semburkan tawa dihadapannya.
"Buset mulutnya itu bu, gak sekolah ya? Gak nyadar diri sendirinya aja lebih miskin sampe numpang hidup dikeluarga istri saya. Haha"
Bibi Rani langsung melotot mendengar jawabanku. Wajahnya merah padam, matanya membulat seperti hendak melahapku bulat-bulat. Aku tahu dia terbakar, tapi aku memang sengaja melempar bensin ke bara yang sudah menyala. Kadang, aku capek juga terus-terusan sabar di rumah yang tak pernah menganggapku benar-benar bagian dari keluarga.
“Kau bilang apa barusan?” bentaknya, telunjuknya nyaris menancap ke wajahku.
Aku tetap tenang. Kugenggam cangkir teh yang sudah tak sepanas tadi, lalu kuseruput pelan-pelan sambil menatap matanya yang menyala. "Saya bilang, jangan nyinyir kalau diri sendirinya aja masih numpang hidup juga, bertahun-tahu lagi. Gitu aja repot."
Seolah tak terima, bi Rani nampak menatapku tajam. Wajahnya memerah menahan amarah.
"Saya dan keluarga gak numpang hidup. Justru istri kamu dan adiknya!" Ia menjawab dengan kesal.
Aku tersenyum sinis. "Padahal semua hartanya ini milik istriku dan adiknya tapi yang bersikap seolah-olah nyonya dan tuan kalian. Serakah,"
Tanpa menunggu balesan, Aku memilih untuk meninggalkannya dengan kekesalan. Secangkir teh untuk Jingga yang sudah tak terlalu panas ku bawa bersama kudapannya.
Aku melangkah menuju kamar kami di lantai dua, melewati lorong rumah yang memiliki aura-aura tak enak. Mungkin, karena banyak penghuni jahat disini.
Sesampainya di kamar, aku melihat Jingga tengah bersolek dengan rambut yang ia kepang cantik. Wajahnya yang natural kini semakin cantik saat ku lihat ia tengah ber make up.
"Mau kemana hemm, sepagi gini udah cantik aja istriku?" tanyaku dengan meletakan teh dan kudapan diatas nakas.
Jingga menoleh, melontarkan senyum yang begitu manis padaku. Ah meleleh akang, neng.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
