sebuah ancaman

344 28 0
                                        

Jingga pov

"Apa-apaan ini Jingga? Kau mau mengkhianati usaha keluarga kita?"

Aku tersentak kaget ketika tiba-tiba saja suara bi Rani terdengar begitu nyaring dipenuhi amarah yang tak terbendung.

Tangannya seketika menarik tubuhku agar segera berbalik menghadapnya.

"Keterlaluan kamu! Kau mau membalas air susu dengan air tuba?"

Aku menelan ludah, tenggorokanku tercekat. Bukan karena takut, tapi karena aku tahu, apa pun yang akan kujelaskan sekarang tak akan langsung dipercaya. Tatapan bi Rani penuh kekecewaan, seperti seorang ibu yang mendapati anaknya mencuri untuk pertama kali.

"Apa maksud bibi?" tanyaku pelan, penuh dengan kepura-puraan padahal aku tau, kemarahannya disebabkan oleh rencana kang Ahmad yang mau membuat usaha di tanah yang sudah kuberikan.

"Sudah!" hardiknya, matanya berkilat. "Kau pikir aku bodoh? Aku melihat sendiri bagaimana suamimu berusaha untuk menyaingi bisnis keluarga ini, atau apakah kamu juga sekongkol dengannya?"

Tubuhku melemas seketika. Nama Kang Ahmad disebut, itu berarti semuanya memang sudah terbuka. Ya allah tolong lindungi suamiku, aku tau bi Rani dan mamang adalah dua orang yang nekad.

"Bibi juga dengar dari warga kalau rencana usaha suamimu itu melebihi usaha keluarga ini!"

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan gemetar yang mulai merambat di jemariku.

"Jadi desas desus warga sudah sampai ketelinganya," gumamku dalam hati.

"Kalau sampai itu terjadi, bibi gak akan biarkan kamu dan suami kamu hidup dengan tenang Jingga!"

Aku terdiam. Kata-kata Bi Rani barusan bagaikan gemuruh petir di tengah hujan deras—mengguncangku sampai ke akar jiwa.

Mataku membulat, tak percaya dengan kalimat terakhirnya.

"Bibi... apa maksud Bibi?" tanyaku pelan, tapi tak bisa menyembunyikan getaran di suaraku.

"Bibi serius, Jingga!" serunya lantang. "Kalian pikir bibi akan tinggal diam melihat usaha yang dibangun pamanmu ini hancur gara-gara ulah suamimu? Tidak akan!"

"Tapi bibi lupa, usaha ini milik ayah dan ibuku. Dia yang memulai dari nol, sementara kalian hanya melanjutkan. Kalian hanya benalu yang berusaha merebut kekayaan keluargaku" aku bergumam lirih lebih kepada diri sendiri.

Suasana mendadak membeku.

Kalimatku barusan mungkin pelan, tapi cukup jelas untuk membuat mata Bi Rani membelalak. Wajahnya memucat, entah karena marah atau terkejut, aku tak tahu pasti. Tapi dari caranya mengepalkan tangan dan menarik napas panjang, aku tahu aku telah menyentuh sesuatu yang selama ini disimpan rapat.

"Apa... kau bilang tadi?" tanyanya, suaranya rendah namun mengguncang seperti gemuruh dari dalam tanah.

Aku menggigit bibir, tahu aku telah melangkah terlalu jauh. Tapi lidahku telanjur lepas, dan hatiku juga lelah memendam semua luka yang selama ini tertahan.

"Yang seharusnya dibilang benalu itu kamu dan adikmu, kalau saja pamanmu tidak memiliki hati yang baik. Mungkin saya akan mengusir kalian dari dulu!"

Kata-kata Bi Rani meledak seperti bom yang selama ini tertahan di dalam dada. Suaranya bergetar hebat, seolah baru saja melepaskan luka yang selama ini dia simpan rapi di balik senyum dan sikap tegasnya.

Aku tercekat, namun detik kemudian aku tertawa pahit.

"Itu tidak akan terjadi, aku dan mail tidak akan pernah membiarkan kalian menikmati kekayaan ini seutuhnya"

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang