"Mau beli apa lagi sih, ini udah banyak loh?" aku bertanya sembari mendorong troli yang terisi penuh dengan barang belajaan kami, saat kami tengah menelusuri lorong mini market siang ini.
Jingga menoleh, "simpan dulu itu trolinya kang, biar Jingga ambil lagi troli baru" ujarnya berjalan mendekat, menyimpan beberapa cemilan kedalam troli yang ku dorong sudah terisi penuh.
"Udah ya, kita pulang. Kamu beli barang sebanyak ini emang ada uang? Saya kan cuma ngasih kamu delapan ratus ribu sebulan, mana cukup" pintaku memelas. Ada rasa menyesal terlintas dalam diri, mengapa aku mau menemaninya belanja siang ini? Kalau tau ujungnya begini, aku lebih baik tidak pulang dari sekolah, beristirahat di ruang guru akan terasa menyenangkan barangkali.
Jingga hanya terkekeh, senyum nakalnya tampak jelas di wajahnya. "Akang lupa? Jingga ini siapa?"
"Juragan," gumamku menghembuskan nafas lelah. Senyum nakalnya masih ia sunggingkan, tangannya mengambil alih troli ini dariku. "Nah itu akang tahu, jingga bisa bayar ini semua kalau perlu mini marketnya Jingga beli" sombongnya membusungkan dada.
Aku mendesah, mataku menatap tumpukan barang yang ada di dalam troli. Mulai alat mandi, sembako dari susu, roti, lalu berbagai cemilan dengan jenis ciki-cikian, buah-buahan, es krim, hingga berbagai jenis mie instan yang entah kapan akan habis.
"Jangan terlalu boroslah, meskipun itu uang kamu tapi siapa yang akan menghabiskannya?"
Jingga berhenti sejenak, menatapku dengan mata berbinar. "Tenang saja kang, ini bukan buat kita saja. Tapi buat keluarga akang dan anak-anak panti di desa sebelah." ungkapnya. Dia kembali melanjutkan langkahnya, menambah beberapa bungkus permen ke dalam troli yang sudah mulai terasa berat.
Aku menggelengkan kepala, tak tahu harus berkata apa lagi. "Emm, tapi kamu gak perlu belanjain kebutuhan keluargaku, mereka mampu kok"
Jingga berhenti sejenak di tengah lorong, menatapku dengan ekspresi yang sulit aku baca. Dia sepertinya sedang mempertimbangkan kata-kataku. Setelah beberapa detik, dia mengangguk pelan, lalu kembali menggenggam troli dengan dua tangan. "Aku tahu, Kang," katanya dengan suara lembut, "tapi sekarang keluarga akang, keluarga Jingga juga kan? Jingga mau kalian menikmati juga hasil kerja kerasku, maaf bukan jingga menghinakan tapi ini cara jingga untuk mencoba berbakti kepada keluarga akang"
Aku terdiam mendengarnya, kata-kata Jingga begitu terdengar tulus dan langsung menusuk ke hati. Sejujurnya, aku tidak pernah berpikir bahwa bagi Jingga, akan menganggap keluargaku sebagai bagian dari hidupnya. Rasanya ini terlalu aneh dan seketika ulu hatiku terasa di hantak ribuan godam, begitu memilukan saat aku teringat bagaimana perlakuanku terhadapnya. Terkesan dingin dan bahkan kata-kataku selalu menyakiti hatinya.
Jingga melanjutkan langkahnya, menggenggam erat troli yang sudah penuh dengan barang belanjaan. Wajahnya tidak menunjukkan raut kekesalan, hanya ketenangan yang seolah tidak tergoyahkan oleh apa pun.
Aku menghembuskan nafas kasar lalu kembali merebut troli itu ke tanganku. "Sudah biar akang saj, sana kalau belum selesai ambil lagi yang baru" ujarku lembut.
Jingga mengangguk antusias, ia melepaskan genggaman tangannya dari troli, kemudian berlari kecil kearah selatan tempat troli kosong itu berjejer.
Dua troli sudah terisi penuh dengan berbagai macam belanjaan, aku mengusap wajah kasar saat melihat para petugas mini market berbondong-bondong membantu kami memasukan belanjaan yang sudah di bayae kedalam kardus besar.
"Belanjaan sebanyak ini, minimal beli deodoran lah ya, biar gak bau ketek" salah satu petugas yang tengah memasukan beberapa barang ke dalam kardus besar itu berseloroh, membuatku sedikit terkejut.
Perkataannya mengingatkanku akan kekurangan yang dimiliki Jingga. Ya tuhan, kapan bau badannya itu bisa hilang? Padahal sudah ku usahakan untuk tidak tercium baunya dengan menyuruhnya mandi dan memakai parfum.
"Kalau packing, ya packing aja gak usah ngatain sembarangan" ketusku berusaha untuk membela.
Petugas yang bercanda tadi hanya tersenyum, sementara aku mencoba mengalihkan perhatian dengan menyibukkan diri memindahkan barang-barang yang sudah dibayar ke dalam kantong plastik. Tak lama, Jingga kembali dengan troli ketiga yang sudah terisi penuh. Saat dia mendekat, aku bisa melihat wajahnya yang cerah, "masyaAllah, kirain saya cuma dua troli"
"Kurang itu, anak panti soalnya banyak banget sekarang kang. Hehe"
Aku terkekeh, lalu melihat ke arah petugas yang kini sudah menutup hidungnya. Sigap sekali.
"Kecapean kali tuh, jadinya berkeringat. Bau" celetuknya. Ingin rasanya aku melawan, namun apalah daya tangan tak sampai. Bukan apa-apa, takutnya jingga menyadari dan melukai hatinya.
"Udah di bayarkan? Ayo kita keluar dulu, akang mau bawa mobilnya kedepan, kamu biar istirahat aja di dalam mobil kesihan capek" ajakku berusaha membuat Jingga menjauh dari orang-orang yang tidak pernah tau menghargai serta menjaga hati orang lain.
Ku lihat senyum Jingga merekah saat tangan ini tanpa sadar sudah menggenggamnya. "Aku mau es kelapa kang, bisa dibeliin?"
Segera aku mengangguk, "tentu, ayo ikut. Akang udah gak betah disini, panas banyak orang-orang munafik" cibirku kembali menyindir para petugas yang berdiri di sampingku, seketika mereka terdiam saat aku berjalan menatap mereka dengan tajam lalh menarik lengan Jingga untuk segera menjauh dari mereka.
"Kamu tunggu di mobil ya, biar akang belikan es kelapa di depan sana. Jangan keluar, biar petugas mini market yang ngangkut barang, akang udah suruh satpam mengawasi" pesanku bak seperti ayah pada putri kecilnya.
"Iya kang, jingga tunggu di mobil ya" ia menurut, lalu berjalan mendekat kearah mobil pick up miliknya yang tak jauh dari lokasi.
"Bagus," gumamku.
***
Matahari siang ini terasa terik, tapi aku merasa ada sesuatu yang lebih berat yang menekan di dalam dada. Sesampainya di tempat penjual es kelapa, aku menghampiri gerobak yang tampak sepi, hanya ada seorang pria tua yang tengah sibuk menyiapkan minuman.
"Es kelapa dua," ucapku singkat.
Pria itu mengangguk, lalu dengan cekatan ia membuka kelapa muda dan menyajikannya.
"Ini kang," ujarnya menyodorkan dua bungkus es kelapa munda ke tanganku. Aku mengangguk menerimanya lalu memberikan selembar uang berwarna merah.
"Kembaliannya ambil aja," ujarku geli menirukan orang kaya dermawan saat membeli sesuatu ke pedagang kaki lima.
"Tapi ini kebanyakan,"
"Udah saya ikhlas," putusku
"Makasih ya kang, semoga rezekinya lancar terus, punya istri yang solehah, dan diberi ke utugan rumah tangga yang langgeng"
Aku meringis mendengar doa terakhir yang diucapkannya. Apakah doanya akan terijabah?
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomansaAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
