Hiks ... Hiks ...
Aku terdiam cukup lama memperhatikannya, setelah persenggamaan kami. Jingga tak henti-hentinya menangis, mungkin semalaman ia juga tak tidur.
Entah kenapa, padahal saat itu kami sama-sama menikmati. Eh, ralat mungkin aku saja yang menikmatinya sementara Jingga? Entahlah, dia tak menunjukan ekspresinya sama sekali tapi sesekali ku dengar ia juga ... ah sudahlah.
Hening.
Yang terdengar hanya suara tangis tertahan itu.
Aku terduduk di sisi ranjang, punggungku membungkuk, kedua tanganku menutup wajah. Perasaanku kacau. Nafasku masih berat, bukan karena lelah… tapi karena guncangan yang tak kunjung reda.
Jingga masih memunggungiku. Tubuhnya menggigil, bahunya naik-turun menahan isak yang tak bisa ia bendung lagi.
Sial. Apa yang sudah kulakukan?
Tadi… aku kehilangan kendali. Dikuasai cemburu, ego, dan luka lama yang belum sembuh. Aku tidak berpikir, hanya merasa. Merasa berhak, merasa pantas, merasa paling disakiti.
Tapi sekarang, melihat punggung mungil yang gemetar itu, aku sadar, aku bukan hanya menyakitinya. Aku telah menghancurkan sesuatu yang tak mungkin bisa utuh kembali.
"Jingga..." suaraku serak, nyaris tak terdengar.
Ia tak menjawab. Tak menoleh. Tapi isaknya sedikit melemah, seolah tak ingin aku dengar, seolah sedang mencoba menyembunyikan luka yang aku timbulkan.
"Aku... aku minta maaf..."
Kalimat itu bak seperti lumpur di lidahku. Berat, terlambat. Tapi tetap harus ku ucapkan.
Jingga masih tak menjawab, kini bahkan tangisnya kembali pecah. Tersedu-sedu, membuatku pusing mendengarnya. Hingga aku kesal sendiri.
"Aku udah minta maaf, bisa gak kamu diam nanti emak sama bapak dengar" ucapku dengan mendekatinya, kembali memperbaiki selimut dari tubuh Jingga yang hampir melorot.
"Kamu jahat!" ucapnya.
Aku berdecak, menggaruk kepala yang tak gatal dengan kasar.
"Iya aku jahat, aku minta maaf ya"
Bukannya kalimat itu menenangkannya, ini malah dibuat nangis kejer sampai telingaku kepanasan.
"Ck. Diam gak? Kamu bikin aku prustasi, kaya kamu itu seolah-olah jadi korban pemerkosaan!" kesalku.
Jingga berbalik, ia bangkit dari pembaringan dengan mengeratkan selimut dari tubuhnya.
"Emang iya, akang gak nyadar?" tanyanya dengan nada kesal.
Aku menggeleng. "Ck. Kita suami istri Jingga, mana ada kaya gitu" ucapku terjeda, pandangan kami saling bertemu.
"Kita sama-sama-"
"Apa? Akang mau bilang kita sama-sama mau, iya? Enggak ya kang, jingga gak mau. Akang yang maksa," protesnya.
"Tapi en-"
"Apa? Ngomong sekali lagi, Jingga tendang!"
Aku berdecak kesal, memilih beranjak untuk membersihkan diri terlebih dulu. Rasanya air dingin cocok untuk menjernihkan pikiranku saat ini.
Di balik pintu kamar mandi, suara air mengalir memenuhi ruangan. Tapi pikiranku tak ikut mengalir—ia mengendap, beku, penuh dendam pada diriku sendiri. Suara Jingga masih terngiang di telinga. Kata-katanya barusan bukan hanya tuduhan tapi itu kenyataan yang tak bisa ku tampik. Entah sejak kapan aku berubah jadi laki-laki macam ini. Yang merasa punya kuasa hanya karena selembar buku nikah.
Aku menatap bayanganku di cermin. Mata merah, rambut awut-awutan, sisa air menetes di leher. Tapi bukan itu yang menggangguku—yang kulihat di balik pantulan itu adalah seseorang yang asing. Seseorang yang tak pernah kupikir akan kutemui dalam diriku sendiri.
Saat aku keluar dari kamar mandi, Jingga sudah berpakaian lengkap. Matanya bengkak, rambutnya dikuncir seadanya. Ia tengah membereskan tas, menyusun pakaian dalam lipatan cepat dan kasar.
"Mau kemana?" tanyaku pelan. Duduk disampingnya dengan masih bertelanjang dada.
Jingga tak menggubris. Hanya sekali menarik napas keras, lalu melanjutkan memasukkan mukenanya ke dalam tas. Jemarinya gemetar.
"Mau kabur, iya? Aku mau tanggung jawab ini, kamu jangan gini dong. Mukannya ini kemauan kamu dari dulu, kamu juga dulu suka ngerayu aku"
Ia menghentikan gerakannya. Menatapku sebentar. Tajam, penuh luka. Lalu ia bicara.
"Aku menyesal kaya gitu kang, aku butuh waktu buat sendiri" ucapnya pelan, nyaris tak terdengar.
Aku diam. Lidahku kelu. Kalimatnya pendek, tapi tajam dan benar. Aku tahu dia gak cuma sedang marah. Dia kecewa. Sama aku. Sama dirinya sendiri.
“Sendiri?” ulangku pelan, hampir tak terdengar.
Jingga mengangguk. Wajahnya datar, tapi matanya... matanya seperti menyimpan badai yang belum tuntas.
"Aku butuh udara segar untuk berpikir kang, kenapa ini bisa terjadi. Kenapa akang tega nyentuh aku dengan cara yang bikin hati aku sakit, aku butuh ruang untuk menyembuhkan segala luka"
Aku menunduk. Kata-kata Jingga menghantam lebih keras daripada tamparan apa pun. Bukan karena dia membentak, tapi karena dia berkata jujur, tentang luka yang aku buat, tentang sentuhan yang seharusnya penuh cinta tapi berubah menjadi beban.
Aku ingin membela diri. Ingin berkata bahwa aku pun terluka, bahwa aku juga manusia yang bisa salah. Tapi detik itu, aku tahu, diam lebih pantas. Karena semua pembelaan hanya akan terdengar seperti alasan.
"Jingga..." aku mencoba bicara, tapi suaraku serak. Terputus di tenggorokan.
Ia tidak menjawab. Hanya merapatkan resleting tasnya, lalu berdiri. Wajahnya tertunduk sejenak, mungkin berusaha menyembunyikan isak terakhir sebelum benar-benar pergi.
Ketika ia berjalan melewatiku, ada jeda. Kaki kami nyaris bersentuhan. Tapi tak ada pelukan, tak ada genggaman, hanya hening yang membelah kami.
"Tunggu sebentar, biar akang antar. Mau pergi ke rumah siapa? Pondok atau rumah kamu yang ditempati keluarga mamang?"
Jingga berhenti sejenak di depan pintu. Tak menoleh, tak juga menjawab. Hanya suara nafasnya yang berat, seperti menahan sesuatu yang hampir meledak dari dadanya.
Beberapa detik yang terasa seperti selamanya berlalu, lalu ia menggeleng pelan.
“Gak usah,” katanya lirih. “Aku gak butuh diantar. Cukup akang tahu… aku butuh pergi.” ketusnya.
Aku mengusap dada pelan, berusaha untuk tetap bersabar. Lalu beranjak mendekatinya.
"Ke pondok ya, jangan lama-lama ya." tanyaku lagi, mencoba menebak, atau mungkin hanya ingin memastikan bahwa aku masih punya sedikit tempat dalam hidupnya meski sekadar sebagai seseorang yang tahu dia aman.
Jingga mendongak, cukup untuk memperlihatkan mata yang bengkak tapi teguh. “Iya,” jawabnya. “Untuk sekarang.”
Aku mengangguk cukup lega saat tau tempatnya untuk menyepi. "Baiklah akang izinkan, supaya malaikat tidak melaknat istri akang ini" sindirku.
Kedua mata bengkaknya membola. "Kang, bisa gak sih kalau ngomong gak pedis? Nyakitin," protesnya.
Aku menggeleng. "Akang hanya mengingatkan, toh dalam islam istri yang meninggalkan rumah tanpa izin suami—"
“Cukup!” potong Jingga. Nada suaranya naik, tapi bukan karena amarah. Lebih seperti benteng terakhir yang sedang ia tegakkan agar dirinya tidak hancur lebih dalam lagi. “Jangan bawa-bawa agama kalau ujungnya cuma buat melegalkan rasa bersalah akang.”
Aku terdiam. Nafasku tertahan.
"Kalau memang mau bicara soal Islam," lanjutnya pelan, "coba tanya ke diri sendiri... adil gak perlakuan akang ke aku semalam? Rasul itu lembut sama istrinya, Kang. Rasul itu bahkan tak pernah memaksa." ujarnya dengan tangis tertahan.
"Maaf-"
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomansAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
