perdebatan kecil

1.1K 42 0
                                        

Jingga tetaplah Jingga, meski mandi berjam-jam dengan sabun beraroma strawbery milikku tetap saja aroma tubuhnya menguar tidak sedap entah kenapa. Padahal mandinya juga baru selesai dua jam yang lalu.

Aku misuh-misuh saat Jingga mendekati, emak sama bapak entah kemana sedari pulang tadi tak kelihatan batang hidungnya.

"Kamu kenapa sih kang, kok kaya gak suka gitu dekat sama aku?" Jingga bertanya dengan raut wajah sedih saat aku menggeser dudukku dengan sangat jauh dari arahnya.

Aku mengedikkan bahu sebagai jawaban, kedua netra ini terus fokus menatap layar kaca yang menampilkan serial naruto kesukaanku.

"Kang," panggilnya lagi, namun kali ini ia menyerah tak lagi mendekatiku.

Aku mendengus sebal, "apa sih? Lagi fokus juga" keluhku.

"Akang dari tadi belum sarapan, minum juga Jingga gak lihat tadi. Mau dibikini menu sarapan apa?" tawarnya.

Mendengar tawaran itu, bukannya senang jelas aku malah menolak dengan gelengan tegas. "Gak usah!" Ucapku sembari terus fokus menonton.

"Kenapa? Jingga bisa masak kok," akunya dengan penuh keyakinan.

Masalahnya bukan itu, mau dia bisa masak atau enggak. Aku gak peduli, yang aku peduliin sekarang itu gimana caranya agar aroma di tubuhnya itu menghilang!

Aku akui, Jingga itu cantik, hitam manis dengan bibir tipis dan dua lesung pipitnya. Bentukan tubuhnya juga ramping, pakaian apa saja nanti pasti akan cocok di tubuhnya tapi masalahnya aroma nya, ya yang membuat aku belum merasakan jatuh cinta itu ya karena itu.

Aku yakin cinta akan hadir karena terbiasa, tapi kalau kondisinya kaya gini, aku tetap tidak yakin sama sekali.

"Akang juga bisa masak kalau kamu mau tau, gak usah repot-repot segala deh" ucapku malas.

"Kalau akang bisa masak, kenapa akang gak pernah masakin Jingga?"

Ya salam, ini perempuan dari mana sih? Dia gak nyadar apa pernikahan kita aja baru beberapa hari tapi udah pengen di masakin. Ya kali ...

"Mau?" tanyaku mengangkat satu alis dengan senyum meremehkan.

Jingga tersenyum sumeringah, dengan mengangguk antusias. Tubuhnya kini kembali bergeser mendekatiku.

"Kalau boleh nawar, Jingga pengen dimasakin rendang boleh gak?"

Aku tersentak, seketika pandangaku beralih dengan menatapnya sinis. "Rendang?" tanyaku memastikan.

"Iya rendang, itu menu favoritku dulu waktu emak sama abah masih ada atau kalau enggak, aku mau sayur sop aja deh" pintanya.

Aku menggeleng, tertawa sumbang. "Ngarep banget mau akang masakin, yang ada bukan dimasakin tapi kamu yang akan akang masak jadi menu pagi ini!"

"Akang ih ..." Kesalnya melempar bantal sofa dengan keras kearahku.

"Dih, gak usah ngarep makannya. Udah sana kalau lapar makan yang ada aja, jangan masakin buat saya. Saya tidak akan makan hari ini ..." Uajrku menepis bantal tersebut dengan cepat.

"Akang puasa?" tanyanya memotong pembicaraanku.

"Enggak! Akang mau makan di rumah padang, sama rendang" jawabku sekenanya.

"Ikut!" pintanya dengan memelas.

"No, makan yang ada aja kamu mah. Akang mau me time sama diri akang, gak usah ganggu" tolakku keras.

Jelas aku akan menolak, nanti yang ada selera makanku disana bukannya nambah malah berkurang. Bukan hanya aku, nanti pengunjung lain juga takutnya begitu.

"Belagu banget me time, seperti orang kaya aja" ledeknya.

"Emang orang kaya doang yang perlu me time? Orang sederhana kaya akang juga perlu, apalagi punya istri kaya kamu. Perlu banget pokoknya" jawabku tak mau kalah, kini serial anime yang ku tonton hanyalah pemanis, sisanya kami tengah beradu pandang dengan kesal.

"Emang aku istri kaya apa sampai akang perlu me time segala? Akang stres nikah sama Jingga, iya?" tanyanya memandangku sengit, kedua tangannya kini bersidekap dada.

Iya, aku stress. Stres sekali, napasku juga terkontiminasi udara yang tidak sehat. Itu semua gara-gara kamu!

Ingin sekali aku mengatakan hal itu, tapi ... Sebagai manusia yang baik hati dan tidak sombong, aku memilih untuk tetap diam saja. Meladeni perdebatan kecil ini, tidak ada untungnya. Yang ada malah capek sendiri.

"Taulah, akang mau pergi ke rumah si Ujang buat rapat acara sekolah nanti sore. Kamu disini aja, diem. Gak usah balik ke peternakan!" putusku pada akhirnya berpamitan pada Jingga.

Raut wajah kesalnya masih saja begitu kentara saat ia mencium punggung tanganku dengan takzim. Aku hanya tersenyum, mengusap kesal rambut rapinya yang kini ku buat berantakan.

"Akang, ini rambut jingga udah di sisirin. Kuncirnya juga jadi melorot!" kesalnya.

Aku tertawa, lari terbirit-birit keluar rumah menghindari kemarahannya. Entahlah, seharian ini rasanya asik aja menggoda si Jingga itu. Melihat ekspresi kesalnya begitu menggemaskan, sungguh.

***

"Senyum-senyum gitu gak jelas. Eh gimana? Oh, udah berhasil ya. Udah gol?" aku mengerenyitkan dahi penuh tanda tanya saat baru saja tiba di rumah si Ujang yang berada di desa sebelah.

"Maksud kamu apa, Jang?"

Si Ujang nampak tersenyum, merangkul tubuhku untuk berjalan lebih dalam memasuki area taman belakang.

"Itu loh, kado dari gue udah lu pake belum? Parfumnya wanginya awetkan? Mau gue beliin lagi yang banyak?"

Oh, sekarang aku paham kemana arah pembicaraannya. Sontak aku melepaskan rangkulannya, tangan ini menjitak kesal dahi lebar si Ujang.

Aww. Ia meringis kesakitan, memegang dahi lebarnya.

"Kamu teh bukannya bersyukur malah kufur," protesnya dengan kedua kaki mencak-mencak.

Aku mendelik, duduk di kursi kayu yang menghadap kolam ikan. "Gak sopan banget tanya begituan," keluhku.

"Yaelah, gak papa kali. Kan biar tau kekurangan lo atau istri lo dimana. Nanti kalau lo gak puas bisa tanya-tanya gue, biar gue kasih tau gaya-gaya-"

"Heh! Mulutnya, gue bilangin sama emak lu ya" tegurku kesal dengan menendang kakinya keras, membuat tubuh si Ujang limbung. Untungnya gak sampai tercebur ke kolam ikan.

"Ck. Nyebelin ah, padaha gue banyak referensi video di flasdisk-"

"Tutup mulut lu, atau gue robek!" Ancamku kembali memotong pembicaraannya.

Buru-buru kedua tangan si Ujang, menutup mulut lemesnya. Ia duduk agak menjauh dari diriku.

"Kejam amat," protesnya.

"Bodo! Otak lu ngeres amat, nikah cepetan makannya" sindirku.

"Enggak ah, ngapain. Yang nikah dadakan aja belum ngerasain gimana rasanya surga dunia, ya minimal dp dulu lah sebelum nikah" cibirnya.

Aku memejamkan mata, berusaha meredam emosi. "Jang, profesi lu itu di hormati. Pikiran harus positif thinking, gak usah ngeres-ngereslah minimal. Gak ada cerminan baiknya lu,"

"Apa sih gue ngomong bener, minimal dp dulu. Ya dp gedungnya, cateringnya. Lo kali yang ngeres otaknya" protesnya dengan terbahak.

Sabar Mad, sabar. Punya temen sengklek kaya dia emang harus banyak-banyak ngelus dada. Ada aja yang di perdebatkan, padahal niatnya kesini buat menghindar dari perdebatan kecilnya dengan si Jingga, ini malah di ajak debat. Teman laknat emang!

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang