Mail menelan ludah, lalu mulai bicara dengan suara rendah namun tegas. “Sebenarnya… Bi Rani sudah mulai mengatur beberapa pekerja untuk menunda dan merusak bahan-bahan yang Aa pesan. Bahkan ada laporan dari beberapa pemasok, mereka sengaja dialihkan ke alamat lain atau diperlambat pengirimannya.”
Aku mengernyit, menatap Mail. “Jadi ini yang menyebabkan beberapa bahan bangunan kita sempat hilang atau datang terlambat beberapa minggu terakhir?"
"Oh pantesan proyek kita mandeg Mad, bahkan lama selesainya" sambung Ujang dengan geram.
Mail mengangguk. “Iya, A. Itu baru sebagian. Kalau kita tidak hati-hati, rencana Bi Rani bisa bikin proyek kalian terganggu parah.”
Jingga mengepalkan tangan, wajahnya menahan amarah. “Dasar licik! Aku sudah curiga sejak awal. Tapi kenapa dia harus melakukan ini, Kang?"
Aku menatap Jingga, menenangkan. “Itu sebabnya kita harus lebih pintar dari mereka. Kita nggak bisa melawan dengan emosi, tapi dengan strategi.”
"Apa mungkin tanaman cabe yang gagal panen itu juga ulah bibi kamu Mail?" tanya Bapak dengan curiga. Pasalnya beberapa minggu kemarin, tanaman cabe yang sudah siap panen tiba-tiba layu dan banyak yang rusak. Padahal kondisi cuaca masih aman-aman saja, kalau pun hama pasti datangnya dari awal.
Mail mengangguk pelan, wajahnya begitu serius. “Iya, Pa. Dari beberapa sumber yang aku dapat, ada kemungkinan Bi Rani ikut campur. Mereka mengiming-imingi beberapa pekerja untuk ‘mengacaukan’ tanaman, membuat gagal panen terlihat alami. Jadi seolah-olah kita yang kurang perawatan, padahal semua sudah dilakukan dengan benar.”
Aku menatap Jingga, napasnya memburu. “Jadi semua ini bukan kebetulan. Dari bahan bangunan sampai tanaman… semuanya sudah direncanakan Bi Rani untuk menghambat kita.”
Jingga mengepalkan tangan lebih erat, matanya menyala penuh kemarahan. “Dasar licik! Mereka benar-benar ingin menghancurkan usaha kita dari segala sisi.”
Ujang menepuk pundakku dengan tegas. "Kalau begini caranya Mad, kita gak boleh lengah. Semua harus diawasi, dari material sampai tanaman. Kalau mereka licik, kita harus lebih cerdik lagi.”
Aku menarik napas panjang, menenangkan diri. “Benar. Kita buat strategi menyeluruh. Pekerja, pemasok, hasil panen, semua harus tercatat dan diawasi. KKalau mereka ingin main kotor, kita harus lebih cerdas dan siap menghadapi.”
Bapak mengangguk, wajahnya serius tapi penuh tekad. “Mad… kita lakukan ini bersama. Jangan biarkan mereka menang karena kita lengah.”
Jingga menatapku, menyalurkan semangatnya melalui genggaman tangan. “Kang… kita pasti bisa. Kita hadapi semua ini bersama-sama.”
Aku tersenyum tipis, menyalurkan ketegangan menjadi tekad bulat. “Iya sayang. Bersama-sama, kita atasi semua rencana licik Bi Rani. Mulai hari ini, langkah demi langkah, kita perketat semua pengawasan.”
Mulai hari itu, kami memulai strategi yang sudah di rencanakan dengan memulai pengawasan dengan hati-hati. Mail memeriksa setiap pekerja yang datang, mencatat perilaku mencurigakan dan memastikan tidak ada yang mencoba mengacaukan proses proyek. Ujang berkeliling area, memastikan tidak ada orang luar yang diam-diam memantau atau mengganggu pekerjaan kami. Sementara Jingga duduk dengan buku catatan di tangan, mencatat semua bahan material yang datang, dan mengeceknya dengan teliti.
Sementara itu, aku fokus mengurus hubungan dengan para investor. Beberapa rapat penting digelar di kota, memastikan semua pihak tetap percaya dengan proyek yang sedang kami jalankan. Hari-hari berikutnya terasa padat dan penuh kewaspadaan.
Huft ... Aku menghembuskan napas lelah, memeriksa dengan teliti catatan yanng Jingga berikan padaku malam ini.
"Semuanya aman kan?" tanyaku.
Jingga mengangguk, kemudian ia memberikan secangkir kopi padaku. "Tenang dulu kang, kamu baru pulang dari kota. Semuanya masih berjalan aman disini, gak usah khawatir" ujarnya dengan mengusap lembut punggungku.
Aku mengangguk, menerima secangkir kopi tersebut dengan senyuman. "Makasih ya udah mau bantu akang," ujarku tulus.
Jingga mengangguk, ia duduk disampingku. "Makasih juga sudah mengusahakan segalanya untukku dan Mail agar segera keluar dari penderitaan" ucapnya memelukku hangat.
"Sama-sama sayang, aku ingin kalian bahagia" ucapku tulus.
Drt ... Drt ...
Belum sempat Jingga menjawab, tiba-tiba dering ponselku berbunyi begitu nyaring. Nama Ujang tertera di layar ponsel.
"Ya, kenapa?" ujarku saat menerima panggilan telpon dengan sedikit geram. Ganggu momen romantis aja lu Jang!
Suara Ujang terdengar begitu tergesa-gesa di seberang sana. “Mad! Cepet ke gudang belakang! Ada yang aneh. Ane nemuin pintu gemboknya kebuka, padahal tadi sore ane udah pastiin dikunci rapet. Mail saksinya”
Aku langsung berdiri, membuat Jingga yang masih memelukku terperanjat kaget. “Ada apa, Kang?” tanyanya cemas.
“Ujang nemuin kejanggalan di gudang,” jawabku cepat. “Kamu sama Mail tunggu di rumah dulu. Aku ke sana.”
Namun Jingga ikut berdiri, menatapku dengan tatapan tegas. “Aku ikut, Kang. Kita harus hadapi ini sama-sama.”
Aku sempat ragu, tapi melihat sorot matanya yang kukuh, aku akhirnya mengangguk. “Baik, tapi jangan jauh dari akang ya.”
Kami bergegas ke gudang. Malam itu udara terasa lebih dingin, seperti menyimpan rahasia gelap. Saat sampai di sana, Ujang sudah menunggu dengan wajah tegang.
“Liat tuh, Mad,” katanya sambil menunjuk pintu gudang yang gemboknya tergantung tak terkunci. “Aku yakin banget tadi sore masih terkunci rapet. Tapi sekarang…”
Aku mendorong pintu perlahan. Suasana di dalam remang, bau semen dan kayu menyengat. Semua material tampak berantakan. Ada beberapa karung semen yang sobek, sebagian isinya tumpah ke lantai.
Jingga menutup mulutnya, menahan teriakan. “Ya Allah… ada yang sengaja ngerusak ini, Kang!”
Ujang mendengus geram. “Gak salah lagi, ini kerjaan orang-orang Bi Rani. Mereka berani main di malam hari.”
Aku melangkah masuk, mataku menyapu sekitar. Dan tiba-tiba saja suara langkah kaki cepat terdengar dari sisi belakang gudang.
“Berhenti!” teriakku sambil berlari ke arah suara itu.
Bayangan seseorang tampak berlari menembus kegelapan malam. Aku hampir bisa menyentuhnya, tapi ia terlalu cepat dan berhasil menghilang di balik semak-semak.
Aku berhenti, terengah-engah, tinjuku mengepal kuat. “Licik sekali mereka….”
Jingga menyusulku, wajahnya begitu tegang. “Kang… ini sudah keterlaluan. Kalau terus begini, kita bisa habis sebelum rumah ini jadi.”
Aku menatap mereka semua, nafas ini masih memburu, tapi tekad ini semakin mengeras. “Kalau mereka pikir kita akan mundur, mereka salah besar. Besok, kita mulai dengan sistem pengamanan baru. Kita pasang orang-orang kepercayaan di tiap sudut. Bi Rani harus tahu, kita gak gampang dijatuhkan.”
Ujang mengangguk mantap. “Setuju, Mad. Kali ini, giliran kita yang bikin mereka kehabisan akal.”
Jingga menggenggam tanganku erat, suaranya bergetar tapi penuh keyakinan. “Kang… apapun yang terjadi, aku selalu di sampingmu.”
Aku tersenyum kecil, lalu menatap ke arah kegelapan yang tadi menelan bayangan penyusup itu. Dalam hati, aku bersumpah: Pertarungan ini baru saja dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
