Aku mengerjap, saat merasakan tanganku begitu pegal namun seketika bibirku tersungging saat mendapati Jingga tengah tidur dengan memelukku erat.
Mataku terbuka lebar saat mendapati jam dinding baru menunjukan pukul satu malam. Itu artinya ini baru beberapa jam kami kembali tidur bersama setelah dua minggu tak tegur sapa, tidak lebih tepatnya setelah malam tadi kami bertengkar kembali.
Lalu setelah ini, apa hubungan kami akan kembali membaik? Entahlah, tapi ku harap begitu.
Senyumku tak pernah pudar ketika mata ini memperhatikan setiap inci wajahnya yang baru pertama kalinya dalam hidupku memperhatikan seseorang dengan begitu lekat nan dekat.
Cantik.
Ya, istriku itu memang dasarnya cantik nan manis namun sayang bau dan tak pandai merawat diri.
Eh, tapi tunggu. Itu kemarin-kemarin. Sekarang? Dia berubah, teramat berubah.
Udah bisa dandan, selalu wangi dan berpakaian modis ala gadis kota.
Sungguh, aku tak menyangka selama dua minggu tak tegur sapa rupanya Jingga begitu bekerja keras merubah penampilannya. Apa karena ia ingin aku lirik? Ah, tentu. Dia kan sangat mencintaiku, mana tahan ia tidak mempedulikanku.
Namun, logika itu tak sepenuhnya bisa kupegang. Karena meski ia tampak kembali mendekat, sikapnya tak sehangat dulu. Ada jarak yang Jingga bangun dengan sangat terencana—seolah ia ingin mengatakan: aku kembali, tapi tak utuh.
Pelukannya malam ini… mungkinkah hanya pelukan terakhir sebelum ia benar-benar pergi?
Oh tidak bisa! Mana mungkin begitu. Aku tidak akan membiarkannya seperti itu.
Kutatap wajahnya lebih lama, mengamati kelopaknya yang tenang, napasnya yang teratur, dan rambutnya yang kini wangi buah strawberry yang segar. Dulu ia ogah bahkan sekadar memakai minyak rambut. Kini, aroma tubuhnya saja bisa menenangkan badai dalam dadaku.
Aku tak kuasa menahan tanganku untuk menyentuh pipinya perlahan. Lembut. Hangat. Untungnya sentuhanku tak mengusik tidur nyenyaknya, ia hanya melenguh lalu membenamkan wajahnya didada bidangku yang terasa semakin berdebar.
Ah, perasaan apa ini.
"Tidur yang nyenyak ya, istriku" gumamku sembari mengecup puncak kepalanya.
Lagi-lagi ia melenguh namun kali ini ia melepaskan pelukannya, merubah posisinya dengan memunggungiku.
"Hey, tidak sopan. Hadap sini" bisikku lembut.
"Emm, kenapa A Yudi"
Deg.
Aku terhenyak mendengar jawabannya yang meracau. Siapa yang jingga katakan tadi? Yudi? Si laki-laki sialan itu!
Jantungku langsung menghantam rusuk. Namanya disebut. Di tengah malam, dalam pelukanku yang kuanggap sebagai bentuk kembalinya kehangatan kami ia justru menggumamkan nama pria lain. Pria yang selama ini menjadi sainganku.
Tiba-tiba rasa hangat yang tadi menyelimuti dada berubah jadi bara. Ada amarah yang merayap perlahan, menyalakan bara cemburu yang sempat kupendam rapat.
Aku menatap punggungnya. Punggung yang semula ingin kupeluk kembali, kini ku hentak kasar untuk kembali menghadapku.
"Sialan kau Jingga!"
Jelas saja aku tak bisa menahan emosi. Kata-kata itu terlontar begitu saja, tanpa sempat kupertimbangkan. Amarahku meluap, menyembur seperti air bah yang sudah terlalu lama kutahan di bendungan.
Jingga terbangun kaget. Matanya langsung membelalak, tubuhnya menegang. Ia menatapku dengan bingung, separuh takut, separuh belum sepenuhnya sadar.
"A-apa? Kang... kenapa teriak?"
"Kenapa?" suaraku bergetar, tak lagi bisa disembunyikan. "Kau tadi nyebut nama laki-laki itu dalam tidurmu. A Yudi, katanya. Kau mimpiin dia? Kau rindu dia? Iya, hah?"
Jingga terdiam kebingungan, namun emosi masih tersulut amarah yang sangat besar membuat ekspresi Jingga seketika berubah ketakutan.
"Kau mimpi apa sampai berani menyebut namanya? Kau bahkan memelukku erat, apa kau bermimpi tengah berpacaran sambil pelukan iya?" tanyaku menerkanya.
Jingga menggeleng tak paham.
Rahangku mengeras, seketika aku bangun dari pembaringan merubah posisiku dengan menindih tubuhnya yang kecil.
"Kang ..." Protes Jingga dengan gelengan.
“Kang, tolong... jangan begini,” suara Jingga bergetar, tubuhnya mulai menegang di bawah tindihanku.
Tapi aku terlalu dipenuhi emosi saat itu. Telingaku panas, nafasku berat, dan pandanganku buram oleh rasa cemburu yang bercampur sakit hati.
"Jawab dulu!" bentakku, "Apa kamu selama ini masih mikirin dia? Apa kamu berubah bukan karena aku, tapi karena dia? Jadi selama dua minggu ini kamu selalu bersamanya, kamu selingkuh?" tuduhku.
"Lalu apa arti ucapanmu semalam yang bilang bahkan laki-laki itu tidak pernah menyentuh tanganmu? Bulshit! Apa jangan-jangan selama ini kamu sering di sentuh olehnya karena aku tak pernah menyentuhmu. Iya?" sambungku penuh emosi dengan segera aku membuka kaos oblong yang ku pakai.
Sial. Kalau tau begini, tadi malam aku tidak akan membiarkan laki-laki itu pulang dengan selamat.
Jingga menjerit kecil ketika melihatku menarik kaosku dengan kasar, seolah siap melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Matanya membelalak, air mata langsung mengalir deras dari sudut matanya. Tangannya gemetar, menahan dadaku agar tak semakin mendekat.
"Kang! Tolong! Jangan kayak gini… aku takut!" suaranya lirih, nyaris putus asa.
"Dimana saja laki-laki itu menyentuhmu? Bagaimana kamu memeluk laki-laki itu dengan erat?"
"Begini?" tanyaku langsung mempraktekannya dengan memeluk Jingga begitu dalam.
Aku menggeleng. "Tidak ada yang berhak menyentuhmu selain aku!"
Srettt ...
Dengan sekali sentakan suara kain robek menggema di antara keheningan kamar. Nafasku memburu. Jemariku gemetar. Dan saat kulihat mata Jingga, yang biasanya teduh dan penuh cinta kini hanya menyisakan ketakutan yang pekat. Bodo amat, siapa suruh membangunkan singa yang tengah tertidur? Dan ini akibatnya.
Jingga terisak, memegangi bagian bajunya yang koyak. Ia mencoba menutupi tubuhnya, matanya tak berhenti menatapku penuh ngeri.
“Mas... jangan lanjut. Tolong...” pintanya lemah.
Aku menyeringai, menenggelamkan kepalaku pada ceruk lehernya. "Bukankah ini yang kau inginkan selama ini?" tanyaku berbisik.
Ia tak menjawab, namun tubuhnya bergetar hebat penuh ketakutan.
"Kau tidak perlu takut Jingga, aku ini suamimu" bisikku kembali.
"Tolong ...hentmpt" perkataan Jingga berhenti saat aku dengan tidak sopannya membungkan mulutnya dengan ciuman dalam dan kasar.
Nikmati saja, malam ini kau akan jadi milikku sepenuhnya. Seperti yang kamu mau sedari dulu, kau tak meminta tetapi aku yang memaksa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
