obrolan random pagi hari

678 39 0
                                        

"Buat apa cari rumah kalau rumah ini punya kamu, harusnya kamu yang lebih berkuasa!" Ucapku berapi-api kala Jingga meminta mencari rumah, tentu saja sebagai tempat tinggal kami yang baru.

Jingga terdiam, ia memilih meneguk teh manis yang kubuatkan tadi dengan agak sedikit gemetar ku lihat.

Ah, harusnya pagi ini kami menikmati dengan ketenangan bukan ketegangan seperti ini.

Jingga menghela napas panjang, diletakannya cangkir tersebut ketempat semula.

"Buat kita senang-senang kang, buat mesra-mesraan. Buat bikin anak,"

Kedua mataku membulat sempurna ketika mendengar penuturan akhirnya. Ah, frontal sekali perempuan itu.

"Disini kan juga bisa," ucapku pelan, kini aku memilih duduk disampingnya.

Jingga berdecak. "Tapi gak tenang, selalu ada gangguan mulu. Kaya tadi tuh,"

"Kan buatnya malam," bisikku dengan telinga kini sudah terasa panas. Mungkin sudah memerah sempurna. Malu rasanya membahas hal baginian. Kaya tabu aja.

"Iya gak asik, kalau dirumah sendirikan kita bisa gempur siang malam" rengeknya tanpa malu.

Astaga, perempuan ini.

"Setidaknya kita cari kontrakan dulu aja, katanya disamping A Ujang ada rumah kosong yang dikontrakan" tambahnya.

Aku mendelik sebal, kedua tanganku terlipat sempurna didada. Sejanak berpikir, mengontrak? Tidak buruk, tapi rasanya uangnya sayang sekali.

"Kang, mau ya?" Ia kembali merengek. Kali ini dirinya bahkan sudah bergelayut manja padaku.

Aku masih berpikir.

"Enggak, kita bertahan dirumah ini. Akang gak mau harga diri akang sama kamu mereka injak-injak, cukup dulu kamu dan mail tidak bisa melawan mereka. Sekarang, mari kita hadapi" putusku pada akhirnya.

"Tapi aku capek, kang. Cape ribut terus, cape dapat hukuman. Mereka itu kuat kang,"

Aku menarik napas panjang. Ada desakan di dalam dadaku, bukan hanya dari amarah, tapi juga dari rasa bersalah. Sungguh aku paham lelahnya Jingga. Tapi entah kenapa, semakin dia memintaku mengalah, semakin aku ingin berdiri lebih tegak. Tidak, seorang Ahmad tidak akan mundur begitu saja apalagi menyangkut orang yang dicintai.

Hah, rupanya aku sudah sebucin ini.

"Ada akang, sudah akang bilang sekarang kita hadapi semuanya bersama, Jingga. Sekuat apa mereka? Kita sama-sama manusia, sama-sama makan nasi" kesalku.

Jingga menggigit bibir bawahnya. "Gak semua manusia punya hati, Kang," bisiknya lirih. "Kadang, mereka lebih buas dari binatang. Apalagi kalau udah nyentuh soal warisan dan harga diri keluarga."

Aku mengepalkan kedua lenganku dengan kuat. Emosi masih menguasai.

"Dasa lintah darat." geramku, nyaris seperti gumaman tapi cukup keras untuk didengar Jingga. "Mereka hidup dari harta yang bukan milik mereka sepenuhnya, tapi sok berkuasa seperti tuan tanah. Padahal, yang mereka banggakan itu cuma warisan, bukan hasil kerja."

Jingga menatapku penuh ragu, seperti sedang menimbang antara kekhawatiran dan harapan. Tangannya meremas ujung selimut sofa, lalu dengan suara lirih yang hampir tak terdengar, ia berkata, “Kang, jangan begitu. Mereka masih keluargaku," desisnya.

"Keluarga mana? Keluarga kok saling menyakiti. Dia bukan keluargamu Jingga. Dia orang jahat, atau jangan-jangan ayah ibu mu meninggal bukan hanya kecelakaan saja, bisa jadi-" ucapanku menggantung penuh kecurigaan, teringat pada sinetron-sinetron yang emak tonton dirumah.

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang