keadilan harus ditegakan.

584 29 0
                                        

"Ente yakin Mad, dengan kecurigaan ente?" Si Ujang bertanya dengan penuh selidik saat kami baru saja sampai di kota, tepatnya di rumah mas Abi dan teh Ayu.

Hari ini sesuai yang sudah direncanakan aku dan Si Ujang tengah berdiskusi mengenai perusahaan mana saja yang akan menjadi target investor untuk usahaku nanti, tentunya dengan bantuan mas Abi yang banyak memiliki teman-teman super kaya dan memiliki kerajaan bisnis.

"Kejadiannya udah belasan tahun lalu, kamu juga masih kecil waktu itu kan? Kenapa malah mau mengungkapnya hari ini?" sekarang giliran mas Abi yang bertanya setelah membicarakan prihal usaha, kini aku curhat pada kedua laki-laki ini tentang kecurigaan yang dari dulu ku pendam mengenai kematian orangtuanya Jingga. Ibu dan bapak mertuaku.

Aku mengangguk mantap. "Yakin banget Jang, banyak hal janggal yang tersimpan dirumah gedongan itu. Makannya gue ngebetah-betahin diri dulu buat ungkap semuanya" jawabku.

Lalu aku menoleh pada Mas Abi. "Justru itu Mas, karena sekarang aku sudah besar. Pemikiranku dewasa, aku ingin mengungkap keadilan. Lagi pula gak ada yang terlambat, aku hanya mau memastikan kalau kematian mereka memang tidak wajar terlebih sikap mereka pada Mail dan Jingga sangat mencurigakan"

Tuk.

Aku meringis pelan saat teh Ayu tiba-tiba datang dengan membawa cemilan kemudian tangannya dengan tidak sopan memukul kepalaku.

"Kebanyakan nonton sinetron kamu mah. Lagi pula ngapain sih pusing-pusing urusin masalah keluarga si Jingga, gak guna banget" gerutunya.

Aku mendengus, menatapnya kesal. "Kalau gak suka mending sana kelonin anak-anak. Ini urusan Ahmad, bukan urusan teteh"

Ia terbelalak, ia menatap tajam kearahku. "Sama teteh sendiri gak sopan kamu, peletnya manjur ini. Bahkan sampai bisa ngelawan teteh, hebat banget tuh si Jingga" nyinyirnya.

Aku mengusap wajah dengan kasar. "Teh jangan kaya gitu, dia istri aku!"

"Istri yang bau dan mandul. Buat apa dipertahanin, mending ceraikan saja. Udah bagus si Sinta tuh, dia cocok sama kamu"

"Ayu, ini keterlaluan. Mas gak pernah didik kamu jadi wanita cerewet dan suka komentarin hidup orang. Dia juga adik ipar kamu, hargai dong" tegur Mas Abi yang sedari tadi diam memperhatikan perdebatan kecil kami.

"Mas bela dia?" tanyanya tak terima.

Aku mendengus. Geram sekali rasanya melihat tingkah teh Ayu yang begini.

Mas Abi menggeleng, ia menggenggam tangan teh Ayu. "Kita bicara berdua di kamar ya, mas gak maksud bela dia sayang. Tapi memang kamu salah, mas mau benerin sifat kamu yang kaya gini, mas gak suka"

"Tuh kan masih belain dia" rengek teh Ayu.

Aku mendengus sebal. "Udah mas nasehatinnya di kamar aja, bebal banget emang teteh tuh. Aku sama Ujang mau ngobrol di luar aja" putusku.

Mas abi mengangguk, ia menuntun teh Ayu memasuki kamar sementara itu aku dan si Ujang memutuskan keluar dari rumah mencari tempat aman untuk mengobrol prihal kecurigaanku tadi.

"Terus, sekarang rencana ente apa selain mau nyaingin bisnis si mamang?" tanya si Ujang ketika kami sudah duduk di gazebo rumah mas Abi.

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang