Harga diri yang dipertaruhkan

213 13 0
                                        

Keesokan paginya, suasana rumah terasa begitu lebih serius dari biasanya. Bapak duduk di beranda sambil menatap langit, wajahnya tegas namun menyimpan kekhawatiran. Mail sibuk mencatat nama-nama pekerja yang masuk, sementara Ujang mondar-mandir seperti satpam pribadi. Lalu Jingga dan Emak tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi ini.

"Mad, kalau udah gini. Ini udah keterlaluan," ujar Bapak menghembuskan nafas lelah.

Aku mengangguk setuju. "Tapi kita gak bisa lawan mereka pake cara licik juga pak," jawabku gusar.

Bapak melirikku dengan tatapan yang terasa begitu dalam “Bapak tau, Mad. Tapi jangan biarin mereka injak harga diri kita. Kita cuma perlu buktiin kalau kita bisa berdiri tanpa mereka.”

Aku menghela napas, pandanganku jatuh ke halaman depan yang masih basah sisa embun. “Iya, Pak. Makanya sekarang kita harus lebih rapet lagi. Satu celah aja, mereka bakal masuk.”

Mendengar hal itu, si Ujang yang sedari tadi mondar-mandir kini ikut duduk bersama kami.

"Ane punya ide Mad, gimana kalau mulai hari ini, kita tingkatkan lagi pengawasan. Gudang akan dijaga dua orang setiap malam, bergantian. Semua material yang masuk dicatat, dicek, dan difoto. Kalau ada yang aneh, langsung lapor.”

“Setuju!” jawab Mail dan bapak bersamaan dengan begitu mantap.

Mail mengangkat tangannya, wajahnya masih menyimpan rasa was-was. “A, kalau boleh usul… kita juga pasang lampu sorot di area belakang. Supaya nggak ada lagi yang bisa sembunyi di gelap.”

Aku mengangguk. “Ide bagus. Nanti sore kita beli, pasang sebelum malam.”

"Kalau masalah investor aman kan Mad? Tanpa Ane temenin?" tanya Ujang begitu penasaran.

"Alhamdulillah aman, kita tinggal jaga kepercayaan aja"

Ketiganya manggut-manggut. Lalu aku menatap Mail dengan penasaran. "Il, pondok gimana? Mamang gak ngamuk kan kalau kamu berhenti?"

Tubuh Mail terlihat langung kaku.Tangannya yang tadi sibuk bolak-balik kertas catatan mendadak berhenti. Ia menelan ludah, matanya melirik ke arahku sebentar lalu ke Bapak. “Ngamuk, A… ngamuk banget malah. Mamang sama Bi Rani langsung marah-marah pas tau aku gak balik ke pondok.”

Jingga yang baru keluar bawa piring nasi ikut menimpali dengan wajah kesal. “Ya jelas aja mereka marah. Selama ini Mail dijadiin kacung, sekarang pas Mail bisa bebas malah mereka kehilangan alat buat ngerusak kita.”

"Kayak kamu dulu ya Jing?" timpal Ujang dengan cengiran khasnya yang seketika membuatku refleks memukul lengannya.

Sialan si Ujang, berani-beraninya dia mengungkit itu.

Sementara itu mail tengah menghela napas panjang, lalu bersandar ke kursi. “Mamang bilang aku anak durhaka, sama seperti teteh. Bi Rani malah ngancem gak akan nganggep aku lagi sebagai bagian keluarga. Tapi… aku udah bulat, A. Aku gak mau lagi ada di bawah kendali mereka.”

Bapak menepuk pundak Mail pelan, penuh pengertian. “Bagus, Il. Sekali kamu keluar dari lingkaran mereka, jangan pernah balik lagi. Itu tandanya kamu udah pilih jalan hidupmu sendiri"

Aku tersenyum kecil, ikut menambahkan, “Kamu gak sendirian, Il. Selama ada aku, Jingga, dan keluarga ini, kamu tetap punya tempat pulang.”

Mail menunduk, jelas matanya berkaca-kaca. “Makasih, A…” suaranya bergetar.

Ujang menepuk meja, suaranya lantang. “Udah, jangan sedih-sedih! Sekarang yang penting, kita fokus bikin mereka capek sendiri. Biar mereka ngambek, ngamuk, bahkan fitnah. Ujung-ujungnya mereka sendiri yang malu.”

Jingga menaruh piring nasi di meja, lalu duduk di sebelahku. Ia menatap semua dengan wajah serius. “Betul kata A Ujang. Yang penting kita jangan sampai kendor. Karena justru itu yang mereka mau, lihat kita nyerah gitu aja.”

"Udah sarapan dulu ya, biar kuat ngadepin kenyataannya" timpal Emak cepat. Kami pun mengangguk patuh.

Suasana pagi yang terasa tegang itu seketika menghangat saat emak dan Jingga begitu kompak membawakan obrolan-obrolan hangat bahkan dibumbui dengan candaan.

.
.
.
.

Sementara itu, suasana pondok begitu kacau karena ketiadaan Mail dan Jingga membuat pekerjaan mereka keteteran. Kabar itu pun sudah sampai juga ke telinga Mamang dan Bi Rani. Suasana di pondok terasa begitu tegang. Mamang duduk dengan wajah merah, urat di lehernya terlihat menegang sementara Yudi, berdiri gemetar dihadapannya dengan kepala yang menunduk dalam.

“Kurang ajar! Dua anak itu berani-beraninya mengacaukan  pondok ini!” Mamang membentak, tangannya menghantam meja hingga gelas jatuh pecah di lantai.

Bi Rani berdiri dengan tangan di pinggang. Wajahnya terlihat begitu masam, suaranya keras menusuk telinga. “Dari awal aku sudah bilang, jangan terlalu longgar sama mereka. Sekarang terbukti, Mail dan Jingga malah ikut Ahmad dan pekerjaan disini jadi gak kepegang. Bukannya mereka yang rugi, malah kita yang repot ngurusin semua!” suara Bi Rani makin tinggi, matanya melotot ke arah Yudi yang cuma bisa menunduk semakin dalam.

Mamang mengusap wajahnya kasar, lalu bangkit dari kursi. “Gara-gara Mail sama Jingga keluar, banyak kerjaan terbengkalai. Pekerja juga banyak yang ngeluh. Kalau begini terus, bisa-bisa kita rugi puluhan juta!”

Bi Rani langsung menepuk meja dengan keras, wajahnya penuh api amarah yang membabi buta.

“Rugi? Itu baru awal, Mas! Kalau mereka terus-terusan sama Ahmad, bisa-bisa semua pelanggan kita ikut-ikutan pindah ke sana. Mereka bakal percaya sama Ahmad, bukan lagi sama kita!”

Mamang menggeram, giginya bergemeletuk menahan marah. “Aku gak akan biarin itu terjadi. Selama aku masih hidup, Ahmad dan keluarganya gak boleh menang di depan mata kita!”

Yudi yang sedari tadi diam, kini memberanikan diri untuk berbicara meski terdengar pelan. “Tapi Pa, Bu… kalau kita terus begini, orang-orang bisa makin curiga. Mereka sudah mulai membicarakan soal kejadian gudang semalem. Katanya ada yang sengaja ngerusak…”

“Diam, kamu Yudi!” bentak Bi Rani, kedua bola matanya melotot tajam. “Kalau kamu gak sanggup, minggir aja! Jangan malah bikin panas kuping saya dengan omongan gak berguna kamu itu!”

Seketika Yudi langsung bungkam, keringat dingin menetes di pelipisnya.

Mamang berjalan mondar-mandir, kepalanya penuh pikiran. “Rani, kita harus putar otak. Kalau pake cara kasar terus, bisa-bisa kita yang kebongkar. Kita harus cari cara biar usaha Ahmad pelan-pelan runtuh, tapi keliatannya wajar.”

Bi Rani menyeringai licik. “Aku udah ada bayangan. Kita main di pemasok. Selama ini Ahmad masih butuh bahan dari luar, kan? Kalau kita kuasai jalurnya, lama-lama mereka kehabisan stok. Tanpa bahan, proyek mereka pasti macet.”

Mamang mengangguk pelan, matanya menyipit penuh dendam. “Baik. Kita jalankan itu. Ahmad harus tahu, kalau ngelawan kita bukan perkara gampang.”

Suasana pondok semakin panas, tetapi di sisi lain, tanpa mereka sadari, semakin banyak pekerja yang mulai gerah dengan sikap Mamang dan Bi Rani. Bisik-bisik kecil mulai terdengar, beberapa bahkan sudah mulai melirik ke arah Ahmad dan Jingga, merasa usaha barunya itu lebih jujur dan menjanjikan.

Sementara itu, di rumahku, aku, Bapak, Jingga, Mail, dan Ujang sudah kembali duduk melingkar lagi usai sarapan. Obrolan yang tadinya ringan kembali berubah serius.

Aku menatap mereka semua, lalu berkata tegas, “Kalau Mamang sama Bi Rani makin marah, artinya langkah kita sudah benar. Sekarang tinggal gimana kita tetap bertahan sampai rumah ini berdiri. Setelah itu, gak ada alasan lagi buat mereka jatuhin kita.”

Jingga menggenggam tanganku erat, menatapku penuh keyakinan. “Kang… kita pasti bisa. Biar mereka ngamuk, asal kita tetap solid, gak ada yang bisa ngejatuhin kita.”

Mail ikut mengangguk, wajahnya masih menyimpan sisa kecemasan, tapi juga mulai terlihat lega. “Aku percaya, A. Asal kita bareng-bareng, mereka gak akan bisa menang.”

Aku mengangguk mantap. Dalam hati, aku bersumpah, pertarungan ini memang belum selesai. Tapi aku tahu, dengan keluarga di sampingku, apapun rencana licik Bi Rani dan Mamang, satu per satu pasti bisa kita patahkan.

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang