mimpinya gak usah ketinggian

994 35 0
                                        

Setelah puas bermain dengan kelinci, kedua anak itu tak kenal lelah menyusuri jalan setapak, melihat-lihat pondok. Sesekali, tangan mungil Kakang memetik buah tomat yang masih hijau.

“Om, ini boleh dimakan?” tanyanya.

Aku berdecak, mengambil tomat hijau dari tangannya. “Ini belum matang, Dek. Kalau adek mau, pilih yang merah.”

“Enggak ah, adek gak suka tomat. Masam,” ujarnya menolak. Kalau tahu rasanya masam, untuk apa nanya? Dasar bocah.

Tangan ini mengusap dada beberapa kali. Sabar, dia masih memiliki hubungan darah denganku, kalau tidak sudah ku potek mulutnya. Sementara itu, Niko sudah menghampiri ibu-ibu yang tengah memanen tomat dengan keantusiasannya.

“Om, Aa mau bantu ibu-ibu panen tomat boleh?” izinnya.

“Boleh, asal topinya dipakai. Cuacanya panas banget, biar kamu gak sakit. Habis ini, kita tunggu Tante Jingga di rumah panggung, ya,” ujarku menunjuk rumah panggung yang tak jauh dari sana.

Niko mengangguk dan berlari menghampiri ibu-ibu itu. Aku memperhatikan, Niko cepat akrab dan berani membantu mereka. Sementara Kakang, adeknya, kini merengek ingin digendong karena kepanasan.

“Om gendong,” pintanya, tangannya terulur.

“Gak ah, kamu berat. Jalan aja,” aku menolak, mencoba menggodanya yang semakin merengek.

“Om panas, adek capek,” manjanya.

“Om bilang juga apa, kita naik sepeda saja biar tidak capek. Kalian yang ngotot mau jalan, kan capek?”

“Ish, Om malah-malah telus. Adek gak suka!” protesnya dengan pipi chuby yang menggemaskan.

Aku mendengus, berusaha mencari cara agar Kakang berhenti merengek. “Ayo, Dek! Kita tinggalin Aa, nanti dia kesepian.”

Kakang menatapku dengan mata besar, seolah mempertimbangkan. “Adek mau digendong, Om!” Ia kembali merengek lebih keras, mengalihkan perhatian Niko yang tadinya asik.

“Om, itu adek ngantuk. Biasanya kalau udah rewel gini, ujungnya nanti tidur. Kan belum bobo siang,” kata Niko panik.

“Aa, adek pengen sama ibu. Adek pengen sama ayah, hiks...”

Niko menatapku dengan khawatir. “Ayo, Om. Kasih gendong aja biar adek bisa tidur nanti.”

Melihat kepanikan di wajah Niko, aku mengalah. “Baiklah, kita istirahat dulu di rumah panggung. Kalian bisa tidur siang di sana, nanti sore kita pulang, ya.” Mereka setuju, dan Kakang segera mengulurkan tangannya untuk digendong.

Dengan sedikit berat hati, aku menggendong Kakang dan menggandeng Niko di sampingku. Setibanya di rumah panggung, suasana sejuk menyambut kami. Kakang yang sudah terlelap ditidurkan di kamar Jingga, sementara Niko aku suruh membersihkan diri.

***
Hari mulai sore ketika Jingga tiba di rumah panggung. Ia tersenyum melihat kami yang tengah sibuk di dapur membuat jus tomat dan sandwich.

“Kalian belum makan siang?” tanyanya.

Kakang dan Niko kompak menggeleng.

“Loh, kenapa?” tanya Jingga sambil duduk di sampingku. Bau badannya yang menyengat membuat aku agak menahan napas.

“Mereka baru bangun. Kamu kenapa baru kesini? Emang gak shalat dzuhur?” tanyaku heran.

“Enggak, lagi datang bulan. Hari ini pondok sibuk banget, dari panen sampai pelanggan yang beli kelinci. Padahal aku sudah pesan sama karyawan buat jangan dijual dulu, eh katanya si mamang yang suruh,” ucapnya.

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang