"Jangan tidur dulu atuh kang, kita ngobrol ya"
Tanganku terhenti, saat selimut ini hendak ku naikan hingga menutupi dada. Tubuh yang tadinya meronta ingin di rebahkan, kini terpaksa kembali bangun, duduk selonjoran dengan punggu bersandar di sandaran kasur, seperti yang tengah Jingga lakukan saat ini.
"Mau ngobrol apa? Kan tiap hari ketemu, kita juga tiap hari ngobrol. Gak bosan apa?" tanyaku menggerutu.
Jingga menggeleng, ia berbalik menghadap kearahku. "Apa aja kita obrolin. Pokoknya malam sebelum tidur kita usahain buat ngobrol, kalau kata si Mail mah ya namanya tuh pilow tok."
Aku menatapnya bingung. "Deep tok? Apaan itu, saya baru dengar" kekehku sembari memikirkan apa artinya pilow tok. Ada-ada saja.
Jingga berdecak, "itu loh kang, percakapan pasangan sebelum tidur" kesalnya.
Aku terkekeh hampur ingin menyemburkan tawa saat mendengar penjelasan Jingga, agak bingung sih, tapi juga sedikit geli. "Oh, jadi maksudmu itu 'pillow talk' yang biasa orang-orang bilang? Kalau gitu kenapa kamu malah ngomongnya 'pilow tok' sih?" Aku menatapnya sambil tersenyum geli, mencoba mencairkan suasana. Ada-ada saja mahluk satu ini.
Jingga mendengus. "Iya, iya, salah ngomong! Pokoknya itu deh. Percakapan sebelum tidur yang lebih serius, yang bisa bikin kita ngerti satu sama lain. Kadang-kadang yang ringan juga gak masalah. Tapi, kalau bisa, yang dalam-dalam sedikit. Biar gak cuma ngomongin kerjaan atau jadwal makan."
Aku mengusap wajah, mulai merasa sedikit terjepit. "Maksudnya ngobrol yang dalam gimana, jing? Kaya ngobrolin masalah pribadi gitu? Ogah ah, gak usah gak perlu. Masalah saya biar saya tanggung sendiri"
Jingga memiringkan kepala, matanya tajam menatapku, seolah-olah bisa menembus dinding pikiranku. "Kenapa sih? Semua orang punya masalah, kang. Gak ada yang salah kok kalau kita saling cerita. Toh, kita pasangan. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kadang kita butuh tempat buat curhat, jangan cuma dipendem sendiri." Kesalnya.
Aku terdiam sejenak dengan menatapnya dalam. "Saya gak punya masalah yang berat, jadi gak butuh teman cerita. Gak usah maksa deh,"jawabku pelan, meskipun sejujurnya ada rasa bahagia yang membuncah dalam dariku entah apa. Tapi ini pertama kalinya ada seseorang yang menawarkan untuk aku bercerita selain si Ujang.
Jingga mengangguk perlahan, tapi ada ekspresi kecewa yang samar di wajahnya. "Ya udah, kalau kamu nggak mau, gak apa-apa. Cuma aja, kadang kita gak tahu kapan kita bakal butuh itu. Jadi, semoga nanti, kalau ada yang bikin kamu pusing atau ragu, kamu bisa cerita ke aku, ya?"
Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan pikiranku. "Mungkin nanti, Jing. Kalau emang perlu," jawabku hendak kembali merebahkan tubuh tapi sialnya Jingga lebih dulu menahanku agar tidak berbaring.
"Jangan tidur dulu, kalau akang gak mau cerita. Yaudah Jingga aja yang cerita,"
Aku mengerutkan dahi, menatap Jingga dengan curiga. "Cerita apa?" tanyaku, sedikit ragu. Mau cerita apa coba, selama ini kan dia kalau cerita ya ngalir gitu aja gak ada embel-embel mau cerita, aku pancing sedikit saja dia pasti berbicara banyak hal yang terduga sebelumnya.
Jingga tersenyum tipis, tatapannya penuh arti. "Cerita tentang teh Ayu, aku ngerasa gak enak deh. Hidupku serba salah sekali kang rasanya kalau main kerumah emak pas kebetulan ada teh Ayu di luar" ucapnya menghela napas panjang, lalu meraih bantal di sampingnya dan memeluknya erat.
"Lalu?" tanyaku mulai tertarik.
"Kenapa ya kang, teh Ayu kalau lihat Jingga kaya orang lihat setan aja bawaannya marah-marah" keluhnya dengan binar mata yang menampakan kekecewaan.
Aku menghela nafas dalam, meraih tangannya ragu untuk ku genggam berusaha menyalurkan kekuatan. Ku kira selama ini Jingga tak merasakan hal itu, ia biasa-biasa saja kalau teh Ayu menghindar atau menggerutu tak jelas saat kami pulang kerumah. Selama ini memang sikap teh Ayu pada Jingga terlihat begitu dingin, dan terkesan emosi saat keduanya berpapasan atau disatukan dalam satu ruangan, bukan apa katanya teh Ayu kapok takut kembali di rawat di rumah sakit gara-gara menghirup aroma Jingga yang bau ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
