"Rencana merealisasikan usahanya kapan kang?" Setelah saling memadu kasih, aku disajikan dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Jingga. Perempuan ini benar-benar tidak ada kata lelahnya, padahal setelah ini ingin rasanya aku tertidur sebentar sebelum kembali memikirkan proyek yang hendak aku jalankan esok harinya.
"Besok rencananya akang sama si Ujang mau ke kota temui mas Abi. Ya mau diskusiin dulu gimana teknisnya. Kalau uangnya ada lebih, akang juga mau sekalian buat rumah untuk kita. Tapi rumahnya sederhana gak sebesar rumah kamu atau rumah akang, gak papa kan?" jawabku diakhiri pertanyaan.
Jingga terdiam, tangannya masih saja nakal dengan mengelus-elus perut sixpack yang mungkin sebentar lagi akan buncit. Khas bapak-bapak, mungkin.
"Gak papa kok, yang penting nyaman" ujarnya, kali ini tangannya merayap, mengusap peluh di dahiku.
Aku merengkuhnya kedalam pelukan, tangan besarku ini berusaha menyingkirkan anak rambut yang menghalangi kecantikannya yang tak pernah membuatku bosan.
"Konsep rumahnya kaya rumah panggung seperti di pondok, gak papa kan?" tanyaku lagi memastikan. Aku harap Jingga akan menyukai desain rumah sederhana yang ku pesan dari temanku itu.
"Gak papa, justru Jingga senang loh kang rumah kaya gitu. Kelihatan hangat dan lebih nyaman. Makannya dari dulu Jingga betah di rumah pondok daripada di rumah utama. Terlalu luas, Jingga gak suka. Capek kalau beres-beres,"
Aku tersenyum, mengecup keningnya beberapa kali. Mendekap tubuhnya dengan penuh kehangatan.
"Kita akan ciptakan rumah yang hangat itu," kekehku.
"Harus itu kang,"
"Kita buat dulu anak-anak yang lucu biar rumahnya gak sepi" kekehku menggodanya.
Jingga mendengus, menggigit pelan tanganku. "Udah ya, udah capek ini. Jingga kewalahan seriusan,"
"Hilih, biasanya yang minta juga kamu"
"Yang dulu nolak, dan so jual mahal siapa? Jadi lama kan punya anaknya!" tak mau kalau Jingga membalas ocehanku hingga membuat aku skak mat. Memanglah perempuan itu pengingat yang kuat, ahli sejarah, suka mengungkit yang telah lalu.
"Jalan jodohnya seperti ini sayang, jangan ungkit lagi. Ya cintaku," kesalku.
Jingga tergelak, ia bangkit lalu mengungkung tubuhku. "Apa katamu, kang? Cintaku?"
Aku berdecak, segera menarik selimut yang tersingkap akibat ulahnya. "Jangan mulai deh, ini selimut tersingkap apa gak dingin? Lagian kamu belum pake ba-"
"Akang panggil Jingga apa tadi?" Aku mendesis kesal saat Jingga dengan cepat memotong pembicaraanku.
"Sayang! Cintaku! Puas?!" jawabku cepat.
Jingga tersenyum lebar, pipinya seketika berubah menjadi warna merah. Kemudian ia beberapa kali mencium wajahku dengan hangat. "Suka, aku suka panggilannya. Terdengar manis, lain kali jangan panggil lagi dengan sebutan nama ya kang. Panggil sayangku, cintaku aja kang aja," kekehnya.
Aku menggeleng dengan tersenyum manis, menarik hidung bangirnya gemas. "Iya sayangku, cintaku iya"
Jingga semakin kegirangan mendengarnya, ia tak henti-hentinya menghujami wajahku dengan kecupan lembutnya membuat aku terkikik geli.
"Ayo, semangat Jingga kalau buat nambahin ronde kalau gini" ajaknya penuh semangat.
"Istriku agresif sekali," kekehku geli. "Tapi akang ngantuk, tidur aja ya" lanjutku.
"Enggak, jingga belum ngantuk kang" keluhnya.
"Yasudah kita mandi dulu ya, habis ini akang buatin mie rebus siapa tau kalau perut kenyang bisa ngantuk," tawarku yang Jingga setujui.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
