kamu ratuku!

1.1K 35 4
                                        

Tepat pukul tiga pagi, aku baru sampai di rumah setelah mengantar si Ujang kerumahnya. Nampak, terdengar suara lantunan ayat suci al-qur'an saat aku hendak membuka pintu kamar. Hatiku rasanya begitu damai, ada ketenangan yang tak bisa ku jelaskan di sini.

Dengan pelan, aku membuka pintu berharap kedatanganku tak mengacaukan ke khusuannya. Aroma lilin terapi yang sangat ku rindukan menguar begitu aku melangkah memasuki kamar dengan mengendap-endap.

Ku duduk di tepi ranjang dengan tersenyum bahagia menatap tubuh kecil wanitaku yang tengah memunggungiku, dengan khusu bersama al-qur'an kesayangannya.

Mendengar suaranya yang begitu merdu membuat kantukku rasanya semakin berat, tanpa sadar aku mulai terlelap.

Usapan tangan diwajahku membuat aku menggeliat. Tidurku terganggu, siapa sih yang berani mengganggu kenyamananku bergelung selimut saat ini?

Aku berdecak, hendak membuka kedua kelopak mataku saat usapan di wajahku kini merambat pada dada bidangku. "Kang, bangun. Subuhan dulu" katanya berbisik tepat ditelingaku, deru napasnya terasa hangat.

Perlahan, aku menggerakan kedua tanganku, menangkap pergerakan tangan Jingga yang begitu nakal di dada bidangku tanpa membuka mata. "Jam berapa sekarang?" tanyaku dengan meraih tubuhnya untuk aku peluk, lalu ku tarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku.

"Udah mau jam setengah enam, bangun ya kang. Subuhan dulu, habis ini kalau mau tidur lagi oke. Jingga gak akan maksa" ujarnya mengusap-usap punggungku.

Aku masih enggan membuka mata ini. "Gak subuhan sekali, gak papa kan?" rasanya capek, ngantuk dan malas. Gak papa kan aku melewatkan shalat subuh sekali saja? Toh dulu juga gak pernah aku melaksanakannya.

Jingga mendengus, ia menyingkap selimut dari tubuhku. "Gak bisa, ini sudah kewajiban. Ayo bangun!" ujarnya dengan tegas menarikku untuk bangkit.

"Sekali aja, masa gak boleh" aku tetap tukuh dengan pendirianku. Pagi ini, aku ingin beralama-lama terbaring di kasur kesayanganku.

Terdengar Jingga menggeram, kesal."mau secapek apa pun kalau sudah menyinggung kewajiban harusnya bisa tanggung jawab. Toh, tujuan hidup kita di dunia itu untuk apa? Cuma menunggu mati kang, kalau mau matinya dalam keadaan baik ya amal shalehnya harus di kerjakan. Lagi pula, mau sampe titik darah penghabisan untuk mengejar dunia kalau Allahnya aja gak ridho tetap akan sia-sia. Udah mah capek di dunia, eh di akhirat malah dapat laknat. Rugi bener. Usaha, ikhtiar tanpa doa serasa sia-sia kang. Ayo bangun!"

Kupingku rasanya begitu panas mendengar ceramahan Jingga sepagi ini. Ingin rasanya aku marah, tapi apa boleh buat? Perkataan jingga pagi ini terdengar mengerikan tapi ada benarnya juga. Hidup hanya untuk mati, untuk apa aku mati-matian mengejar dunia yang fana kalau ujungnya bakal mati juga. Toh, kalau aku mati dunia akan baik-baik saja tanpa aku. Tidak usah terlalu berlebihan akan hal yang menyangkut duniawi hingga lupa perkara akhirat. Toh, tujuan manusia di bumi hanya untuk beribadah bukan?

"Iya, aku bangun sayang" ujarku dengan cepat beranjak meninggalkannya yang masih mengomel pergi ke kamar mandi.

Seusai shalat subuh, aku kembali bergelung dengan selimut namun tidak tertidur. Aku memutuskan untuk memeriksa beberapa email, berharap pagi ini ada kabar baik.

"Kang, ini teh nya." ujar Jingga menghampiriku dan duduk di tepi ranjang sebelahku sembari mengulurkan secangkir teh hangat padaku pagi ini.

Segera ku tutup laptop, lalu ku simpan di atas nakas sebelum menerima secangkir teh darinya.

"Makasih sayang," ujarku menerima secangkir teh tersebut. Lalu ku teguk secangkir teh manis buatannya yang masih mengepulkan asapnya.

"Kang, kenapa gak bilang. Kalau tanah yang mau akang bangun itu beberapa patok sudah di tanami cabe dan sejenis sayuran?" tanyanya Jingga memberengut kesal, menggeser tubuhnya agar lebih dekat lagi denganku.

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang