Jingga pov
Dua bulan telah berlalu, Rasanya seperti mimpi melihat proyek yang Kang Ahmad jalani akhirnya hampir selesai. Padahal sebelumnya, aku sempat takut semua akan kandas di tengah jalan karena begitu banyak rintangan yang Mamang dan Bi Rani ciptakan.
Setiap hari selalu ada saja masalah. Kadang bahan bangunan yang datang terlambat, kadang pekerja tiba-tiba digoda untuk mundur, bahkan gosip miring tentang Kang Ahmad sempat beredar di pasar. Tapi anehnya, bukannya bikin kami runtuh, semua itu justru bikin aku makin yakin bahwa kami berada di jalan yang benar.
Aku masih ingat betul malam-malam saat Kang Ahmad duduk termenung di beranda. Wajahnya keras, tapi matanya menyimpan lelah yang tak pernah ia tunjukkan di depan orang lain. Kadang aku cuma bisa duduk di sampingnya, diam, menemaninya. Lalu dia akan menoleh, senyum kecil tersungging, seolah berkata: kita pasti bisa, sayang.
Dan nyatanya, kami bisa. Namun, tetap kami harus waspada sebab bi Rani dan Mamang masih belum puas untuk meruntuhkan kami.
Aku menghembuskan napas lega memandang kearah bangunan yang sudah hampir selesai, disampingku Mail tengah sibuk dengan ponselnya.
"Teh," panggilnya tanpa menoleh kearahku.
"Hemm, kenapa?" Tanyaku lalu memilih untuk duduk dihadapannya.
"Dari semua kejadian ini, dari sikap dan cara bi Rani sama mamang yang terang-terangan mau menghancurkan proyek kalian, Mail jadi curiga deh" ujarnya. Ponsel yang sedari tadi ia mainkan kini diletakannya di meja.
Aku menatap Mail, keningku otomatis berkerut. “Curiga? Maksud kamu apa, Il?”
Mail menarik napas dalam, wajahnya serius. “Aku jadi kepikiran soal masa lalu, Teh. Tentang almarhum ayah sama ibu…” suaranya merendah, seolah takut kata-katanya terdengar angin. “Dulu kan katanya mereka meninggal karena kecelakaan. Tapi kalau lihat kelakuan Mamang sama Bi Rani sekarang, apa iya mereka benar-benar gak ada hubungannya?”
Jantungku langsung berdegup kencang. Aku terdiam, menatap Mail yang kini menunduk. Pertanyaan itu seperti pisau yang menancap ke hatiku. Karena jujur, selama ini aku juga sempat curiga. Hanya saja, aku terlalu takut untuk mengakuinya.
“Il…” suaraku tercekat, aku mencoba tersenyum tipis tapi gagal. “Teteh juga kadang kepikiran hal itu gara-gara kang Ahmad yang selalu bahas itu sama a Ujang" jujurku.
Tapi kalau memang benar… berarti semua kebencian mereka sama kita bukan cuma soal proyek ini. Lebih dalam lagi.”
Mail mengangguk pelan. “Makanya aku mau cari tahu, Teh. Aku udah coba hubungi salah satu pekerja lama yang dulu pernah deket sama almarhum. Katanya dia tahu sesuatu tentang kejadian waktu itu. Dia janji mau ketemu kita minggu depan.”
Aku terperangah, darahku seakan berdesir cepat. “Il… kamu serius?”
“Serius, Teh.” Mail menatapku mantap. “Kalau semua ini terbukti, kita punya alasan kuat buat lawan mereka. Bukan cuma soal usaha, tapi juga soal harga diri dan kebenaran.”
Aku menggenggam tangannya erat. Ada campuran rasa takut dan tekad di dalam dada. “Baiklah, Il. Kita cari tahu sama-sama. Kalau memang mereka penyebabnya… kita gak boleh diam.”
Aku menoleh ke arah bangunan yang hampir selesai itu, sinar matahari sore memantul di dinding. Dalam hati aku berbisik: Ayah, Ibu… tunggu. Aku akan bongkar semuanya. Kebenaran kalian harus terungkap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
