Jingga pov
Tanganku gemetar saat menutup pintu kamar tamu. Suara klik dari kunci pintu terdengar seperti pengesahan akan keputusan bodoh yang harus aku ambil malam ini. Punggungku bersandar pada daun pintu, perlahan aku tergelincir ke lantai, duduk memeluk lutut sambil menatap kosong ke depan.
Oh, tuhan. Apa ini sebuah keputasan yang benar? Jingga, apa kamu serius dengan hal ini, ayo berbalik. Temui kang ahmadmu, tarik ucapanmu!
Ah tidak! Kali ini aku serius. Aku tidak boleh goyah, selama ini Aku sudah mencoba menahan semuanya. Sungguh. Tapi ternyata sekuat apapun aku bertahan, cinta yang tak bersambut itu tetap menyakitkan.
Aku menghela napas dalam-dalam, mencoba meredam isak yang mulai merambat naik ke tenggorokan. Rasanya payah sekali—aku yang mengaku kuat, berani, kini justru meringkuk di sudut kamar orang tua suamiku, seperti anak kecil yang kehilangan arah. Padahal aku hanya ingin mencintai dengan tulus, tanpa berharap balasan yang muluk-muluk.
Kupandangi kamar tamu ini. Dindingnya dingin, sunyi. Tak ada jejak kenangan yang bisa kupeluk untuk menghangatkan hati. Tak seperti kamar kami yang setiap sudutnya menyimpan tawa, obrolan ringan, bahkan diam-diaman yang anehnya tetap menenangkan. Tapi kamar itu terasa jauh sekarang. Terlalu asing. Terlalu dingin, meski aku tahu hangat tubuhnya hanya beberapa meter dari sini.
Air mataku akhirnya jatuh juga. Pelan, tapi menyiksa.
Apa aku salah telah mencintainya? Salah karena berani jujur? Salah karena berharap ia bisa menyambut perasaanku, meski sedikit saja? Ah, memikirkan itu membuat kepalaku pening
Perlaban, tanganku meraih ponsel di samping bantal. Kubuka layar, melihat panggilan terakhirku ke Ujang. Entah kenapa, ada rasa malu sendiri. Apa aku terlalu memaksa? Terlalu mencemaskan
seseorang yang tak ingin dicemaskan?
Pesanku bahkan kulihat belum terbaca oleh kang Ahmad juga masih ada di sana. Hanya centang satu. Mungkin ia memang sengaja tak membaca. Atau... sengaja tak ingin tahu.
Aku menutup ponsel itu dengan hembusan nafas berat, lalu meletakkannya jauh-jauh dari jangkauan. Biarlah. Malam ini, aku ingin menangis sepuasnya. Aku ingin merenungi segala hal, mengapa sampai saat ini kang Ahmad masih belum mencintaiku. Apa yang salah dariku?
Dengan derai yang masih bercucura, aku mencoba bangkit. Kedua kaki ini melangkah, menuju cermin besar yang berada di sebelah tempat tidur ini. Aku duduk di tepi ranjang kamar tamu, memandangi bayanganku sendiri di cermin tersebut. Rambutku sudah kusut, daster yang kupakai pun tampak kusam dan longgar. Bukan karena aku tak peduli penampilan. Aku hanya terlalu sibuk mengembangkan peternakan, merawat rumah dan harapan, serta mencintai dalam diam. Tapi mungkin... justru di situlah letak salahku. Terlalu mengabdi tanpa sempat melihat ke cermin—secara harfiah maupun batin.
Kupeluk lututku, membiarkan lamunan menyusup diam-diam ke dalam hati. Mungkin aku memang harus jujur pada diri sendiri. Bahwa sebagian dari luka ini, bukan hanya datang dari penolakan kang Ahmad meski sudah ku rayu dengan memberikannya sebidang tanah, eh tunggu ... Itu bukan sebidang tapi berbidang-bidang. Tapi bukan itu, dari sore tadi aku baru menyadari mungkin penolakan kang Ahmad melalui sikapnya yang kentara itu dari ketidaktahuanku... tentang siapa diriku di matanya.
Ingatanku melayang pada siang tadi, saat tanpa sengaja aku melewati dapur belakang rumah mertuaku ini. Saat itu aku tengah hendak mencuci lap tangan, ketika suara dua perempuan terdengar dari balik dinding bambu yang memisahkan dapur dengan ruang jemur.
"Teteh kasihan banget deh sama adek teteh satu-satunya itu." terdengar suara teh Ayu, kakak iparku tengah mengutarakan keluhannya.
"Kesihan kenapa emangnya teh?" tanyanya Sinta yang ku lihat sekilas tengah asik memotong buah melon.
"Kasihan dapat istrinya bukan kamu tapi wanita yang udah terkenal sedesa ini. yah, kamu tahu lah," ujar suara kakak iparku yang paling cerewet, dengan nada yang dibuat setengah berbisik.
"Apa sih maksudnya?" sahut Sinta.
"Ya... maksudku, si Jingga tuh terlalu... biasa. Nggak jaga penampilan. Kadang baunya... hmm, nyengat. Aku juga bahkan sampai di rawat beberapa hari loh Nta gara-gara mabuk bau badannya Jingga. Bapak aja sampai ngeluh ke adek teteh itu, katanya suka pusing kalo pulang dan nyium bau minyak kayu putih campur keringat. Dia bukannya belain istrinya, eh malah ditambahin katanya Jingga bukan hanya bau tapi penampilannya enggak banget, daster itu-itu terus, rambut dicepol kaya bibi-bibi pasar..."
Aku menahan napas saat itu. Tidak berani bergerak. Tidak berani menunjukkan bahwa aku mendengar segalanya. Rasanya seperti tersiram air es. Beku. Mati rasa.
"Hahaha iya sih teh kenyataannya begitu ya, kok bisa sih teh kang ahmad mau sama dia? Dia itu baunya bukan bau biasa, tapi bau segala jenis binatang. Wong tiap hari mainnya dipeternakan, tapi anehnya ya teh kok bisa peternakannya selalu ramai pembeli?"
Kalimat itu menusuk lebih tajam dari apapun yang pernah kudengar. Aku terdiam di balik dinding bambu yang mulai lapuk, memeluk lap tangan yang hendak kucuci, namun kini seperti beban yang tak tertanggung. Tubuhku gemetar, bukan karena dingin, tapi karena malu. Marah. Dan yang paling menyakitkan: terluka.
Aku masih terpaku di depan cermin.
Kalimat-kalimat itu terus terngiang, berulang-ulang seperti mantra jahat yang merasuk hingga ke sumsum. Bau… daster itu-itu… rambut dicepol kayak bibi pasar
Dadaku sesak. Aku mencoba tersenyum pada bayangan di cermin, tapi yang kulihat hanya wajah murung dengan mata sembab dan pipi yang mulai mengering oleh air mata. Sejak kapan aku jadi perempuan seperti ini? Kapan terakhir kali aku merawat diriku sendiri, bukan hanya rumah, peternakan dan suamiku? Ah, sial! Bahkan sejak aku memasuki usia remaja, aku tak pernah tau merawat diri. Rasanya asing, semua keluargaku bahkan acuh, mereka hanya fokus memberiku pelajaran agar bisa beternak. Rasanya, selama ini aku dan adikku seperti babu!
Tanganku perlahan menyentuh rambutku. Rambut yang dulu waktu kecil sempat ku idam-idamkan seperti iklan sampo di tv yang lembut dan wangi.
“Maaf ya, Jingga,” bisikku pada pantulan diriku sendiri, “kamu terlalu sibuk mencintai orang lain, sampai lupa mencintai diri sendiri.”
Dan malam itu, aku tak bisa tidur. Tiap jam, tiap menitnya ku isikan dengan renungan, patah hati, tangisan dan luka yang entah bagaimana caraku mengobatinya. Sementara kang Ahmad? Entahlah, mungkin saat ini dia tengah berbahagia saat aku menutuskan untuk menjauh. Kalimat terakhirnya sungguh membuat hatiku nyaris remuk redam. Tak ada bujukan sama sekali, ia seolah pasrah atau mungkin teramat senang. Entahlah, aku tidak mau memikirkannya. Ini rumit! Terlalu menyakitkan.
°°°
Hallo teman-teman yang setia baca cerita gaje ini apa kabar? Semoga selalu baik-baik saja ya🤗
Aku mau ngucapin terimakasih banyak² sudah mau baca cerita ini dan hari ini aku memutuskan untuk merombak ceritanya versi wattpad biar episodenya gak nyampe 120 bab. Takutnya kalian bosan bacanya, huhu😭
First time, aku nulis lagi dengan sudut pandang dari sang juragan rasanya nano-nano, sedih banget apalagi diiringi lagu melow. Ah, rasanya kaya ... Tidak bisa dijelaskan lagi. Semoga kalian suka ya🤧Akhirnya Juragan sadar kalau dirinya itu bau, berantakan, tak terurus. Padahal cantik aslinya😌
Jangan lupa like and coment ya, biar aku semangat up nya hehe🙏
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
