Menjatuhkan hati

656 28 6
                                        

Katakan saja bahwa seorang Ahmad Baihaki ini merupakan manusia paling bahagia hari ini. Bagaimana tidak, rupanya usahaku untuk membuat seorang juragan Jingga luluh rupanya membuahkan hasil.

Rupanya, demam yang jingga alami membawa hikmah. Aku yang biasanya cuek bebek saat istriku merasakan sakit, kini berubah menjadi super perhatian dengan apa pun yang aku lakukan untuk meluluhkan kembali hatinya.

Dan benar saja, berkat bubur asin buatanku rupanya ia luluh juga. Bahkan rasanya segampang itu ia memaafkan lelaki brengsek sepertiku. Perempuan memang gitu ya, dikasih efort sedikit aja udah luluh. Pertahananya payah. Hah, kalau tau hanya semangkuk bubur yang aku buat bisa meluluhkan hatinya, udah sedari dulu aku lakuin. Bosan juga lama-lama berusaha agar kembali menarik hatinya.

Tapi, sudahlah lupakan. Hari ini aku menjadi pria satu-satunya yang paling bahagia. Setelah kami saling memaafkan, aku memutuskan mulai hari ini aku akan benar-benar menjatuhkan hati pada seorang juragan Jingga putri jalaludin rumi.

"Akang kenapa senyum-senyum mulu dari tadi? Aneh" entah itu pertanyaan atau pernyataan yang jelas aku tak peduli.

Aku masih tersenyum puas sembari mendekapnya erat saat kami kini sudah terbangun ketika jam alarm berbunyi menunjukan pukul sebelas siang. Rupanya aku dan Jingga tidur cukup lama dari pukul delapan tadi, saat aku selesai memberinya sarapan.

"Enggak papa, senang aja. Gini ya rasanya punya guling idup. Hangat" kekehku dengan semakin menenggelamkan kepala ini diceruk lehernya.

Jingga terkekeh. "Kemana aja kang, baru nyadar"

Aku mengecup lehernya dalam, aroma bau keringat begitu menyengat tapi entah kenapa rasanya aku suka. Aneh, ini baru pertama kalinya. Biasanya bau tubuh jingga yang tak enak itu membuatku pusing, mual hampir muntah. Rupanya, cinta memang sebuta ini ya.

"Kang, geli" ia protes dengan manja, tetapi tangannya melingkar kuat pada tubuhku.

"Demamnya udah turun ya," ucapku saat merasakan suhu tubuhnya yang gak terlalu panas seperti semalam.

Jingga mengangguk. "Iya,"

"Bisa gitu ya, kan tadi belum sempat minum obat?" tanyaku heran, dengan melonggarkan pelukannya.

Jingga tersenyum, ia sedikit menjauhkan tubuhnya dariku. Kali ini kami masih berbaring saling berhadapan. "Bisa dong, kan obatnya ada disini" ujarnya dengan mencubit gemas hidung bangirku, kemudian ia beberapa kali mengecupku.

Aku tak menolak, justru aku menikmatinya sekarang.

Aku tergelak. Akhirnya istriku kembali ke mode normal. Gak lagi pendiam dan so jual mahal. Ia kembali menjadi perempuan aktif dan genit.

"Ternyata dari kemarin sakitnya gara-gara gak aku peluk ya, jadi sembuhnya lama" kekehku menggodanya.

Jingga mencebik, wajahnya memerah bak seperti rebusan tomat.

"Loh, baru juga baikan masa iya mau ngambek lagi. Sini peluk lagi, akang kangen" ujarku merayunya.

Jingga mengangguk, matanya berbinar lalu kembali memelukku erat.

"Gini kan enak," kekehku mengelus rambutnya.

Rambut panjangnya yang sedikit kusut terasa seperti benang-benang kapas yang hangat. Rasanya aku tak ingin bangun, tak ingin hari ini berganti, kalau bisa… detik ini saja kuabadikan selamanya.

"Akang..." panggilnya lirih.

"Hmm?" sahutku, masih setengah mengantuk dan terlalu nyaman dalam pelukan kami.

"Tetap kaya gini ya, jangan berubah. Biar Jingga gak capek jatuh cinta sendirian" jujurnya.

Aku tersenyum, mengecup pucuk kepalanya berkali-kali. "Iya sayang, akang janji. Akang akan cinta terus  sama sayang. Catat saja, mulai hari ini seorang Ahmad Baihaki telah menjatuhkan hatinya pada juragan Jingga putri Jalaludin Rumi"

Istriku Juragan JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang