Hiks ... Hiks ...
Hoek ... Hoek ...
Senja sudah memudar digantikan gelap dengan berhiaskan semerbak bintang, malam ini aku, bapak dan mas Abimanyu yang baru saja pulang dari mesjid dikejutkan dengan keadaan teh Ayu yang tengah menangis sesenggukan di luar dengan sesekali diselingi suara muntahan, di temani emak di sampingnya.
Hoek ... Hoek ...
"Astagfirullah sayang, kenapa?" Begitu sigapnya mas abi bertanya dengan berjalan cepat menghampiri, di susul bapak dan aku yang panik melihat keadaannya.
"Mak, teh Ayu kenapa?" tanyaku bingung.
Emak bukannya menjawab malah mendengus, mengusap tengkuk teh Ayu.
"Sayang, hiks ..." Ini juga teh Ayu bukannya mereda tangisnya malah semakin terisak di pelukan suaminya yang membuat aku dan bapak saling bertatap bingung.
"Kamu kenapa sayang? Kok diluar, gak baik loh udara malam, kita masuk ya biar mas pijitin supaya enakan badannya" bujuk mas Abi begitu lembut, pantas saja teh Ayu begitu bucin padanya. Orang mas Abi memperlakukannya dengan begitu baik, tidak seperti aku yang memperlakukan jingga yang ... Ah sudahlah.
Hiks ... Hiks ...
"Mak putri kesayangan kita kenapa?" tanya Bapak dengan mendekati perempuan yang dicintainya.
"Biasalah pak, orang lagi hamil mah suka mual-mual"
Aku mengerinyitkan dahi bingung, "maksud emak teh ayu hamil lagi?" tanyaku bingung, pasalnya aku belum mendengar apa pun dari teh Ayu dan mas Abimanyu mengenai kabar baik ini.
"Iya," jawab emak ketus, tak biasanya emak bersikap seperti itu padaku.
"Alhamdulillah, punya ponakan lagi" jawabku penuh syukur.
"Kamu kapan, mad?" tanya emak dingin.
"Kapan apanya mak?" Aku bertanya balik dengan penuh kebingungan.
Emak berdecak, ia mendekat kearahku penuh intimidasi. "Kamu udah ngelakuin kewajiban kamu sama istri kamu belum sih, Mad? Kok istrimu belum hamil-hamil sih atau jangan-jangan kamu bel-"
Hiks ... Hiks ...
Hoek!
"Huaaaaa, mas aku kesini niatnya mau refreshing, supaya tiap hari cium udara segar, bukan polusi. Ini kok malah parah mas, aku gak tahan sama bau udara di rumah ini"
Seketika kami semua terbelalak saat teh Ayu mengeluh dengan keadaan udara rumah kami di sela-sela isak tangis dan mualnya membuat emak yang tadinya mengomel hendak mengintrogasiku terhenti dibuatnya.
"Maksud teteh apa?" tanya bapak dengan mendekat, mengusap puncak kepalanya lembut.
Teh ayu mengedikkan bahu, ia malah melanjutkan tangisnya dipelukan mas Abimanyu.
"Teh, jangan gitu atuh. Mentang-mentang lagi hamil muda manja banget. Teteh lagi ngidam apa? Lagi mau apa, biar Ahmad cariin" tawarku berusaha membujuknya.
Teh ayu mendongak, ia mengendurkan peluknya dari tubuh mas Abimanyu. Matanya berbinar, "Bisa gak, kamu bawa istri kamu jauh dari sini?" pintanya.
"Hah?" Aku menatap teh Ayu dengan tak percaya, apa maksudnya? Dia mengusirku dan Jingga dari rumah orangtua kami?
"Kamu mau kan?" tanya Teh Ayu dengan wajah memelas.
Emak yang sedari tadi diam kini berdiri disampingku menghadap teh Ayu. "Teh, dia menantu kesayangan kami juga. Emak gak izinin kalau neng Jingga pergi dari rumah ini"
Glek.
Aku menelan saliva susah payah, penjelasan emak membuat hatiku terenyuh. Sebegitu sayangnya ia sama menantu yang banyak kekurangannya itu.
Teh ayu menggeleng, kali ini isak tangisnya memelan. "Tapi mak, ayu mual. Bisa gak sih istri kamu itu pintar merawat diri? Perempuan juga, masa badannya bau" keluh teh Ayu berapi-api.
Aku mengangguk paham, oh jadi ini alasan teh Ayu mual-mual di luar sambil menangis sesegukan seperti tengah mengalami kdrt? Rupanya ia tidak tahan dengan aroma tubuh istriku.
"Teteh jangan bicara seperti itu, gak baik." tegur bapak seakan membela menantunya itu.
Teh ayu mendengus, ia kembali mengencangkan tangisnya hingga membuat Jingga yang entah sedang apa di dalam rumah sana, keluar tergesa-gesa menghampiri kami.
"Ini ada apa, teh Ayu kenapa?" tanyanya khawatir. Ia bahkan kini berdiri si samping emak.
Sementara itu teh Ayu kembali mengeluarkan isi perutnya dengan tangan yang sigap memencet hidungngya.
Hoek ... Hoek
"Teh, jingga sudah buatkan teh manis hangat buat teteh sebentar ya jingga ambilkan" ujarnya yang kembali memasuki rumah dengan berjalan tergesa-gesa.
Kami kembali saling berpandangan, bingung. Perasaan kami bahkan tengah dilanda dilema, apalagi emak kini raut wajahnya yang selalu ceria berganti masam dengan kerutan kebingungan di dahinya.
"Mak, pak. Tolonglah, Ayu mual banget kalau ada jingga di rumah ini. Bisa-bisa kesehatan ayu terganggu. Mad, teteh mohon ya cuma seminggu aja kok. Kamu nginep di hotel kek," mohonnya dengan sangat.
"Emang teteh mau bayarin?" tantangku dengan penuh senyum kemenangan.
Teh Ayu mengangguk dengan cepat. "boleh, biar teteh bayarin. Sekalian ajak istrimu itu perawatan biar dia pintar merawat diri, jangan hanya ternak aja yang di rawat, diri sendirinya juga perlu biar gak bau-bau amat tuh badan"
"Hus, bicaramu itu sayang. Di jaga loh mulutnya, gak baik orang hamil ngata-ngatain orang, istighfar" tegur mas Abimanyu bersamaan dengan Jingga yang sudah kembali membawa secangkir teh manis dengan asap yang masih mengepul.
"Ini teh, mangga diminum biar enakan" ujarnya sopan.
Teh ayu menggeleng, "kamu jauh-jauh dari saya sana. Saya mual," pintanya menepis pemberian jingga hingga ...
Prank!
"Astagfirullah, teh" kami memekik kaget saat cangkir yang Jingga sodorkan ke teh Ayu kini sudah pecah berserakan di lantai, tumpahan teh yang masih mengepulkan asapnya itu bahkan sudah mengenai kaki Jingga.
"Neng, gak papa kan?" Tanya emak sama bapak begitu panik, sementara aku masih bergeming menyaksikan ke kacauan yang teh Ayu buat.
Jingga menggeleng, dengan ringisan sesekali namun ia memilij berjongkok untuk membersihkan pecahan kaca.
"Gak usah dibereskan, kamu pergi aja sana. Kamu bikin teteh mual," cegah teh Ayu yang lagi-lagi ucapanya terkesan tidak.
Mas Abimanyu di sampingnya mendengus, "jangan seperti itu, ayo sebaiknya kamu istirahat ke kamar" ajaknya.
Teh ayu menggeleng keras. "Tidak, aku mau menghirup udara segar. Di rumah sumpek, bau" keluhnya.
"Di kamar juga bisa, dari balkon. Biar mas temenin ya sayang, ayo"
"Gak mau, aku mau pindah kamar biar gak bersebelahan sama kamar mereka," tolaknya.
Jingga yang fokus membersihkan pecahan kaca dibantu emak, kini mendongak kearahku. Aku menaikan satu alis dengan tatapan seolah bertanya "apa?"
"Udah sana mas, bawa teh ayu ke kamar. Udara malam gak baik buat orang hamil," tegur bapak yang segera di angguki. Mas abimanyu, berpamitan dan meminta maaf pada Jingga atas keributan yang terjadi sebelum membawa teh Ayu pergi. Di susul bapak yang ingin menemui cucunya, sementara emak, aku dan Jingga masih di luar membereskan sisa kekacauan.
"Jangan diambil hati ya neng, mood orang hamil emang kaya gitu" ucap emak seolah tengah menenangkan menantu kesayangannya itu.
Jingga mengangguk, "gak papa mak. Jingga paham kok, dulu juga jingga pernah diusir sama anaknya bibi pas dia lagi ngidam."
"Kok bisa?" Aku bertanya penasaran, siapa tau kasusnya sama seperti teh ayu yang gak tahan dengan aroma tubuhnya.
"Gak tau, dia marah-marah mulu terus bilang kalau aku harus pintar merawat diri gitu. Ada-ada aja sih mood orang hamil, gak bisa di tebak" jawabnya dengan kekehan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomansaAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
