Aku melirik ke arah laut yang jernih, warnanya biru kehijauan, karang di dasar terlihat jelas dari bibir pantai. Aku mengusap bahu Jingga dengan pelan.
“Sayang, gimana kalau kita snorkling sore ini? Airnya lagi bagus banget.”
Mata Jingga langsung berbinar. “Serius, Kang? Aku udah lama banget lohhh pengen nyobain bareng kamu.”
Aku tersenyum dengan lebar, menampakan deretan gigiku yang putih. “Yaudah, kita siap-siap. Akang bakal jagain kamu terus sayang”
Beberapa menit kemudian, kami sudah berdiri di tepi pantai dengan peralatan lengkap. Aku membetulkan maskernya, memastikan karet talinya pas.
“Gimana, nyaman nggak?” tanyaku.
“Nyaman, tapi deg-degan. Jangan jauh-jauh ya.” pintanya penuh harap.
Aku menggenggam tangannya erat. “Aku nggak akan lepasin sayang, tenang aja.”
Begitu wajahku menyentuh air, dunia seakan berubah. Karang warna-warni, ikan-ikan kecil berlarian, cahaya matahari menembus permukaan, menciptakan kilau menakjubkan. Jingga di sampingku tampak terpesona, matanya membesar di balik masker, tangannya tak pernah melepasku.
Beberapa ikan tropis berenang mendekat, membuat Jingga tertawa kecil. Gelembung-gelembung keluar dari snorkelnya. Aku ikut tertawa, lalu menariknya mendekat ke karang yang penuh dengan ikan badut. Wajahnya begitu bahagia dan jujur saja, itu lebih indah dari pemandangan laut sekalipun.
Setelah puas, kami kembali ke pantai. Jingga melepaskan snorkelnya sambil menghela napas panjang.
“Ya Allah, Kang… indah banget! Rasanya kayak mimpi.” kagumnya
Aku mengusap pipinya. “Aku bilang juga apa, pengalaman ini nggak akan terlupakan.”
Ia menempelkan keningnya ke keningku. “Bukan cuma karena lautnya indah… tapi karena aku bareng sama kamu.”
Hatiku hangat. Aku mengecup bibirnya sebentar, lalu kami duduk di pasir, menatap senja yang perlahan turun.
“Pokoknya,” bisiknya pelan, “hari ini akan selalu aku ingat seumur hidup.”
Aku menggenggam tangannya. “Dan aku janji, masih banyak perjalanan lain yang akan kita lewati sama-sama.”
Sunset keemasan jatuh di permukaan laut, membuat ombak berkilau seperti serpihan emas. Aku mengusap rambutnya yang lembap, menatap wajahnya yang merona.
Tiba-tiba Jingga berhenti, menatapku dengan tatapan lembut.
“Kang,” suaranya lirih, tapi penuh makna. “Kalau suatu hari nanti aku kehilangan kamu, aku harus gimana?”
Aku tertegun, dadaku mendadak sesak. Senyum Jingga masih ada, tapi matanya menyimpan sesuatu yang belum pernah kutemukan sebelumnya.
✨ Bersambung…
Kenapa Jingga tiba-tiba berkata begitu? Apa yang sebenarnya ia takutkan?
🌊 Temukan jawabannya di KaryaKarsa, link sudah ada di bio yaaaa😙 disana udah mau tamat🔥
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomansaAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
