Point of view Jingga
Beberapa bulan berlalu sejak hari itu. Hidup kami benar-benar berubah.
Rumah besar yang dulu hanya bayangan kini berdiri kokoh, jadi saksi bisu dari setiap keringat dan air mata yang pernah jatuh. Usaha pertanian, rumah makan dan peternakan kami berkembang pesat, bahkan jadi contoh buat warga desa lain.
Semakin hari, semakin terasanya nyata adanya bahagia dalam hidupku. Kang Ahmad, rasa cintanya bahkan semakin hari semakin besar untukku. Buktinya, aku melihat betapa ia sangat bekerja kerasnya dalam membahagiakanku. Beberapa minggu yang lalu kami sudah pindah ke rumah yang baru.
Meskipun sederhana, tapi aku nyaman tinggal disini hanya berdua dengannya sedangkan Mail? Dia sudah ku ikhlaskan pergi menggapai cita-citanya ke luar negri.
Oh iya, masalah pondok dan rumah kini sudah menjadi milikku dan Mail, usaha itu sudah ku satukan dengan bisnis kang Ahmad.
Sungguh, aku bahagia dengan perubahan kang Ahmad yang begitu drastis. Sejak keputusan besar yang ia ambil mengenai proyek ini, ia yang dulu jarang sekali tertarik dengan dunia pertanian, sekarang malah banyak menghabiskan waktu belajar tentang beternak dan berkebun. Di sela-sela kesibukan kami mengurus pembangunan proyek wisata edukasi yang semakin meluas, ia banyak bertanya dan belajar dariku, emak dan bapak tentang bagaimana caranya merawat kebun dan hewan ternak.Aku merasa bangga melihatnya, meski terkadang ia tampak bingung dengan hal-hal yang seharusnya sudah menjadi bagian dari keseharianku sejak kecil.
Kami selalu meluangkan waktu bersama setelah kerja keras seharian. Duduk di bawah pohon rindang,berbincang tentang pertanian organik yang sedang kami jalankan, atau tentang bagaimana cara memelihara kelinci dan domba yang baru kami beli. Ia semakin mahir memahami betapa pentingnya menjaga kualitas tanah dan kualitas pakan untuk ternak. Ia belajar bagaimana memilih bibit yang baik, kapan waktu yang tepat untuk menanam, dan cara merawat tanaman agar tumbuh subur.
Saat-saat itu terasa begitu menyenangkan. Aku menyaksikan bagaimana kang Ahmad semakin bersemangat dengan setiap pencapaian kecil yang kami raih bersama. Bahkan, meskipun ia dulu hanya mengenal dunia pendidikan, kini ia mulai nyaman dan terpenuhi dengan aktivitas bertani dan beternak yang dulu jauh dari bayangannya. Kami berbagi impian tentang masa depan usaha kami yang semakin berkembang, bagaimana kebun organik ini bisa menyediakan kebutuhan pangan yang sehat bagi kami dan masyarakat sekitar, serta
bagaimana wisata edukasi ini bisa memberikan dampak positif bagi para pengunjung yang datang.
"Kenapa melamun, hemm?"
Ah, aku hampir saja terlonjak kaget ketika kang Ahmad tiba-tiba memelukku dari belakang seperti kebiasaannya.
Aku tersenyum, membalikan tubuhku menghadap kearahnya. "Senang aja punya suami yang mau belajar sampai buat aku menjadi orang paling bahagia" ujarku.
Kang Ahmad tersenyum lembut, matanya menyiratkan kehangatan yang selalu membuatku merasa aman di dekatnya. "Aku juga senang bisa berada di sini bersamamu, Jingga. Kita sudah banyak melewati hal bersama, dan aku merasa semakin tahu arti dari perjuangan dan kebahagiaan yang sejati. Semoga setelah ini, ada kabar baik yang aku tunggu."
"Kabar baik apa kang?" tanyaku heran.
Ia menatap perutku dengan senyum hangat, kemudian mengusapnya lembut. "Ini, akang gak sabar ingin memiliki anak dari kamu"
Jantungku berdegup kencang mendengar kata-kata kang Ahmad. Aku terpaku sejenak, mencoba menyerap semua yang baru saja ia katakan. Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam dadaku. Aku tidak menyangka ia akan mengatakan hal itu, meskipun dalam hatiku aku sudah lama berharap.
"A-apa?" aku bertanya dengan suara bergetar, meski aku bisa merasakan senyum yang terukir di wajahku. "Kang Ahmad, kamu... kamu serius?"
Ahmad tertawa kecil, lalu menatapku dengan penuh kasih. "Sangat serius, Jingga. Aku ingin membangun semuanya bersamamu, termasuk keluarga kecil kita. Apa kita bulan madu aja ya? Nanti kalau Mail liburan semester, kita bulan madu ya. Biar dia disini yang mengelola usaha kita" tawarnya.
Aku terkesiap mendengar ucapan Ahmad yang terdengar begitu tulus. Untuk sesaat, aku terdiam, memikirkan semua yang sudah kami jalani bersama, perjuangan, tantangan, dan harapan yang semakin besar. Meskipun kami hanya berdua,rasanya dunia kami sudah cukup penuh dengan kebahagiaan. Namun, ketika Ahmad menyebutkan soal "bulan madu," aku merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar rencana biasa. Ia menginginkan semuanya: keluarga, masa depan, dan tentu saja cinta yang semakin mendalam.
"Bulan madu?" aku mengulang kata-kata itu, berusaha mencerna maksudnya.
Kang Ahmad mengangguk dengan senyum lebar masih memegang perutku yang rata. "Iya bulan madu. Maaf ya janji akang sama kamu belum terpenuhi, padahal kamunya udah sembuh tapi akang belum sempat bawa kamu ke pulau impian kamu di Maluku sana. Tapi akang serius deh kali ini
Setelah usaha kita stabil dan semuanya berjalan lancar, kita bisa nikmati waktu berdua. Tidak ada yang lebih aku inginkan selain itu, Jingga."
Aku menghela napas pelan, merasa emosi mulai meluap. Rupanya janji yang dia bilang dulu, tak pernah ia lupakan toh.
"Kang usaha kita baru sukses, nanti deh kita diakusiin lagi. Aku gak papa kok nunda bulan madu ke pulau burunya." ucapku menolaknya halus.
Kang Ahmad menatapku dengan penuh perhatian, seakan mencari tahu apa yang ada di dalam pikiranku. "Kamu gak keberatan, Jingga? Aku tahu betapa kamu sudah lama menginginkan perjalanan itu, dan aku ingin memenuhi impianmu"
Aku tersenyum kecil, merasakan kehangatan yang tumbuh di dalam hati. Meskipun aku sangat menginginkan perjalanan ke Maluku itu, aku juga tahu ada banyak hal yang perlu kami pertimbangkan. Kami baru saja memulai usaha ini, dan meskipun kami telah meraih beberapa pencapaian. Ada banyak hal yang masih perlu diperjuangkan.
"Aku tidak keberatan, Kang," jawabku lembut. "Kita sudah banyak berjuang bersama, dan aku lebih senang melihat usaha kita tumbuh sukses. Nanti, jika waktunya sudah tepat, kita pasti bisa pergi ke sana. Aku yakin, perjalanan itu akan lebih bermakna jika kita menjalani semuanya bersama-sama setelah usaha kita stabil."
Kang Ahmad tersenyum, lalu mengusap kepalaku dengan penub kasih. "Kamu memang selalu membuat aku merasa tenang, Jingga. Aku senang punya kamu di sampingku. Kita akan melalui semuanya bersama-sama, tanpa terburu-buru. Tetap seperti ini ya, akang sayang banget sama kamu sayang. Kamu benar-benar istri idaman. Akang suka, sayang dan cinta banget sama kamu"
"Gombal!" ucapku dengan kekehan. Setelah menempuh kesabaran itu, kini aku mengecap manisnya. Kang Ahmad yang dulunya cuek siapa yang menyangka malah menjadi sebucin ini padaku.
Kang Ahmad tertawa, sambil memelukku lebih erat. "Iya, aku memang gombal, tapi ini gombal yang serius. Semua yang aku katakan itu dari hati, Jingga. Aku ingin kita selalu bahagia, apapun yang terjadi."
Aku tersenyum, merasa sangat bahagia. Ada rasa syukur yang mendalam atas perubahan besar dalam hidup kami. Aku tak pernah membayangkan bahwa kehidupan yang begitu sederhana ini bisa penuh dengan kebahagiaan dan kedamaian.
"Terima kasih, Kang," ucapku dengan tulus. "Aku bahagia sekali bisa melewati semua ini bersama kamu. Kita memang masih banyak yang harus dicapai, tapi selama kita ada satu sama lain, aku yakin kita bisa menghadapi semuanya."
Kang Ahmad mengangguk, menatapku dengan penuh cinta. "Aku juga, Jingga. Aku merasa beruntung memiliki kamu. Kamu bukan hanya istri, tapi juga sahabat, pendamping, dan segala-galanya bagiku. Aku akan terus berusaha untuk membahagiakan kamu, karena kamu pantas mendapatkannya."
"Kita sama-sama pantas kang, bukan hanya akang yang beruntung tapi Jingga juga sangat beruntung memiliki akang. Kalau gak sama akang, Jingga mana mungkin bisa terbebas dari jerat mamang yang penuh kuasa atas harta orang tuaku. Jingga mana mungkin bisa sembuh dari sindrom bau ikan yang bahkan tak pernah Jingga sadari sebelumnya. Terimakasih ya kang, Jingga benar-benar beruntung"
KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku Juragan Jingga
RomanceAhmad, seorang pria sederhana yang sudah berkali-kali mengalami kegagalan dalam tes CPNS merasa begitu prustasi dan terdesak. Dalam keputus asaannya ia mengucapkan sebuah nadzar sebagai tantangan untuk dirinya, jika saat ia masih saja tidak lulus d...
