"That's why kukunya selalu cepat tumbuh.."
"Yeah, dan sialnya dia jadi terlihat makin keren dibanding kita berdua!"
"Dia selalu terlihat lebih keren dibanding kalian, James."
Suara-suara tawa dan candaan membuat tidur nyenyak Remus terganggu, sinar matahari juga mulai menyusup kedalam matanya dan membuatnya mau tidak mau membuka kedua matanya.
"Hey, lihat, dia terbangun karena kalian terlalu berisik!"
"Oh, come on Mary, ini memang sudah pagi."
James mendekatkan wajahnya ke wajah Remus, "Morning Remus.. It's time to wake up~" Ucap James dengan nada menggoda, membuat Remus tersentak kaget.
"W-what are you doing here, James..?"
"Oh, kami hanya ingin memastikan kau baik-baik saja." Jawab James dengan wajah tanpa dosa.
"Yeah, are you ok, Remus?" Sirius terlihat seakan menyembunyikan sesuatu.
"You look really tired.." Sahut Peter memicingkan matanya.
"I-Iam.."
Tepat saat Remus tidak tahu harus berkata apa, Dumbledore datang dan bergabung dengan bocah-bocah itu.
"Bukankah sebentar lagi pelajaran pertama akan dimulai, Mr. Potter, Mr. Black and of course you won't miss the class as well Mr. Pettigrew?"
"But Sir-"
"I think Mr. Lupin masih membutuhkan sejenak waktu istirahat.. Dan aku yakin kalian tidak ingin mengganggunya."
James dan Sirius mendengus kesal, namun keduanya sama sekali tidak ingin terlibat masalah berurusan langsung dengan kepala sekolah. Begitu pula dengan Peter yang memutuskan untuk diam saja. Jadi ketiganya segera mendekati Remus, membisikkan kalimat-kalimat yang tidak akan dilupakan Remus seumur hidupnya.
James menepuk pundak Remus pelan, "Segeralah sembuh, kawan. Lain kali, biarkan kami yang membantumu menyelinap keluar di bawah cahaya bulan purnama."
Deg
Apa maksudnya itu?
"G-get well soon Remus, kami akan menunggumu di asrama." Ucap Peter terbata-bata.
Peter juga terlihat aneh di mata Remus, sebelumnya dia memang aneh tapi saat ini jauh lebih aneh.
Sirius memukul pelan belakang kepala Remus, dan membisikkan kalimat penjelas dari semua hal yang membuat bocah berambut coklat itu bingung hari itu, "Rahasiamu aman bersama kami mate, sampai mati."
Mereka tahu, teman-temannya tahu.
"See you around, Remus. Kami akan menunggumu di asrama malam ini!" Ucap ketiganya berlari kecil keluar dari Hospital Wings.
Rasanya seakan disambar petir di siang hari. Remus tidak bisa menerima apa yang sebenarnya terjadi, rasanya aneh. Akhirnya, identitasnya diketahui. Dan oleh teman-temannya sendiri, dan salah satu dari mereka adalah Mary.
Gadis itu masih berdiri duduk diam di sampingnya, tidak bergeming atau terlihat ketakutan melihatnya. Padahal gadis itu sudah tahu siapa dia, dan seberapa menjijikannya wujudnya yang lain.
"Are you okay?" Suara penuh perhatian itu masih tetap sama, itu asli, bukan pura-pura.
Mary meraih tangan Remus dan mengelusnya pelan, memperhatikan bagaimana tidak ada luka goresan yang baru. Terimakasih kepada Dumbledore yang melindunginya semalam.
"Why..? Why.. Professor? Why.. Mary?"
Dumbledore dan Mary bertukar pandang. Lalu mau tidak mau Mary menjadi orang pertama yang menjelaskan kejadiannya kepada Remus.
"We saw you, aku tahu ini kesalahan kami. Kami seharusnya menghargai privasimu-"
"No! No! Itu tidak mungkin, Mary.."
"Remmy.. I'm so sorry.."
"You lie! You lie, Mary!" Remus tiba-tiba saja mengalami shock. Ia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan.
"I'm not lie, Remus!"
"Yes, you lie! Tidak akan ada yang masih bisa berkata seperti itu kepadaku setelah mereka tahu-! Tahu siapa diriku yang sebenarnya!"
Remus benar-benar tidak mengerti, kenapa sebenarnya teman-temannya masih bisa bersikap biasa saja setelah mereka mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya? Dan bagaimana Mary bisa setenang itu?
"I know who you are! And I'm not lie! Kau adalah Remus Lupin, kau adalah temanku! Dan tidak akan kubiarkan siapapun melukaimu.." Balas Mary ikut emosional.
Mendengar kata melukai, seketika ingatan Remus tentang kejadian semalam kembali. Ia mengingat saat ia sampai kedalam gubuk Dumbledore telah ada disana, lalu tidak berselang lama, di akhir waktu sebelum ia benar-benar bertransformasi sepenuhnya, seorang gadis kecil menerobos masuk.
Dan gadis itu adalah.. Mary..
Remus reflek memegang kedua lengan Mary, memeriksa tubuhnya dari atas sampai bawah.
"D-did I hurt you..?!" Tanyanya khawatir. Ia tahu apa yang bisa ia lakukan saat ia telah bertransformasi. Dan jika mengingat seberapa agresifnya ia kemarin, sudah jelas ada yang terluka.
Mary hanya bisa tersenyum, gadis itu sama sekali tidak melihat Remus seperti yang ia pikirkan. Ia memegang kedua tangan Remus, "You would never hurt me, I know that."
Sorot mata ketidakpercayaan terlihat dari mata Remus, meskipun memang tidak ada satupun temannya terluka, tapi tidak mungkin ia tidak melukai mereka. Setidaknya, serigala buas itu pasti berusaha untuk melukai atau bahkan lebih buruknya berusaha untuk membunuh mereka.
Remus melepas tangannya, ia kembali berbaring perlahan dan membalikkan badannya. Membelakangi gadis kecil yang sejak tadi berusaha meyakinkannya bahwa ia baik-baik saja.
"Remus?" Panggil Mary pelan, ia tahu lebih dari siapapun bahwa hal ini sangat berat bagi Remus. Rahasia yang selalu ditutupinya, bahkan mungkin akan ia bawa sampai mati akhirnya diketahui oleh teman-temannya sendiri.
"You should go to class, aku ingin sendirian." Balas Remus dingin, tangannya mulai menutupi tubuhnya dengan selimut bergaris khas rumah sakit.
Mary menghela nafas panjang, terlihat kesedihan dari kedua matanya, namun gadis itu tetap tersenyum hangat setelahnya. "I get it, tapi jika kau butuh seseorang untuk menemanimu, aku akan selalu bersedia."
"Aku tidak butuh belas kasihan darimu, Mary."
"I know.. Tapi kau tahu Remus, akulah yang membutuhkanmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Mr. Wolf
FanfictionTimeline sebelum Dear Frederick, menceritakan kehidupan Marianne Rose Brosvett di Hogwarts dan kisahnya dengan Remus Lupin. ... "Jika reinkarnasi benar-benar ada, kau ingin terlahir sebagai apa Remmy?" "Aku ingin menjadi apapun selain manusia ser...
