18: The 'Benedict Brosvett'

400 68 3
                                        

Hari itu Remus bangun lebih pagi untuk mandi, sama seperti hari-hari lainnya. Ia tidak pernah nyaman mandi saat ada orang lain yang memakai kamar mandi siswa asrama Gryffindor, mata yang melihat luka-luka ditubuhnya dengan tatapan penasaran dan jijik benar-benar membuatnya muak.

Setelah mandi, bocah itu memutuskan untuk pergi ke pohon yang ada disamping danau. Duduk disana hanya untuk menghabiskan waktu libur dengan tenang.

Kata-kata dari Rosier, Wilkes dan Mulciber tempo hari terngiang di kepalanya. Bohong jika ia bilang ia tidak sakit hati, namun terkadang ucapan jujur yang menyakitkan itu lebih baik daripada kehangatan yang membuatnya merasa tidak pantas.

"Indah sekali bukan?" Suara lembut berkharisma mengejutkan Remus.

Bocah itu segera berdiri saat ia menyadari seorang pria seumuran ayahnya ada disampingnya. Ia mengenal pria itu, ia pernah menemuinya sekali di kediaman Brosvett.

"Good morning, Sir. Apa ada yang ingin kau katakan kepadaku?" Tanya Remus to-the-point.

Benedict tertawa lalu mengelus rambut bocah laki-laki didepannya. Tatapannya hangat, mata berwarna coklat itu bercahaya terkena sinar matahari yang terbit. Mengingatkan Remus pada tatapan yang sama yang selalu ia sukai.

Benedict duduk dibawah pohon membuat Remus juga kembali duduk.

"Kudengar kau sedang kesepian, little Lupin. Jadi aku memutuskan untuk menemuimu." Balas Benedict mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan menyodorkannya pada Remus.

"Chocolate?"

"Kudengar kau menyukai coklat."

Remus mengambil coklat itu dan memakannya, masih tidak mengerti apa maksud Benedict menemuinya dan bukan menemui Mary.

"Coklat beracun untuk anjing dan hewan sejenisnya, you know that?"

Penekanan kalimat tanya akhir membuat kedua mata Remus membulat sempurna. "Yes, I know that, Sir."

Benedict tersenyum hangat, "But you're not a dog, atau hewan sejenisnya. You're Remus John Lupin, putra dari Lyall Lupin seseorang yang aku tahu sangat pemberani."

Remus terdiam sejenak, mencoba mencerna setiap kata-kata orang dewasa didepannya meskipun Ben sebisa mungkin menggunakan bahasa yang dimengerti.

"I'm sorry, Sir. Aku masih tidak mengerti."

Benedict mengeluarkan lebih banyak coklat dan permen dari sakunya agar Remus bisa memakannya. "Berapapun coklat yang kau makan, tidak akan ada yang berubah, Remus."

Hening. Remus akhirnya mengerti maksud Benedict. Pria itu tahu siapa dirinya, sama seperti teman-temannya. Tapi darimana? Apakah Mary? Tapi Mary sendiri tidak tahu kenapa ia selalu memakan coklat.

"How did you know, Sir?"

"Yang jelas bukan dari putriku dan teman-temanmu, aku bisa jamin itu." Jelas Benedict membuat Remus kembali merasa bersalah telah berpikiran buruk tentang Mary.

Ben mengeluarkan sebuah benda dari sakunya, membakar ujungnya lalu menyesap ujung lain dengan bibir. Benda yang akhirnya Remus ketahui sebagai rokok. Mungkin itu pertama kalinya Remus menghirup asap rokok karena ayahnya tidak pernah merokok.

"Baunya seperti kayu manis."

"Putriku suka kayu manis."

"I know, Mary suka permen kayu manis."

Ben bisa melihat senyum terukir di wajah Remus saat mengatakan itu. "Meskipun begitu jangan pernah mengatakan padanya bahwa aku merokok didepanmu, okay? Dia tidak suka jika aku terlalu sering merokok."

Hi Mr. Wolf Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang