69: Ways To Be Good

71 9 0
                                        

James memperhatikan iris hijau yang bercahaya dibawah sinar matahari, oh indahnya, seperti yang selalu ia bayangkan bahwa duduk sedekat ini dengan Lily membuatnya lebih bebas lagi mengagumi gadis itu.

"Wajahmu menyebalkan."

"Aku tahu, tapi kau menyukainya."

Lily memutar bola matanya malas, namun sejak hari itu, ada senyum yang terpatri di wajahnya setiap ia membalas ucapan konyol James.

"Sebentar lagi tahun ketujuh, James."

"We all know that, my Lily. Ada apa dengan itu?"

"Kau harus mulai serius."

"Serius denganmu?" Balas James masih dengan senyum konyolnya.

Alis Lily menyatu, menunjukkan kekesalannya, "Aku serius, James. Satu tahun adalah waktu yang singkat, dan semua yang terjadi akhir-akhir ini- kau harus mengatur waktumu dengan baik untuk belajar."

"Kau terlalu khawatir, aku belajar kok. Hanya saja, cara belajarku tidak sepertimu atau Mary."

"Lalu bagaimana? Tidakkah kau khawatir akan jadi apa nanti setelah lulus darisini?"

James menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menunjukkan bahwa dia belum pernah berpikir sejauh itu. "Jujur saja, aku belum pernah terpikirkan seperti itu, tapi yang pasti- aku akan melakukan yang terbaik. Untukmu, untuk kita, untuk teman-teman dan keluargaku."

Lily tidak menjawab lagi, ia terdiam dengan tatapan kosong. Tampaknya terhanyut dalam lamunan panjang dan James membiarkannya untuk sesaat. Ia menggerakkan tangannya untuk meraih dan menggenggam tangan Lily.

"Hey, kita masih punya banyak waktu." Ucapnya pelan, menyadarkan Lily bahwa ia masih ada disana, disampingnya. Dan genggaman kuat itu seakan memberitahu Lily bahwa James akan selalu ada disana, disampingnya.

"Ibuku sakit, James."

Senyum di wajah bocah berkacamata itu menghilang seketika, ternyata itu alasan Lily banyak melamun akhir-akhir ini.

"I'm sorry, kalau boleh aku bertanya- apakah sakitnya serius?"

Lily menggeleng tidak tahu, "I don't know, dokter bilang dia hanya kelelahan- tapi sepertinya lebih dari itu. Dia jadi sering sakit akhir-akhir ini, jadi ayah harus merawatnya juga karena aku tidak di rumah."

"I'm really sorry to hear that, Lily... Aku harap dia segera membaik. Tapi kau tidak perlu terlalu takut, okay? Everything will be alright, aku yakin Mrs. Evans akan segera sembuh."

".. Aku tidak menyukai kata-kata penuh ekspektasi seperti itu. What if.. Semuanya malah akan memburuk?"

James menghela nafas panjang, perlahan, menarik Lily untuk bersandar ke bahunya, "Hidup penuh dengan kejutan, Lily. Aku tidak bisa berjanji bahwa hal-hal tidak bisa menjadi lebih buruk, tapi ada hal-hal buruk yang akan menjadi lebih baik."

"Maukah kau menjadi lebih baik lagi? Untukku? Setidaknya, ada satu hal dalam hidupku yang menjadi lebih baik ketika semuanya memburuk." Pinta Lily pelan, kini tidak lagi menyembunyikan dirinya dan membiarkan James melihat dirinya yang sebenarnya.

James tertegun, ia tahu, ia tidak bisa langsung menjadi lebih baik dalam waktu yang singkat. Tapi melihat Lily begitu rapuh memintanya, tidak mungkin ia menjelaskan bahwa ia masih butuh waktu.

"I promise, I'll find ways to be better. Aku akan menjadi lebih baik untukmu."

.

.







Tidak terasa, waktu libur Natal tiba begitu cepat. Semuanya memutuskan untuk pulang pada Natal kali ini, bahkan Professor McGonagall juga pulang entah kemana, tidak ada yang tahu. Mungkin, semua orang juga menyadari atmosfer yang semakin tidak enak di Wizarding World. Dan tidak hanya penyihir yang merasakannya, muggles juga mulai menyadari ada yang mengancam mereka.

Hi Mr. Wolf Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang