67: Chance

236 43 2
                                        

"Dia benar-benar meminta maaf pada Snape?"

"Yeah, itu pasti sangat melukai egonya. Tapi Sirius tetap melakukannya, dan Snape bisa memaafkannya."

"Mary bilang aku harus memaafkannya, memberinya kesempatan kedua." Ucap James pelan, menatap Lily yang kini terasa begitu dekat.

"He's your best friend, James."

"More like a brother, actually."

Lily tersenyum, "Then what are you waiting for? Dia selalu berusaha mengajakmu bicara, tapi kau yang menolak dan bahkan bertukar kamar dengan yang lain."

"Aku hanya.. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Lily. Itu pasti berat untuk Remus, namun Sirius adalah yang paling dekat denganku. Aku tidak ingin terlihat seperti seseorang yang berpihak pada salah satu dari mereka."

James mengambil tangan Lily dengan hati-hati, anehnya gadis itu sama sekali tidak keberatan, terkejut pun tidak. Padahal ia sudah mengharapkan makian dari gadis ginger yang membuat jantungnya berdegup kencang. Entah sejak kapan, Lily tidak lagi menatapnya dengan kebencian.

"Memaafkan Sirius dan memberinya kesempatan kedua bukan berarti kau menyepelekan trauma Remus, James. And you should know, Remus juga berusaha memaafkan Sirius, dia memberinya kesempatan."

"He do?"

"Yeah, he do. Dan kau tau kenapa?"

Kening James mengerut, penasaran, "Kenapa?"

Lily tertawa kecil, tawa paling manis yang membuat telinga James memerah seketika, "Karena kau dan Mary. Kau harus tahu Remus juga menyayangkan jika persahabatanmu dan Sirius terhenti karenanya, dia begitu menghargai Marauders. Dan dia tahu Mary juga bagian Marauders, lebih tepatnya, dia tidak ingin Mary sedih karena Marauders tidak lagi bersama."

"Yeah, benar juga. But it's sound like he's in love with my sister." Balas James terkekeh, menyebabkan Lily menggeleng tidak habis pikir.

Apakah bocah berkacamata ini masih belum peka juga terhadap intensi lebih dari teman antara Mary dan Remus?

"What if he do?"

James terdiam sejenak, kalau dipikir-pikir selama ini Remus memang yang paling dekat dengan Mary. Seluruh perhatian Remus, semua itu mengarah pada saudarinya. Awalnya ia pikir Remus sama seperti dirinya, menganggap Mary sebagai seorang saudari. Tapi ada yang berbeda, dan James baru menyadarinya.

Bagaimana pipi Mary memerah ketika berpelukan dengan Remus, atau ketika kawannya itu menjahilinya dengan godaan manis. Mary tidak pernah seperti itu padanya, jangankan blushing, ia akan langsung meludahi James kalau sampai berani mencium rambutnya.

Tapi.. Sirius juga menatap Mary seperti itu, sama dengan cara Remus melihat saudarinya atau RJ menatap punggung gadis itu untuk terakhir kalinya. Dan mungkin.. Sama juga dengan caranya menatap gadis cantik berambut merah di sampingnya sekarang.

"I'll be happy, really. Tapi bukankah itu sedikit.. Complicated, Lily? Kau sudah tahu kondisi Moony." Tanya James penuh pertimbangan.

Untuk pertama kalinya, si pembuat onar terlihat begitu dewasa di mata Lily. Untuk pertama kalinya James Potter menggunakan otaknya memikirkan jauh ke masa depan, bukan hanya untuk pranks. Perlahan Lily bisa menerima bagaimana James berubah menjadi lebih baik, sesuai janjinya.

"Kau meremehkan Mary kalau begitu."

"I'm not, really, aku tahu bagaimana Mary. Aku mengenalnya dengan sangat baik, mungkin aku yang paling mengenalnya.. Dan dia adalah manusia paling hangat dan tulus yang pernah aku kenal setelah ibuku." James terdiam sejenak, memikirkan bagaimana jadinya jika Mary dan Remus bersama. Bukankah itu akan melukai Sirius? "Aku hanya.. Tidak ingin ada yang terluka. Terutama Mary, hidupnya sudah sulit from the first day. I don't want her spend the rest of her life in danger.."

Ekspresi Lily menajam, ia tidak suka bagaimana James seperti tidak terlalu ingin kedua sahabatnya bersama, tapi ucapan James ada benarnya. Tidak bisa ia tampik sepenuhnya. "But Remus is not a danger, dan Mary tidak pernah melihatnya sebagai bahaya. She want to help him in any way, you know that better than anyone else."

James akhirnya menghela nafas panjang dan mengangguk, "Well, I guess you're right. Aku meremehkan kekuatan cinta, huh? Jika mereka benar-benar saling mencintai, I guess mereka bisa melewati apapun bahkan 9 kehidupan."

"So you won't say anything if they want to be together?"

"Of course I'll say something, aku akan mengucapkan selamat dan I don't know, maybe get a room?" Canda James yang akhirnya membuat Lily tertawa lepas.

Remaja berkacamata itu akhirnya sadar bahwa sedari tadi, mereka hanya membicarakan hubungan orang lain. Padahal ini momen langka dimana Lily menghampirinya yang duduk dipinggir Black Lake.

"Lily." Panggilnya pelan, tidak lagi memaksa, tidak dengan nada menggoda yang biasa namun benar-benar serius.

"Yeah?"

"Aku tahu ini mungkin terdengar gila, I mean, setelah semua yang terjadi dan kita berada disini saat ini.. Aku bersyukur kau mau kembali menjadi temanku, really."

Gadis berambut merah itu mendengarkan dengan seksama, sesekali memperhatikan bagaimana mata James bersinar terkena cahaya matahari yang menerobos sela-sela dedaunan pohon.

"Kau boleh memakiku, memukulku atau bahkan mengutukku setelah ini. Tapi aku harus mengatakan ini padamu.. Lily, I'm in love with you."

Padahal Lily sudah sering mendengar pernyataan cinta itu dari mulut James, tapi kali ini, rasanya begitu berbeda. Seperti ada sengatan listrik kecil yang berasal dari hatinya dan membuat seluruh tubuhnya membeku.

Harusnya ia memukul bocah berkacamata didepannya, atau setidaknya memakinya karena ia terdengar begitu menggelikan. Namun kali ini, ia tidak merasa pernyataan cinta ini menggelikan, itu benar-benar terdengar tulus dan.. Romantis. Seperti apa yang ia baca di tulisan-tulisan William Shakespeare.

Oh no, Lily menyadarinya.

"Kau boleh menganggapku gila, tapi menurutku, kau adalah gadis paling menarik yang pernah aku tahu. You're not just beautiful, you're smart, attractive and- hell, for Godric's sakes, you makes my heart ache just because I can't hold your hands." Lanjut James hampir kehilangan nafasnya.

Lily bisa merasakan wajahnya memanas mendengar setiap kata manis yang jujur dan tidak dilebih-lebihkan itu. Dan dia sangat sadar sekarang, she's falling for James Potter.

"I'm still listening." Balasnya menunduk, menyembunyikan pipinya yang mulai memerah.

James tersenyum, wajahnya sama merahnya dengan Lily, bahkan lebih. Ia kembali meraih tangan Lily dengan hati-hati, menatap mata hijaunya dalam, "So, Lily Evans, would you like to go out on a date with me?"

Sebuah anggukan kecil menyebabkan ribuan kupu-kupu di perut James terbang bebas. Ia tidak bisa berkutik, tidak bisa membuat sebuah jokes karena Lily begitu manis dan ia setuju untuk pergi kencan dengannya setelah ratusan hingga ribuan kali penolakan.

Lily yang tidak bisa juga menahan malu akhirnya berdiri, dengan kepala masih menunduk dan melepaskan tangan James perlahan karena sangat tidak sehat untuk jantungnya. Gadis itu hanya tersenyum tipis, berusaha menahan salah tingkahnya yang ia pikir sangat konyol.

"I'll see you on weekend, Potter."








Hi Mr. Wolf Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang