63: The Pranks

313 54 7
                                        

"Lily.. She's amazing! Mata hijaunya bagaikan emerald dan rambut merahnya, oh kalian harus melihat betapa indah rambut merahnya ketika angin berhembus kencang.. It's fantastic!"

Peter menutupi kepalanya dengan bantal, dia sungguh muak mendengar cerita James tentang Lily. Sirius tertawa sedangkan Remus masih fokus pada novel Mary di tangannya.

"Prongs, kumohon. Kau sudah mengatakan hal itu berkali-kali!" Protes Peter akhirnya mengeluarkan rasa muak yang selama ini terpendam.

"But its real, Wormtail..! The way she laugh, sounds like a really good music. Itu membuat hatiku-"

"Berdetak lebih keras seiring kau menyadari betapa indah tawanya?" Potong Remus membuat James terkejut namun juga antusias.

"Yeah! Exactly like that, Moony! Darimana kau tahu soal itu?"

Telinga Remus memerah, namun ekspresinya tetap datar dan pandangannya masih pada novel ditangannya. "Hanya menebak."

"Hanya menebak? Really?" Salah satu sudut bibir Sirius terangkat, ia bertanya dengan nada mengejek.

"Tentu saja, bagaimana aku tahu pasti apa yang dirasakan Prongs pada Lily?"

"Kau jelas tidak tahu apa yang dirasakan Prongs pada Lily, Moony. Tapi kau tahu pasti bagaimana rasanya jatuh cinta kan?"

Remus melipat halaman novel yang terakhir ia baca, menutupnya seiring pandangannya beralih pada ketiga temannya yang duduk di ranjang Peter.

"Dan aku yakin itu sama sekali bukan urusanmu, Pads."

"Bukan urusanku? Bahkan ibumu tau itu juga urusanku. Haruskah aku menjelaskannya padamu?"

James dan Peter terdiam, menyadari situasi diantara mereka menegang.

"Sampai kapan kau membuatnya menunggumu, Moony?" Lanjut Sirius membuat kedua mata Remus menajam.

"Aku tidak membuatnya menungguku."

"Rubbish, you know damn well dia selalu menunggumu. Sampai kapan kau membuatnya bingung dengan apa yang kau rasakan?"

"Sampai aku yakin aku bisa menjadi seseorang yang lebih baik untuknya, Padfoot."

Sirius membalas tatapan tajam Remus, "Dan kita semua tahu kau tidak akan pernah merasa lebih baik."

"Kau tidak tahu apa-apa soal kami. So shut your damn mouth."

"Tapi aku tahu aku lebih baik darimu, in any way."

"Whoa, whoa, whoa..! Guys, calm down.. Sebenarnya siapa yang sedang kita bicarakan?" Potong James di tengah perdebatan panas kedua Marauders.

Keduanya menatap James tajam, lalu menghela nafas panjang dan menggeleng bersamaan. Tidak ingin menjelaskan hal yang sebenarnya sudah jelas pada James dan tidak ingin melanjutkan perdebatan yang hanya akan membuat pertemanan mereka renggang.

"Sorry." Ungkap Remus pelan, meskipun masih ada perasaan tidak nyaman di hatinya.

Ingin rasanya Sirius tetap berdebat, tapi percakapannya dengan Hope malam itu terngiang di kepalanya dan membuat Sirius terpaksa mengangguk menyerah.

"It's my fault too." Balasnya kemudian keluar dari asrama, menenangkan emosi didalam dirinya yang sulit terkontrol.

Sirius melangkahkan kakinya ke koridor, tepat saat ia melihat sosok yang sangat menarik untuk dibully. Severus Snape yang sedang sendirian tanpa kawan-kawan Slytherinnya.

Pandangan Snape mengarah pada The Whomping Willow. Mengingatkan Sirius bahwa beberapa hari ini, tidak hanya Lily Evans namun Severus Snape juga mencurigai aktivitas The Marauders setiap bulan purnama.

Hi Mr. Wolf Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang