"Katakan pada saudara laki-lakimu itu kalau aku, muak, kesal dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerima ajakan kencannya!" Lily menggerutu kesal, baru beberapa hari saja mereka menjalani tahun keenam, James sudah mengajaknya kencan 6 kali, 6 kali!
Ia bahkan sudah malu berat saat Petunia membuka surat James untuknya ketika liburan, isinya puisi-puisi cinta yang mengerikan! Meskipun ada beberapa kalimat yang memang bagus, tapi sisanya mengerikan!
"Aku tidak bisa melakukan apapun, Lily. Dia sangat menyukaimu." Balas Mary menahan tawanya bersama Marlene.
"Aku tahu ini out of topic, tapi bukankah James mulai berubah sekarang?"
"Apa maksudmu, Marls?"
Marlene bergumam pelan, "You know, dia tidak pernah lagi mengganggu Snape. Aku tahu ini masih awal, tapi dia seperti lebih fokus pada dirinya sendiri.. Dan kau, of course."
Lily ikut terdiam mendengarnya, bukan karena dia tidak percaya, tapi gadis rambut merah tersebut juga tahu bahwa James tidak pernah lagi mengganggu Snape atau siapapun itu dari House lain. Mungkin sesekali masih menjahili Filch atau Peeves si hantu, tapi James seakan benar-benar serius ingin menepati janji padanya.
Apakah James Potter, si anak manja itu benar-benar telah berubah?
"Aku tahu ini mungkin akan memberatkanmu, Lils. Tapi.. Jika dia memberimu sesuatu, bolehkah kau terima saja?" Pinta Mary pelan, dia sedang pilek akibat terlalu sering menghirup bunga di taman Potter Manor liburan kemarin.
"Memberiku sesuatu?"
"Seperti bunga, surat atau mungkin.. Coklat? Like that, aku tahu kau mungkin masih membencinya, tapi aku ingin kau tetap menghargai usahanya." Mary mengingat saat-saat James membaca banyak sekali buku tentang bagaimana cara mendekati gadis, konyol sih, tapi James benar-benar serius menuangkan seluruh perhatiannya disana. "Aku sudah menyayanginya seperti saudaraku sendiri, Lily."
"Seorang James Potter melakukan hal-hal seperti ini, jika itu gadis lain, mereka pasti akan langsung luluh.. Aku setuju dengan Mary, setidaknya kau harus menghargai usahanya." Timpal Marlene yang juga tahu seberapa besar usaha James, teman setim-nya.
"Ugh.. Fine, aku akan menghargai usahanya. Tapi hanya sebatas itu, jangan harap aku membalas perasaannya."
Mary tertawa kecil, "Tidak ada pemaksaan Lily, but you know the most, terkadang perasaan tumbuh dengan sendirinya. Seperti bunga yang ditanam di sebuah taman."
Lily cemberut, lalu menyenggol pelan lengan Mary, "Jangan kau pikir aku lupa denganmu dan Remus John Lupin, my dear friend. Bagaimana rasanya menghabiskan liburan panjang dirumah keluarga Lupin?" Tanyanya membuat guratan merah tipis muncul di pipi Mary.
Liburannya dengan The Marauders dirumah keluarga Lupin terlalu berkesan, memanen Strawberry bersama Remus, memasak pie berry bersama Hope bahkan tidur dengan kantung tidur dihalaman depan keluarga Lupin hanya untuk melihat bintang ternyata sulit dilupakan. Menghabiskan waktu bersama James sudah seperti hal biasa, namun liburan kemarin dihabiskannya dengan sangat menyenangkan bersama Remus dan Sirius juga.
"It's fun." Jawabnya singkat, menyembunyikan warna merah yang semakin jelas dipipinya.
Lily dan Marlene tertawa, lalu ketiganya memasuki ruang kelas Ramuan dimana Slughorn telah menunggu. Bau ruangan itu berbeda dari biasanya, apalagi kali ini sangat menyengat. Untunglah, jumlah siswa Gryffindor-nya lebih banyak hari itu. Kembali mendengar celotehan Evan dan kawan-kawannya hanya akan memperburuk flu Mary.
"Wait, aku mencium sesuatu yang aneh. Padahal sebelumnya, hidungku tak bisa mencium apapun." Gumam Mary ternyata dialami juga oleh teman-temannya.
"Trust me, aku mencium bau parfum Lily yang sangat menyengat. Kau mandi parfum hari ini, my Lily?" Goda James mengedipkan matanya dari sudut lain ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Mr. Wolf
FanfictionTimeline sebelum Dear Frederick, menceritakan kehidupan Marianne Rose Brosvett di Hogwarts dan kisahnya dengan Remus Lupin. ... "Jika reinkarnasi benar-benar ada, kau ingin terlahir sebagai apa Remmy?" "Aku ingin menjadi apapun selain manusia ser...
