65: Dark Heart

286 43 4
                                        

Gelap dan ia masih menghitung hari didalam ruang kamarnya yang dingin. James tidak tidur di kamar itu beberapa hari ini, tidak satupun dari teman-temannya mengecek keadaannya.

Sudah seharusnya begitu, mereka harus memperhatikan Remus dan Snape saja. Mereka harus sepenuhnya mengabaikan dia, dialah yang menjadi penyebab semua kekacauan ini. Dan itu hanya karena.. rasa cemburunya yang sama sekali tidak berdasar. Kepada sahabatnya sendiri.

Itu karena dia selalu berpikir bahwa dia lebih baik daripada Remus. Yang sekarang baru ia sadari adalah pemikiran yang salah. Dia selalu merasa dirinya lebih baik untuk gadis itu, gadis yang hingga kini pun tidak-

Tok tok tok

Ketukan pada pintu kamarnya menginterupsi lamunan Sirius, ketukan pertama setelah 3 hari lamanya ia mengurung diri didalam kamar. Apakah itu James? Tidak mungkin. Remus? Mustahil, Remus pasti tidak ingin melihat wajahnya lagi. Peter? Peter juga tidak mungkin. Lalu siapa?

"Sirius.."

Suara lembut seorang gadis yang familiar ditelinga memanggil namanya. Marianne. Gadis itu adalah orang pertama yang mengetuk pintu itu setelah ia melakukan sebuah kesalahan besar.

"Sirius, buka pintunya. It's me, Mary.."

"I know that's you, Mary.." Balas Sirius lirih.

Kakinya yang lemah berjalan perlahan ke arah pintu, tubuhnya bersandar disana sambil menutup mata, membayangkan bagaimana wajah gadis didepannya melihat dirinya sekarang. Apakah ia akan jijik atau risih seperti cara Lily melihat James selama ini? Atau malah lebih buruk lagi? Benci, pasti tatapan itu yang akan ia lihat di mata Mary.

"Buka pintunya, Padfoot."

Dengan rasa takut luar biasa, tangannya membuka kenop pintu kamar dengan gemetar.

"Mary.." Nafasnya tertahan melihat gadis didepannya yang menatapnya dengan tatapan dingin. Lalu tatapan Sirius sendiri teralih pada piring yang ada di tangan gadis itu.

Rasanya hatinya jatuh seketika setelah melihat gadis itu membawa sepiring makanan, untuknya. Mary masih mengkhawatirkannya. Gadis yang ia sayangi, masih peduli dengannya.

"Makanlah, kau tidak makan selama 3 hari."

"Mary..-"

"Apa kau akan mengizinkan aku masuk atau tidak?"

Sirius mengangguk pelan, membuka pintu kamarnya lebar-lebar untuk Mary. Setelah gadis itu masuk dan duduk di pinggir ranjangnya, ia menutupnya dan ikut masuk. Duduk di sebuah kursi di samping ranjang.

"Makanlah." Ucap Mary singkat, menyodorkan piring berisi steak dan penuh fries, menu makan malam hari ini. "Kau sudah tidak makan 3 hari, apakah kau mau mati?"

"Mungkin aku memang pantas mati.."

"Not now, jadi makanlah, Sirius."

"Why do you still care about me..? Aku telah.. Melakukan hal yang sangat buruk, Mary.."

Mary menghela nafas panjang, ekspresinya yang tadinya dingin berangsur hilang. Ia meletakkan piring makanan itu di pangkuan Sirius. "Aku membencimu."

Deg, rasanya hati Sirius bagai gelas kaca yang dijatuhkan ke lantai.

"Aku sangat membencimu, Sirius. It's a lie if I say I'm not mad at you.."

Remaja laki-laki itu mengangguk lemah, "I deserve it."

"Tapi, jika aku melakukan kesalahan besar, apakah itu berarti aku bukan temanmu lagi, Sirius? After everything we've been through, apakah sebuah kesalahan besar bisa menghapuskan semua yang kita miliki?"

"No, tidak ada yang bisa menghapus apa yang kita miliki.. Tapi aku.. Aku telah...-" Sirius tidak dapat berkata-kata, apakah itu tandanya gadis didepannya ini masih menganggapnya sahabat? Apakah Mary bisa memaafkannya?

"That's right, tidak ada yang bisa menghapus apa yang kita miliki. Sekalipun aku membencimu saat ini, dan aku sangat ingin melempar kutukan cruciatus padamu seperti yang dilakukan ibumu." Tangan Mary menyilang dan menatap Sirius dalam, "Bahkan meskipun kau telah mengecewakanku, melakukan kesalahan yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidup.. You're still my friend, my best friend. And maybe more than that."

"Tapi kesalahan yang kulakukan terlalu fatal, Mary.. Aku tidak bisa mengulang waktu dan menghentikan itu terjadi.." Sirius menunduk dalam, Mary yang masih peduli padanya adalah sebuah keajaiban, tapi bisakah Remus dan James memaafkannya?

"Kalau begitu perbaiki, apologize to everyone you hurt because of your stupid action."

"James dan Remus tidak akan mungkin memaafkanku."

Mary meraih tangan Sirius, bohong jika dirinya sendiri tidak marah pada sahabatnya ini, namun sebenci apapun ia pada kesalahan yang telah diperbuat Sirius, mana bisa ia melihat Marauders terpecah belah setelah semua yang mereka lewati bersama? Mana bisa ia tidak lagi mempedulikan laki-laki yang selalu ada untuknya ini?

"Jangan meragukan persahabatan kalian, seperti aku yang mengkhawatirkanmu, aku yakin James juga begitu. You know how disappointed they are, tapi meminta maaf adalah salah satu hal yang bisa kau lakukan untuk memperbaiki kesalahanmu."

"Bagaimana jika mereka tidak memaafkanku?"

"Kau harus terus meminta maaf."

"Bahkan jika aku harus melakukan itu selamanya?" Tanya Sirius menggenggam erat tangan Mary.

Gadis itu membalas dengan anggukan, "Bahkan jika kau harus meminta maaf selamanya. Itu harga yang harus dibayar untuk merusak kepercayaan mereka."

Sirius menghela nafas panjang dan ikut mengangguk pelan. Ya, dia harus meminta maaf. Biarpun Remus mengacuhkannya, James mengutuknya hingga sekarat dan biarpun ia harus meminta maaf ribuan kali, itu adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki semuanya setelah kesalahan besar itu.

"Kau harus meminta maaf pada Severus juga." Lanjut Mary mengingatkan.

Keadaan Snape sudah baik setelah 2 hari dirawat di Hospital Wings, Lily dan James menjelaskan semuanya pada Snape dan memintanya untuk menjaga rahasia ini demi kebaikan bersama. James harus menurunkan egonya untuk memohon pada Snape, sebuah bentuk kepedulian mereka kepada teman-teman mereka, hal yang belum dilihat oleh Sirius.

"I-I will.. But first.. Aku ingin meminta maaf padamu.. Karena telah mengecewakanmu, menghilangkan kepercayaanmu dan membuatmu terluka karena ulahku."

Mary beranjak dari duduknya, berjalan pelan ke pintu, berhenti sejenak untuk melihat kawannya itu sekali lagi, "Be someone better, dan jangan lakukan kesalahan yang sama. And maybe soon, I'll forgive you, Sirius."

Diam-diam hati Sirius menghangat, padahal justru ia paling merasa bersalah pada gadis didepannya ini setelah Remus. Semua ini terjadi karena ia merasa lebih baik untuk Mary. Karena keegoisan dan kecemburuannya karena Mary lebih banyak memberikan waktunya untuk Remus. Padahal, ia tidak lebih dari seorang sahabat untuk Mary.

Dan kehadiran gadis ini didepannya saat ini sama sekali tidak membantu perasaan Sirius untuk menggenggamnya lebih erat, untuk memilikinya disisinya selamanya. Mungkin dia memanglah bagian dari keluarga Black, dan hatinya sama gelapnya dengan nama keluarga yang ia bawa.

"Aku akan melakukan apapun, agar kau memaafkanku."

Meskipun tidak tersenyum, tatapan Mary yang hangat dan anggukan pelannya sebelum keluar dari kamarnya sudah cukup menjadi 'iya' bagi Sirius.

"Aku akan melakukan apapun agar kau terus berada di sisiku. Bahkan meskipun aku hanya akan menjadi bayang-bayangmu."








Hi Mr. Wolf Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang