"Mulai hari ini, kalian akan ditugaskan menulis setiap mimpi yang bisa kalian ingat kedalam sini. Menafsirkannya setiap seminggu sekali sehingga aku bisa mengecek apakah kalian sudah menguasai materi tafsir mimpi."
Professor membagikan buku-buku tipis kepada setiap siswa dikelas Divination hari itu, sepertinya dia kehabisan bahan ajar atau ini ada hubungannya dengan rumor pensiunnya.
"Buku harian mimpi? It's like a joke for us.."
Remus tertawa kecil, "Bolehkah aku menulis mimpiku melihat Sirius menggonggong seperti anjing?"
"Yeah and I'll bit you twice, membuatmu menjadi seekor Chihuahua tiap malam bulan sabit."
"But I prefer golden retriever."
"Thats a good one, what about me?" James meletakkan tangannya di pipi, menatap Snape yang asik berbincang dengan Lily, "What should I write down here? Memimpikan Snape tergantung dan celana dalamnya kelihatan?"
Ucapan James membuat seisi ruangan tertawa, tentu saja kecuali Mary, Lily, Marlene dan Remus. James dan Sirius tertawa mengejek Snape yang hanya bisa diam menundukkan kepalanya dalam-dalam, Lily menatap kedua teman seasramanya itu tajam, "Leave him alone, Potter."
"Oh, you scared me a bit, Evans. Tapi wajahmu cukup lucu untuk marah seperti itu."
"Tidak ada yang lucu dengan mengganggu orang lain tanpa alasan, Potter. You're pathetic." Ucap Lily kemudian mengemasi tasnya, "Mary, kau ingin ikut dengan kami?" Ajak Lily melirik teman gadisnya yang masih sibuk berkutat dengan buku.
"No, kalian tahu aku tidak mengambil kelas Aritmatika tahun ini, Lily."
"Setidaknya bersama kami lebih baik daripada bersama pengganggu aneh, kan?"
Mary tertawa dan mengangguk setuju, "Yeah, you're right, bersamamu memang lebih baik. Meskipun aku tertarik denganmu, aku tidak tertarik Aritmatika, Lils."
"Sayang sekali, kalau begitu kami pergi dulu, see you around." Lily pergi keluar kelas bersama Marlene dan Snape, mereka kembali mengambil pelajaran tambahan Aritmatika tahun ini yang tidak diambil Mary.
Mary tersenyum pada Lily berusaha menyembunyikan rasa tidak enaknya, setelah kawannya tidak terlihat lagi, ia menghela nafas kasar. Menatap James dan Sirius yang berusaha menghindari tatapannya, berkali-kali diberitahu pun tidak mengubah sifat buruk James dan Sirius yang suka mem-bully orang.
"Tidak bisakah sehari saja kalian tidak mengganggu Snape?"
"Tentu saja bisa, Mary! Ya kan, James?"
"Yeah, of course we can, Sirius! Jika Snivellus tidak berada di pandangan kami.." Kedua remaja laki-laki itu kembali tertawa lalu keluar kelas, entah menuju kemana, yang pasti tidak melakukan hal-hal baik.
"Apa kau ingin ikut mereka, Remus..?" Tanya Peter bimbang antara mengikuti kedua temannya atau Remus yang masih duduk dikursinya.
Remus terdiam sejenak, menatap gadis berambut coklat didepannya yang masih menulis sesuatu di buku ramalan harian yang baru saja diberikan.
"No, kau susul saja mereka, Pete. Aku akan menyusul kalian nanti, I have something to do." Jawab Remus membuat Peter langsung berlari menyusul James dan Sirius.
Remus masih ada disana hingga kelas hampir kosong, tersisa mereka berdua dimana Mary sendiri tidak menyadari kawannya itu masih disana. Gadis itu terlalu sibuk menulis mimpi yang pernah ia alami tahun lalu, yang sampai saat ini belum bisa ia temukan artinya. Angka 1-8 yang masih jadi misteri mungkin saja bisa dipecahkan jika Professor membantunya.
Setelah selesai menulis, gadis itu terdiam sejenak meletakkan kepalanya diatas meja, memikirkan apa yang harus ia lakukan karena waktunya benar-benar luang. Tiba-tiba ia terpikirkan sebuah ide yang menurutnya cukup menyenangkan untuk dilakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Mr. Wolf
FanfictionTimeline sebelum Dear Frederick, menceritakan kehidupan Marianne Rose Brosvett di Hogwarts dan kisahnya dengan Remus Lupin. ... "Jika reinkarnasi benar-benar ada, kau ingin terlahir sebagai apa Remmy?" "Aku ingin menjadi apapun selain manusia ser...
