"Kau yakin sudah baik-baik saja?" Remus kembali menempelkan tangannya ke dahi Mary, sudah 5 kali dia lakukan itu hari ini. Padahal Mary sudah sembuh 3 hari lalu.
"I'm fine, Poppy juga bilang aku sudah sembuh, Remmy. Ini sudah hari keempat aku keluar dari Hospital Wings."
"Tapi wajahmu sedikit merah, Mary.."
"Itu karena-"
"Wajahnya memerah karena kau selalu menyentuh wajahnya seperti itu, Remus! Masa begitu saja kau tidak tahu?" Potong Marlene sebal sendiri, sampai kapan kedua remaja itu tidak peka satu sama lain?
"Tapi wajah Mary juga memerah saat aku menyentuhnya, McKinnon." Sirius tersenyum tipis, "Apakah itu juga berarti sesuatu?"
"Oh, I don't know, apa artinya itu Mary?"
"Wajahku memerah karena aku malu..! Kalian semua memegang wajahku seakan aku adalah anak kecil, bagaimana mungkin aku tidak malu..?!" Sergah Mary menggembungkan pipinya, apa-apaan teman-temannya ini.
Kalau wajahnya yang memerah karena Remus sih sudah jelas, tapi karena Sirius? Mary sendiri pun tidak tahu kenapa ia merasa perhatian Sirius terlalu berlebihan untuknya. Ada rasa nyaman yang berbeda untuk sahabatnya itu.
Percakapan mereka terinterupsi oleh Slughorn yang datang menghampiri meja Gryffindor. Professor itu mendatangi Lily terlebih dahulu dan memberikan sebuah amplop yang familiar. Lalu Slughorn memberikan amplop yang sama pada Mary dan memintanya mengusahakan diri untuk datang.
"Kau bisa mengajak seseorang, siapapun itu, Mary!" Ucap Slughorn antusias.
"I'll think about it, sir. Thanks for the invitation..!" Balas Mary tersenyum paksa, oh sungguh, dia tidak tertarik.
"Great, I'll see you around!"
Segera setelah Slughorn pergi, The Marauders mulai melemparkan banyak pertanyaan tentang surat yang adalah undangan itu.
"Kenapa hanya kalian yang dapat?" Tanya James menatap Lily dan Mary bergantian.
"Kami siswi terbaiknya, of course." Balas Lily memasukkan amplop undangan ke dalam saku jubahnya.
"Oh kadang aku lupa soal itu. But you know what? Aku akan dengan senang hati menjadi partnermu, Evans."
"And you know what? Keep dreaming, Potter. Keep dreaming."
Seisi ruangan tertawa mendengar penolakan Lily yang kesekian kalinya, James ikut tertawa dan tidak sedikitpun merasa sakit hati akan penolakan itu. Ya, dia sudah terbiasa. Lagipula Lily tidak sekasar seperti di awal sekarang.
•••
"Aku tidak akan bisa ikut ke pesta itu, Lily. Apa kau sudah menemukan seseorang untuk diajak?"
"Wait, what? Kenapa kau tidak bisa?"
Mary melihat keluar jendela kamarnya, bulan hampir membulat sempurna, kurang 2 hari lagi dan bulan purnama akan terlihat diatas sana. Tepat saat pesta Slug Club di adakan di ruang kerja Slughorn.
"Aku punya.. Hal lain untuk dilakukan." Balas Mary kembali terfokus pada buku catatan harian di tangan.
"Hal lain untuk dilakukan?" Alis Lily terangkat, ini bukan pertama kalinya Mary 'memiliki hal untuk dilakukan malam-malam'. Sebelumnya Mary sudah sering menghilang sore hari dan keesokan harinya Lily dan Marlene akan menemukannya di ranjangnya tertidur pulas seakan ia tidak menghilang kemarin sore.
"Oh probably sneak out with the Marauders, right?" Sindir Marlene menunjukkan smirknya.
"Yeah, menghabiskan waktu dengan Remus terdengar jauh lebih menyenangkan daripada Slug Club." Jawab Mary setengah bercanda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Mr. Wolf
Fiksi PenggemarTimeline sebelum Dear Frederick, menceritakan kehidupan Marianne Rose Brosvett di Hogwarts dan kisahnya dengan Remus Lupin. ... "Jika reinkarnasi benar-benar ada, kau ingin terlahir sebagai apa Remmy?" "Aku ingin menjadi apapun selain manusia ser...
