49: They Cross The Line

294 43 0
                                        

"Professor McGonagall memberi tugas yang cukup sulit!"

"Marlene, dia hanya memberi tugas menulis essay resume apa yang sudah kita pelajari semester ini."

"Yeah tapi aku tidak punya waktu!"

Lily dan Mary bertukar pandang, sekarang malah Marlene yang uring-uringan dan kelihatan kurang tidur. Sebenarnya tidak kurang sih, tapi bagi Marlene sendiri waktu rebahan dan tidur siangnya berkurang karena latihan Quidditch.

"Jika mau memenangkan pertandingan pertamamu besok, kami akan membantumu dengan senang hati." Ujar Lily membuat kedua mata Marlene berbinar.

"You're serious, Lily?"

"Of course, kami bahkan akan menunjukkan hasil pekerjaan kami. Right, Mary?"

"Absolutely, Lily." Sahut Mary setuju.

Marlene melompat girang, "I really love you guys! Aku pasti akan memenangkan pertandingan besok!"

Suara para ular hijau yang sedang bergerombol terdengar dari tempat ketiga gadis Gryffindor tahun kelima berpijak, Mary memperhatikan ekspresi Lily yang terlihat agak sedih. Dia menceritakan Snape yang pertemanannya makin dekat dengan Evan Rosier, Wilkes, Mulciber, Avery dan Regulus Black. Adik Sirius itu juga bergabung dengan grup orang menyebalkan Slytherin, meskipun dia jadi satu-satunya pendiam.

"Dia membatasi dirinya denganmu?" Tanya Mary menepuk pundak Lily pelan, dibalas dengan gelengan lemah.

"Aku yang membatasi diri dengannya, dia tidak ingin menjauh dari Rosier, Mulciber dan Wilkes. Dia tidak mendengar saat kukatakan dia terpengaruh ideologi mereka."

"I think it's better for you to have a distance with him, jika teman-temannya lihat kau dan dia belajar bersama lagi, itu akan buruk untuk kalian berdua, Lily."

Lily mengangguk mengerti, berusaha melupakan kenangannya beberapa hari lalu, ia mendengar sendiri pembicaraan Rosier, Avery, Mulciber dan Wilkes yang tidak jauh-jauh dari penghinaan pada orang-orang sepertinya, Muggleborn. Tapi Snape tidak menentang mereka dan hanya menyetujui apa yang mereka katakan.

"Aku senang kalian berdua selalu menemaniku, terimakasih. Mungkin ini pertama kalinya aku merasa kehilangan teman.."

Marlene berhenti melangkah, menepuk kedua pundak temannya. "Are we talking about Severus Snape?"

"Mh-hm.. Why?"

Jari Marlene menunjuk ke arah pohon di dekat Black Lake, dimana para Marauders sedang mengganggu seorang siswa Slytherin berambut hitam panjang.

"Expelliarmus!" James melucuti tongkat Snape membuatnya tidak bisa membalas James lagi. Putra semata wayang keluarga Potter itu sendiri tidak mengerti kenapa dia sangat membenci Snape akhir-akhir ini, apalagi melihat Lily Evans terlihat nyaman bersama seseorang seperti Snape dibanding dirinya.

"Nice one James!"

"Levicorpus!" Kali ini James mengangkat Snape terbalik dengan mantra Levicorpus.

"It's Severus! We should help him..!"

"Oh, not again brother..." Gumam Mary langsung berlari bersama Lily dan Marlene menghampiri mereka.

"James! Stop it!"

"Potter! Leave him alone!"

"Are you guys crazy? Stop it!" Marlene segera mengusir setiap siswa yang menonton pembullyan itu.

"Apakah kalian ingin melihatku melepas celana ular licik ini? Bagaimana Evans? Mau lihat?" Bukannya berhenti, James terlihat semakin menikmati mengganggu Snape karena Lily menyuruhnya berhenti.

Hi Mr. Wolf Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang