62: Pandora

333 46 0
                                        

Setiap harinya kasus penyerangan muggle-born dan beberapa petinggi Wizarding World meningkat, dan pelakunya sudah jelas. Death Eaters. Mereka berkeliaran di kegelapan, ditengah malam dimana cahaya bulan tertutup oleh awan. Menyerang kemudian menghilang bagai hantu, dibawah perintah tuannya.

"Kau harus berhenti membaca majalah bodoh itu, you're wasting your money, sweetheart."

Lagi-lagi, Sirius berhasil mengambil majalah TheWizardNews dari tangannya dan membuangnya tepat di perapian yang sedang menyala. Membiarkannya terbakar hangus. Ya, dia masih tidak membiarkan Mary membaca hal-hal buruk seperti Death Eaters.

"Untuk apa ayahku memberi warisan kalau bukan untuk dihabiskan?"

"Untuk menikmati hidup daripada membaca cerita bodoh yang hanya akan membuatmu semakin ketakutan."

"Tapi aku tidak takut, Sirius." Helaan nafas mewakili seluruh hatinya, Mary kembali merilekskan tubuhnya dan bersandar pada punggung sofa.

"Kau harus membiarkannya membaca berita itu sesekali, Pads." Ucap Remus yang masih berkutat dengan perkamen di tangannya, menulis Essay miliknya sendiri sekaligus milik Mary.

"Dan membuatnya bermimpi buruk di malam hari, Moony? No thanks."

"Dia tidak akan bermimpi buruk hanya karena membaca beberapa berita. Tidak semua hal yang mereka tulis adalah bohong, you know that."

"Yeah maybe you're right, kurasa kita yang akan bermimpi buruk karena Prongs kembali menyusun puisi-puisi cinta karena Lily akhirnya memberinya waktu untuk mengobrol." Balas Sirius memutar bola matanya malas.

"That's horrible." Timpal Peter kembali mengisi teka teki silang di koran.

Sepertinya Lily mulai membuka pintu hatinya untuk James, meskipun ia masih mengatakan tidak pada ajakan kencan James, tapi si ginger tidak lagi hanya diam ketika James mengajaknya mengobrol.

Itu sudah perkembangan besar meskipun Lily beralasan dia melakukannya untuk 'memanusiakan manusia'. Ini juga alasan kenapa James tidak terlihat di Common Room sore ini bersama Marauders lainnya, karena ia mengekori Lily dan Marlene ke perpustakaan. Mengesankan.

"Beberapa orang membicarakan soon-to-be death eaters, kau sudah dengar?" Remus mengembalikan topik tadi.

"Hell yeah, and I know that my little brother will be on the list."

"Rosier, Wilkes and Avery will be on that list too."

Mary berdecak kesal mendengar trio Slytherin jahanam itu disebut, baru-baru ini Evan dan Avery mencoba mensabotase kualinya di kelas ramuan. Menyebabkan kualinya meledak untuk pertama kalinya. "Kuharap mereka sibuk mempersiapkan diri untuk open recruitment death eaters agar berhenti mengganggu kita."

"Easy Mary! Kau masih dendam pada mereka soal ramuanmu?" Sahut Sirius terkekeh.

"Of course I do!"

Berbeda dengan Sirius yang tertawa, Remus justru terlihat tidak senang, ia menatap Mary serius. "Don't say that, Mary. Aku tahu kau tidak benar-benar ingin mereka bertiga jadi bagian mereka."

"But they're annoying as hell, Remmy.."

"I know, but don't say something like that again, okay?"

Mary menghela nafas panjang dan mengangguk pasrah, Remus selalu tahu dia tidak pernah bisa setega itu. Tidak bisa bahkan pada si sialan Evan Rosier.

Lalu ia memperhatikan keluar jendela, belum sepenuhnya gelap, matahari sedang dalam proses tenggelam. Waktu yang tepat menyaksikan keindahannya di pinggir Black Lake.

Hi Mr. Wolf Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang