25: James Soft Side

356 56 0
                                        

"Jangan terlalu memikirkan itu, sejak kapan kau percaya ramalan?"

James, bocah berkacamata itu melemparkan permen di sakunya pada Mary. Berusaha menyadarkan temannya dari lamunan yang menurutnya tidak penting.

Mary, di sisi lain masih memikirkan mimpi aneh yang hingga kini tidak diketahui orang lain. Ditambah ucapan Professor pada kelas ramalan beberapa minggu lalu. Wanita itu hanya bilang bahwa apa yang ia lihat berarti 'Perpindahan Jiwa', tidak ada penjelasan lain tentang itu.

"Aku tidak mempercayainya, James. Aku hanya penasaran apa artinya."

"You know, terkadang sesuatu yang kau lihat tidak berarti harus dipahami. Terkadang kau hanya perlu menikmatinya. Seperti permen ini, kau tidak harus mengerti bagaimana dan kenapa permen ini diciptakan kan? Kau hanya perlu menikmatinya." James kembali melempar sebuah permen dari saku seragam Quidditch-nya dan kali ini Mary berhasil menangkapnya.

"Ucapanmu berbanding terbalik dengan ucapan Lily. Menurutmu siapa yang harus aku percaya?"

"You like me more than you like her, tentu saja kau harus mempercayaiku."

Mary tertawa kecil, James selalu saja punya cara menghiburnya, seimbang dengan bagaimana bocah berkacamata itu selalu punya cara untuk mengganggunya bersama Sirius.

Bungkus permen dibuka dan Mary memasukkan benda kecil manis itu kedalam mulutnya. "Thanks, James. But you're wrong, aku lebih menyukai Lily daripada dirimu."

James menunjukkan cengiran khasnya, bocah berkacamata itu mengarahkan sapunya ke tribun tempat Mary duduk. Dia turun dari sapunya dengan melompat - hampir membuat barisan kursi itu roboh- dan duduk di samping Mary.

"Kenapa kau duduk disini?" Tanya Mary bingung, James malah bergabung dengan dirinya daripada memperhatikan teman-temannya yang lain berlatih.

"Because I can, dan kau tidak melarangku, iya kan?"

"Aku tahu itu, James. Tapi seharusnya kau memperhatikan teman-temanmu yang lain berlatih juga."

James malah menyandarkan diri ke kursi belakangnya, seakan terhanyut oleh isi pikirannya sendiri. Mungkin ini pertama kalinya Mary melihat seorang James Potter setenang ini.

"Hanya kau yang datang untuk melihat kami berlatih hari ini." Ucap James tanpa senyum, maksud ucapannya tidak bisa diketahui.

"Remus masih diobati oleh Poppy dan Peter- Well, I don't know where's him. Sirius ada disana berlatih bersama yang lain. Siapa yang kau tunggu?" Tanya Mary tidak mengerti.

"Maksudku bukan begitu, Mary. You know I have a lot of friends, dan terkadang aku harap mereka semua benar-benar peduli padaku. Bukan pada nama keluargaku atau kemenanganku."

"And..?"

James tersenyum pahit, menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak ada yang memperhatikan bagaimana aku berlatih atau mencoba, mereka semua hanya memperhatikan saat aku berada diatas sana dengan sapuku.

Jika aku mencetak poin untuk Gryffindor, mereka semua akan memperhatikanku, memberi selamat seakan mereka adalah orang yang melihat setiap prosesku. Dan jika aku kalah, mereka akan menyayangkan nama keluargaku. Melihatku dengan tatapan menjijikkan paling tidak aku sukai, tatapan seakan aku adalah sebuah kegagalan."

Mary tertegun sejenak, memahami betapa dalamnya kalimat James barusan. Ingin sekali Mary menyangkalnya, tapi itu adalah fakta yang tidak bisa disangkal tanpa bukti nyata. Mary tidak terpikirkan balasan bagus apapun karena ia tidak sepenuhnya mengerti bagaimana rasanya di posisi James.

Gadis itu hanya bisa berkedip beberapa kali didepan James, "But I'm not like that.." Balasnya polos, membuat James kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Pfft..Hahaha.. Yes.. Yes, of course..! You're not like that, Mary. Sekarang aku mengerti maksud Sirius dan Remus.."

"What's with them?"

"Kau melihatku sebagai diriku, bukan seperti kebanyakan orang melihatku atau bahkan seperti diriku sendiri melihatku." Jelas James memukul lengan Mary sekali dan kembali memegang Broomsticknya.

Sebelum James menaiki Broomstick dan melanjutkan latihan, Mary menepuk pundak kawannya itu lalu mengucapkan kalimat yang mungkin akan mengubah perspektif James tentang hidupnya.

"Hey, you know what? Aku hanya melihat dan memikirkan sesuatu yang penting bagiku. Sesuatu yang memang aku miliki. Teman, keluarga dan diriku sendiri..

James, kita tidak punya banyak waktu luang untuk membuat semua orang peduli pada kita, jadi berhenti memikirkan orang lain yang tidak memperdulikanmu dan fokuslah pada dirimu sendiri. Bermainlah untuk dirimu sendiri dan saat kau menang itu akan menjadi hadiah bagimu, bukan alat untuk mendapatkan perhatian orang lain."

"Bagaimana saat aku kalah?"

"Oh come on, kekalahan bukanlah akhir dari dunia. Kau hanya belum berkesempatan untuk menang. Jika ada yang menatapmu dengan tatapan seperti itu lagi, tunjukkan dua jari tengahmu dan katakan 'fuck off'. Be the James I know, jangan biarkan tindakan orang lain yang mempengaruhimu, buatlah tindakan yang akan mempengaruhi orang lain. Sama seperti yang telah kau lakukan selama ini." Lanjut Mary tersenyum tulus, termasuk bagian menunjukkan jari tengah, rasanya seperti sedang meminta James menjadi dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain.

Lagi-lagi James tersenyum hangat, senyum tulus yang penuh perhatian, bukan senyum jahil yang biasanya ia tunjukkan. Mary benar-benar seperti seorang saudara perempuan untuknya, ia benar-benar mengenali James padahal mereka baru berteman 2 tahun. Jika platonic soulmate benar-benar ada, maka orang itu adalah Mary bagi James.

"You know what, Mary? I swear, aku akan meminta kedua orang tuaku mengadopsimu jika kau mau."

"Thanks, tapi minta saja mereka mengadopsi Sirius. I still have a father who love me the most."

"Fine then, tapi berjanjilah jika aku menang melawan Slytherin besok, kau harus membuat kue untukku!"

Mary mengangguk senang, "Tapi jika kau kalah, kau harus mengajariku cara terbang cepat."

James setuju lalu kembali menaiki sapunya dan terbang ke atas, melambaikan tangannya riang pada gadis yang masih tetap memperhatikan dan menyemangatinya berlatih.

"Good luck, James!"







Hi Mr. Wolf Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang