Hi Mr. Wolf
Aku sedang bersiap-siap untuk berpatroli denganmu. Lily sedang demam tinggi karena kelelahan belajar dan ini adalah pertama kalinya aku berpatroli berdua denganmu di dalam kastil. Akhir-akhir ini kita jarang berbincang karena aku masih marah kepada James dan Sirius- aku tidak tahu kenapa Sirius bersikap aneh akhir-akhir ini. Morgana juga selalu menempel kepadamu, aku minta maaf tapi itu menyebalkan, Remus.
Jika aku bertanya sesuatu tentang Morgana Stebbins apakah kau akan menjawabnya dengan jujur? Karena aku semakin takut perasaanku akan merusak apa yang telah kita jaga bertahun-tahun lamanya. Waktu itu kau bilang aku yang menjauh darimu adalah hukuman terberat bagimu, Rem. Tapi bagiku, melihatmu berdua dengan Stebbins adalah penyiksaan.
"Dia terlalu memaksakan diri." Ujar Marlene membawakan segelas air dari luar dan meletakannya diatas rak Lily.
"Jika sampai besok dia belum sembuh, sebaiknya kita bawa dia ke Poppy Pomfrey." Mary menatap Lily nanar, sahabatnya itu terlalu keras pada dirinya sendiri akhir-akhir ini, untuk melupakan hal-hal yang membuatnya sakit hati dia belajar terus menerus hingga kelelahan dan demam, "I will go out now, tetap ada yang harus berpatroli malam ini."
"Yeah, don't worry, biar aku yang menjaganya malam ini bersama Alice. Hati-hati, badai petirnya sangat menakutkan."
Sudut bibir Mary sedikit terangkat, ia mengangguk pelan, kembali mengenakan jubah dan lencana prefeknya. Melangkahkan kaki keluar asrama ketika sudah lewat jam malam, dengan kondisi petir menyambar tanpa henti diluar sana.
"Mary."
Sebuah panggilan dengan suara yang familiar terdengar dari belakang, membuat si gadis berambut coklat reflek menoleh, "Bagaimana dengan teman-temanmu, Remmy?"
"Mereka akan baik-baik saja, I hope so. Mau berjalan bersama?"
"Jika Morgana tidak keberatan, boleh juga."
Great, dia sudah menyindir terang-terangan.
Remus menggeleng cepat, kenapa lagi-lagi Stebbins? Pikir serigala muda tidak senang ia selalu di sangkut pautkan dengan Stebbins hanya karena sang kakak kelas menyukainya, "Dia bukan siapa-siapa, Mary."
Mary berjalan lagi, membiarkan Remus menyamai langkahnya di Koridor gelap yang sesekali cerah karena kilatan petir. "Itu karena kau tidak segera menjadikannya pacarmu, I bet she really want you to ask her that, Remmy. Kau sudah membaca semua novelku, kan?"
"Almost all of them, Romeo and Julia and your favourite Jack and Rose."
"Kalau begitu kau sudah tahu apa artinya cinta?"
Remus terdiam dengan langkah yang tiba-tiba berhenti, "Mary."
"Why are you stopping?" Tanya gadis itu heran.
"Jika cinta adalah yang membuat Romeo dan Julia mengambil nyawanya sendiri, aku tidak menginginkan yang seperti itu.."
"Pfftt.. Hahahaha.." Mary tertawa kecil, tawa yang sudah lama sekali tidak didengar Remus dan ia menyukainya, sangat.
"Is that funny?"
"You're funny.. Remus, cinta tidak membuat mereka mengambil nyawanya sendiri."
Binar terlihat di kedua mata Remus memperhatikan senyum gadis didepannya, ia maju satu langkah, kali ini berhadapan dengan gadis yang selalu ia kagumi. "Lalu kenapa mereka bunuh diri setelah melihat pasangannya mati?"
"Keduanya tidak bisa hidup tanpa satu sama lain, menurut Romeo, Julia adalah nyawanya dan hidupnya. Dan begitu pula Julia terhadap Romeo.."
"Lalu?"
"Jika sesuatu yang kau anggap nyawa dan hidupmu tidak lagi ada didunia ini, sekeras apapun kau mencoba untuk hidup, kau akan tetap merasa mati."
Penjelasan Mary membuat Remus menghela nafas panjang dan menggeleng pelan, tidak ingin memiliki kisah setragis Romeo dan Julia. Meskipun kini ia mengerti kenapa keduanya bunuh diri di akhir cerita.
Werewolf muda itu menarik beberapa helai rambut Mary yang kini terlihat semakin bagus setelah dipotong sedikit. Memainkannya sama seperti yang selalu ia lakukan dulu, menatap sang teman dengan tatapan yang tidak bisa dipungkiri penuh dengan perhatian.
"Aku mengerti, tapi aku tetap tidak suka."
"Kau lebih menyukai Jack and Rose?"
Remus kembali menggeleng, "Rose tetap melanjutkan hidupnya dan bahkan menikah setelah Jack mati untuknya, apakah itu artinya dia tidak benar-benar mencintai Jack?"
Keduanya kembali melangkahkan kaki perlahan di Koridor Hogwarts, tidak menyalakan lampu dan membiarkan insting menuntun mereka berdua kemanapun langkah membawa.
"Rose terlalu mencintai Jack sehingga ia sangat menghargai pengorbanan Jack untuknya. Di hari Jack tiada, di hari itu juga Rose pasti merasa mati.." Mary diam-diam merasa sendu mengingat kisah yang sangat tragis itu, "Tapi Jack yang telah membuatnya tetap bernafas, jantung Rose yang berdegup adalah salah satu hadiah terakhir dari Jack."
"Jadi dia tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan Jack?"
"Exactly.. Lihat, kau sudah mengerti apa itu cinta, Remus." Mary terkekeh dan sedikit berjinjit untuk mengacak-acak rambut Remus membuat wajah remaja laki-laki itu memerah bagai tomat rebus.
"Meskipun aku mengerti mereka melakukan itu demi cinta, aku tetap tidak menginginkan cinta yang seperti itu Mary. That's tragic."
"Of course, aku juga tidak ingin memiliki kisah seperti itu. Tapi jika memang harus memilih, aku ingin menjadi Jack yang berkorban untuk orang yang aku cintai.."
Remus memutar bola matanya, "Kau tidak boleh terus menerus berkorban untuk orang lain." Gantian dia yang mengacak-acak rambut Mary.
"Untuk orang yang aku cintai, aku tidak akan pernah menyesal. I'm sure about that."
"Why don't we make our version?"
Alis Mary terangkat naik, "Our version?"
"Our version of love story." Jawab Remus dengan senyuman tulus, dia tidak bercanda, Mary selalu tahu kapan Remus bercanda dan kapan dia serius.
Tapi apakah apa yang ia pikirkan sama dengan yang Remus pikirkan ataukah ia salah paham? Si gadis berambut coklat terdiam seketika, tiba-tiba mengingat salah satu ucapan Lily di Prefect Bathroom beberapa waktu lalu.
"..I think he never see you as a sister or even just a friend, Mary."
Mary menggeleng cepat, mengusir semua pikiran anehnya yang ia tahu hanya akan menyakitinya jika ia salah paham. "Lalu kisah cinta seperti apa yang kau inginkan, Rem?"
"Kisah cinta dengan akhir yang bahagia, Mary. Just an usual love story, dimana dua orang akhirnya menyadari mereka saling mencintai, berkencan, menikah lalu membuat sebuah keluarga kecil yang bahagia."
Remus tersenyum getir, jika menurut orang lain keinginan itu tidak muluk-muluk, tapi berbeda untuk dirinya. Justru kisah biasa seperti itu adalah hal yang tidak mungkin untuk Remus. Namun memiliki sedikit harapan adalah hal yang bagus kan? Ia mungkin sudah menemukan orang yang ia cintai, Remus tahu dia akan menjaganya bagai satu-satunya harta yang ia miliki.
Tapi sekalipun hartanya terus berada di sisinya, dia tidak boleh egois dan menahannya jika suatu hari nanti ada orang yang lebih tepat yang ingin memilikinya. Yap, meskipun Remus sadar dia akan sangat protektif dan tidak membiarkan hartanya jatuh ke tangan orang yang salah.
"That's a beautiful love story."
"Yeah, tapi terlalu biasa kan?"
"Itu adalah kisah cinta yang setiap orang inginkan, Remmy." Mary hanya bisa tersenyum, menyembunyikan dalam-dalam rasa penasaran dilubuk hatinya.
Is that our version of love story about you and me?
"Kau juga menginginkan kisah cinta yang seperti itu, Mary?"
"Of course, everyone wants a happy ending with the one their love."
Remus tersenyum dan mengangguk, "Kalau begitu ayo buat kisah kita berakhir bahagia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Mr. Wolf
FanfictionTimeline sebelum Dear Frederick, menceritakan kehidupan Marianne Rose Brosvett di Hogwarts dan kisahnya dengan Remus Lupin. ... "Jika reinkarnasi benar-benar ada, kau ingin terlahir sebagai apa Remmy?" "Aku ingin menjadi apapun selain manusia ser...
